Mengenang Sitor Situmorang, Sastrawan Angkatan 45 Terakhir

Tomi Tresnady

Minggu, 21 Desember 2014 | 14:52 WIB
Mengenang Sitor Situmorang, Sastrawan Angkatan 45 Terakhir
Sitor Situmorang. [Facebook @sitorsitumorang]

Suara.com - Kabar duka tiba di Indonesia, Minggu pagi, saat penulis dan sejarawan JJ Rizal mengunggah kabar meninggalnya salah seorang sastrawan besar Indonesia Sitor Situmorang di usia 91 tahun di Belanda.

"Saya memang sangat dekat dengan Sitor dan saya merasa sangat sedih. Dia adalah sastrawan besar Indonesia dari angkatan 45 (1945) yang terakhir," kata Rizal dalam wawancara melalui telepon.

Sitor Situmorang sangat dikenal melalui karyanya berjudul Malam Lebaran. Lahir di Harianboho, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, pada 2 Oktober 1923 dan tutup usia pada 21 Desember 2014 di rumahnya di Apeldoom, Belanda.

Menurut Rizal, sosok Sitor Situmorang sangat penting dalam kebudayaan Indonesia karena pemikiran dan karya-karyanya yang mewakili sastrawan sezamannya. Sitor tidak pernah membedakan Barat dan Timur seperti sastrawan angkatan 45 yang lain, tetapi justru membuktikan melalui karyanya bahwa Barat dan Timur tidak berjarak.

Sebagai generasi yang lahir pada masa revolusi, Sitor adalah orang yang sadar betul bahwa sastra tidak akan bisa dipisahkan dari politik dan persoalan bangsa. "Ia tidak mengalami keterbelahan," katanya.

Rizal meneliti karya-larya Sitor dan sudah membukukan enam judul buku hasil penelitian itu. Ia mengatakan, bila berbicara mengenai kebudayaan Indonesia tidak mungkin bisa mengabaikan nama Sitor Situmorang dan Pramoedya Ananta Toer.

Ia menyesalkan politik pemerintahan di Indonesia, khususnya ketika masa Orde Baru yang telah dengan sengaja meniadakan nama beberapa sastrawan Indonesia, antara lain Sitor Situmorang karena dianggap berhaluan kiri.

Sitor Situmorang pernah menjadi wartawan di berbagai harian di Sumatra dan juga pegawai di Jawatan Kebudayaan Departemen P & K serta menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) mewakili kalangan seniman.

Ia dipenjarakan pada masa pemerintahan Orde Baru sebagai tahanan politik sejak 1967 sampai 1974. Orang boleh suka atau tidak suka tetapi Sitor adalah tonggak sastra dan politik Indonesia, seperti "batu tapal" yang bisa menjadi penanda perjalanan sastra dan politik Indonesia, kata sastrawan Martin Aleida.

Martin melihat bahwa dalam berkarya Sitor sangat terlihat setia, tulus membela bangsa dan tanah airnya. "Bagi Sitor negeri itu ada tiga, Tanah Batak tempat ia dilahirkan, Indonesia sebagai negaranya dan Belanda yang menjadi kampung halaman kedua pada masa tuanya," ujar Martin.

Karya-karya Sitor, menurutnya, mudah dipahami, memakai pilihan kata yang kuat dan bukan hanya puitik tetapi juga musikal. "Indah, misalnya ketika ia menulis tentang Danau Toba," katanya.

Dalam bukunya berjudul "Toba Na sae" Sitor mengkritik penulis-penulis Barat yang sering mengatakan bahwa Orang Batak suka perang hanya dengan melihat di halaman rumah Batak sering ada tumpukan batu.

"Sitor adalah pengagum Bung Karno yang setia, baik ketika masa dia berjaya maupun pada saat runtuh. Sitor juga romantis seperti Soekarno," kata Martin yang pernah mempunyai pengalaman menarik saat menjadi moderator dalam suatu peluncuran buku di Jakarta.

Sitor menjadi salah seorang pembahas dan dia sempat "ngambek" karena ada tamu yang ngobrol terus, sehingga Sitor berdiri dan berniat meninggalkan ruang. "Saya berhasil membujuk dan menenangkan Sitor, dan akhirnya dia beruntung karena Megawati yang memberi kata sambutan pada acara itu kemudian memberinya kenang-kenangan berharga," kata Martin dengan tawa menceritakan peristiwa itu.

