Depok.suara.com - GKR Wandasari atau Gusti Moeng yang merupakan Ketua Lembaga Adat Keraton Solo menunjukan kondisi bangunan di dalam Keraton Solo yang mulai rusak. Dirinya juga sempat memperlihatkan bagian dalam keraton yang pada hari Sabtu sempat dibobol pencuri.
Dilihat dari unggahan Berita Surakarta, beberapa bangunan Keraton Solo memang sudah tidak layak pakai. Bahkan beberapa sudah roboh baik pintu hingga atapnya.
Menurut dari Adik sinihun PB XIII ini pihaknya sudah menghadap Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka sejak setengah tahun lalu. Tetapi pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Solo belum menanggapi permintaan mereka.
"Kalau dianggap ada tiga sisi harusnya ditanyain gitu. Tapi di sisi sini gak ditanya, pastinya tidak akan rampung. Bisa menimbang dan melihat yang akan menguntungkan untuk kerjasama yang mana," jelas Gusti Moeng.
Gibran sendiri menyatakan bahwa pihaknya tetap bisa diajak untuk komunikasi. Menurutnya bila visi keraton sesuai dengan Pemkot akan jauh lebih baik.
Dirinya pun mengaku hanya menunggu instruksi dari pihak keraton. Hal ini lantaran yang memiliki bangunan tersebut adalah pihak keraton.
"Saya juga nunggu. Yang punya aset kan beliau-beliau di sana. Intinya saya siap membantu," tegas Putra Sulung Presiden Jokowi ini.
Gibran menegaskan bahwa dirinya siap membantu. Bahkan beberapa kali dirinya telah datang ke Keraton Solo bersama para kementerian terkait.
"Sudah ada beberapa menteri yang kesana. Saya ajak masuk ke dalem Keraton Solo sampai ke belakang semua," jelasnya.
Baca Juga: KPK Geledah Gedung DPRD Jatim Terkait Kasus Suap Sahat Tua Simanjuntak
Dirinya mengungkapkan Pemkot Solo bersedia untuk merevitalisasi bangunan dalam keraton. Apalagi bangunan tersebut menyimpan sejarah Solo itu sendiri.
Gibran juga tidak memaksa agar Keraton Solo untuk membuka wilayahnya untuk publik. Dirinya menyadari banyak ruangan yang memang terlarang untuk dimasuki.
"Kalau mau dibuka publik seneng. Kalau gak ya gak papa. Mau dikasih tarif silahkan. Gratis juga bagus," Jelasnya.
"Tidak semua wilayah keraton bisa diakses publik. Kita perlu menjaga kesakralan. Kan yang penting event-event kebudayaan bisa berjalan," pungkasnya.