Suara Denpasar - PSS Sleman tiba-tiba menggemparkan para suporter bola Liga Indonesia. Pasalnya, terdapat sebuah kabar mengejutkan mengenai isu match fixing yang dilakukan salah satu klub Liga 2 di tahun 2018.
Melansir dari Instagram @transferliga2, Satgas Antimafia Bola Polri akhirnya menetapkan dua terangsa di kasus pengaturan skor di Liga 2 2018.
Irjen Asep Edi Suheri selaku Kepala Satgas Antimafia Bola Polri tersebut memaparkan bahwa dua tersangka tersebut memberi suap ke wasit,
"Adapun motif tersangka DR melakukan penyuapan adalah untuk memenangkan Klub Y agar dapat masuk atau maju ke Liga 1," ucap Asep.
"Iya, dalam beberapa pertandingan memang klub Y ini menang. Kecuali 1 (pertandingan yang kalah), dan naik untuk ke Liga 1. Kalau nggak salah, dari 8 (pertandingan) itu 1 yang kalah. Tapi dari 7 (pertandingan) itu menang semua," imbuhnya.
Yang mengejutkan adalah penuturan Asep Edi bahwa klub yang terlibat match fixing tersebut ternyata masih bermain di Liga 1 2023/2024. Klub tersebut mengeluarkan uang mencapai Rp800 juta untuk bisa promosi ke Liga 1.
Kolom komentar Instagram itu pun dipenuhi suporter yang menduga bahwa klub yang dimaksud adalah PSS Sleman. Hal itu karena menurut netizen, PSS Sleman menjadi satu-satunya klub dari promosi tersebut yang masih bermain di Liga 1.
"Pantesan sekarang PSS terseok2 naik ke Liga 1 nya jalur nyogok soalnya," tulis akun @ervansaputra13.
"Pantesss PSS dulu pas lawan Persijap dikasih pinalti goib menit akhir," tulis akun @kholid_syeif.
Meski demikian, hingga kini belum ada rilis resmi mengenai apakah benar klub yang dimaksud adalah PSS Sleman. (*/Dinda)