JJ Rizal yang masih menyelesaikan dua buku lain tentang Sitor. Ia mengagumi sosok budayawan yang menurutnya sangat lincah berberak di panggung seni drama, film, menulis puisi dan cerpen. Sitor juga menulis banyak esai dan kritik seni sejak tahun 1970-an ketika orang lain belum banyak melakukannya. "Dia sangat produktif dan yang penting lagi, karyanya berkualitas, mempunyai kekayaan referensi, penguasaan landskap dan terutama mengenai pemakaian bahasa Indonesia." 

Menurutnya, Sitor, putra seorang panglima perang asal Batak pada masa kolonial itu, meninggalkan warisan budaya yang sangat kaya bagi Indonesia. Karya Sitor berjudul "Pasar Senen" termasuk salah satu yang disukai Rizal.

"Banyak karyanya yang saya sukai dengan catatan-catatan alasannya sehingga sulit untuk menentukan satu atau dua judul yang paling saya sukai," kata Rizal yang sedang mencari cara menerbitkan kumpulan esai Sitor Situmorang setebal 2.000 halaman.

"Penyair besar telah pergi dan tidak kembali. Kita ingat puisinya yang bikin gempar, 'Malam Lebaran, Bulan di atas Kuburan'. Penyair Toba yang perkasa," kata budayawan M. Sobary ketika mendengar kabar duka kematiannya.

Puisi Karya Sitor Berikut ini karya Sitor mengenai makam berjudul "Batu Nisan" berbicara soal kematian dan karya lain berjudul "Apa yang tak Dapat Kau Hancurkan", dikutip dari kumpulan buku puisi berjudul "Paris La Nuit", Forum Jakarta Paris, penerbit Komunitas Bambu, 2002. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Terkini

Satu Pelaku Curas di Bekasi Ditangkap, Polisi Dalami Keterkaitan dengan 12 Kasus Lain

Satu Pelaku Curas di Bekasi Ditangkap, Polisi Dalami Keterkaitan dengan 12 Kasus Lain

Jabar | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:16 WIB

Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat

Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat

Jogja | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 23:04 WIB

Jalan Ambles Banjarwangi-Singajaya Sepanjang 15 Meter, Polisi Pasang Garis Pengaman

Jalan Ambles Banjarwangi-Singajaya Sepanjang 15 Meter, Polisi Pasang Garis Pengaman

Jabar | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:59 WIB

Kemasan Bekas Jangan Langsung Dibuang, Mulai Biasakan Mengelolanya dengan Benar

Kemasan Bekas Jangan Langsung Dibuang, Mulai Biasakan Mengelolanya dengan Benar

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:25 WIB

Dear Pemain Keturunan Indonesia di Jerman dan Spanyol, Siap-siap Dipanggil PSSI

Dear Pemain Keturunan Indonesia di Jerman dan Spanyol, Siap-siap Dipanggil PSSI

Bola | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 22:00 WIB

Tafsir Kerugian Negara Bikin Investor Waswas, Direksi BUMN Bisa Jadi Korban

Tafsir Kerugian Negara Bikin Investor Waswas, Direksi BUMN Bisa Jadi Korban

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:59 WIB

Tak Mau Turun Kasta, BEI Pede Indonesia Selamat dari Ancaman MSCI

Tak Mau Turun Kasta, BEI Pede Indonesia Selamat dari Ancaman MSCI

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:35 WIB

Ramai Dikritik Soal Acara Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad Buka Suara

Ramai Dikritik Soal Acara Deklarasi Sumpah Pemuda, Raffi Ahmad Buka Suara

Video | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:30 WIB

In This Economy, Jadi Tentara Bayaran Rusia Diimingi Gaji Selangit Pulang Tinggal Nama

In This Economy, Jadi Tentara Bayaran Rusia Diimingi Gaji Selangit Pulang Tinggal Nama

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:00 WIB

Ketika Nonton Film Bareng Jadi Cara Baru Membangun Kedekatan di Dunia Kerja

Ketika Nonton Film Bareng Jadi Cara Baru Membangun Kedekatan di Dunia Kerja

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 20:47 WIB

×