"Itu beneran salib di dinding," komentar netizen lainnya.
"Itu ada tanda salip kok?" tambah yang lain.
Beberapa netizen menganggap hal itu wajar dan tidak mempengaruhi agama Jaja Miharja.
"RS Katholik pasti ada salib nya dong," komentar netizen.
"Cukup dalam hati aja bang, berarti RS nya non muslim, mau jadi negara maju harusnya udah gak perlu lagi mempertanyakan simbol-simbol seperti itu, cukup dalam hati, yang di depan pintu ada tulisan arabnya juga cukup dalam hati berarti ini muslim, gitu aja," komentar netizen.
"Suma rumah sakit kristen yang benar-benar merawat bro, jadi gak usah kepanasan kalo ente kurang suka ente berobat di rumah sakit palestina saja," sindir netizen lain yang mempermasalahkan tanda salib itu.
Seperti diketahui, Jaja dirawat di Rumah Sakit St. Carolus, Jakarta
Lalu apa agama Jaja Miharja?
Pria asli Betawi itu diketahui menganut agama Islam sejak lahir.
Dia pun diketahui sudah menjalankan ibadah haji meski tak diketahui pasti tahunnya.
Di beberapa kesempatan, pria kelahiran 1 November 1941 ini suka mengenakan peci hitam.
Terlepas dari agama, Jaja Miharja sudah mengawali karier di dunia entertainment sejak tahun 1965.
Fan fact-nya, sebelum terjun ke dunia hiburan, dia pernah penjadi pengamen di tukang obat.
Hingga akhirnya dia pada 1965 membentuk grup Orkes Melayu.
Sepanjang kariernya sebagai penyanyi, dia sudah memiliki tiga album yakni Putus Cinta (1984), Cinta Sabun Mandi (1987) dan Apaan Tuh (1996).
Selain penyanyi, Jaja kemudian merambah ke dunia akting dengan film pertamanya adalah Manusia Terakhir pada 1973.
Sampai sekarang sudah banyak judul film dan sinetron yang dibintanginya.
Di usianya yang sudah senja, dia pun masih dipecaya untuk memerankan karakter tertentu.
Film paling terbarunya yakni pada 2024 yakni Si Juki the Movie: Harta Pulau Monyet, dan Hello Ghost (2023).
Dia kemudian dikenal sebagai pembawa acara kuis dangdut pada 1994 yang sangat ikonik.
Beragam penghargaan untuk Jaja Miharja juga sudah diraih sebagai seorang entertainer sejati.
Itu tadi sekilas tentang profil Jaja Miharja.
Kontributor : Tinwarotul Fatonah