- Fokus cerita adalah hukuman fatal bagi pelaku bullying dan persekutuan ayah korban, Pak Makmur (Fedi Nuril), dengan Jin Qorin untuk menuntut balas.
- Aksi Fedi Nuril yang tampil "bengis" dan dingin sebagai Makmur merupakan daya tarik utama dan transformasi yang sangat menonjol dari peran-peran sebelumnya.
- Meskipun alur cerita solid di awal, akhir film (ending) cenderung antiklimaks dan meninggalkan rasa getir karena penggambaran Jaya yang melanjutkan siklus dendam.
Suara.com - Setelah sukses menakuti lebih dari 1,3 juta penonton pada tahun 2022, teror doppelganger kembali menghantui bioskop lewat film Qorin 2.
Film hasil kolaborasi IDN Pictures dan Rapi Films ini dijadwalkan tayang serentak mulai besok, Kamis, 11 Desember 2025.
Digarap kembali oleh duet sutradara Ginanti Rona dan penulis skenario Lele Laila, sekuel ini tidak lagi berlatar asrama putri, melainkan membedah sisi gelap kehidupan sosial di sebuah desa terpencil.
Namun, Qorin 2 bukan sekadar film horor yang mengandalkan jump scare. Film ini hadir sebagai tamparan keras bagi realitas perundungan dengan balutan mistis yang mencekam.
Berikut adalah ulasan lengkap (review) film Qorin 2.
Premis Cerita: Bukan Sekadar Hantu, Tapi Konsekuensi Dosa
Berbeda dengan film horor pada umumnya, naskah garapan Lele Laila, yang kualitasnya sudah tak perlu diragukan lagi, kali ini mengambil sudut pandang yang unik.
Fokus cerita tidak hanya mengekspos bagaimana perundungan dilakukan atau penderitaan korban semata, melainkan menyoroti hukuman kejam dan risiko fatal yang mengintai para pelaku bullying.
Cerita berpusat pada Pak Makmur (Fedi Nuril), seorang tukang sampah yang hidup pas-pasan.
Hatinya hancur ketika mengetahui anak semata wayangnya, Jaya (Ali Fikry), menjadi korban perundungan brutal di sekolah oleh Darma (Gilang Devialdy), anak seorang pejabat desa, dan teman-temannya.
Ketika hukum manusia tumpul ke atas, Makmur memilih jalan pintas, yakni bersekutu dengan Jin Qorin untuk menuntut balas.
Konsep Qorin dalam film ini juga dieksplorasi lebih dalam dan menjadi hal baru yang menarik. Penonton disuguhkan visual di mana seseorang bisa terlihat "hidup" dan berinteraksi, padahal raga aslinya sudah tiada atau dikendalikan sepenuhnya oleh jin yang menjelma.
Transformasi Fedi Nuril: Dari Pria Alim Jadi "Psikopat" Dingin
Poin paling mentereng dalam film ini adalah transformasi total Fedi Nuril. Lupakan imej yang lembut, penyayang, atau lekat dengan peran suami poligami yang sabar, di Qorin 2, aktor 43 tahun ini tampil luar biasa bengis.
Dia berhasil menghidupkan karakter Makmur yang dipenuhi amarah, dendam kesumat, dan keputusasaan.
Fedi mampu menampilkan wajah dingin tanpa ekspresi saat menghabisi musuh-musuh anaknya seraya dirasuki jin, demi ingin melihat orang lain binasa. Aktingnya yang jauh dari zona nyaman ini menjadi nyawa utama film.
Aktor Muda Curi Perhatian
Selain Fedi, jajaran pemain muda juga memberikan kesegaran tersendiri untuk memerankan anak sekolah, baik sebagai pelaku maupun korban, terasa sangat pas.
Ali Fikry (Jaya), Muzakki Ramdhan (Rizal), Gilang Devialdy (Darma), hingga Quentin Stanislavski (Wahyu), menunjukkan kualitas akting yang mumpuni.
Chemistry permusuhan di antara mereka terbangun natural, membuat penonton ikut merasakan ketegangan dan rasa frustrasi yang dialami karakter remaja di lingkungan yang tidak aman.
Ending yang Membelah Opini
Meski paruh awal hingga pertengahan film berjalan sangat solid dengan tensi tinggi, bagian akhir cerita mungkin akan memicu perdebatan. Bagi sebagian penonton, penyelesaian konflik terasa sedikit antiklimaks.
Karakter Makmur, yang digambarkan begitu kuat dan menakutkan sepanjang film, justru tampak terlalu mudah dilumpuhkan saat jati dirinya terbongkar.
Selain itu, nasib karakter Jaya di penghujung film juga meninggalkan rasa getir.
Bukannya bertaubat atau menemukan kedamaian, Jaya justru digambarkan melanjutkan siklus dendam tersebut. Sebuah keputusan naratif yang berani, namun mungkin kurang memuaskan bagi penonton yang mengharapkan ending positif.
Terlepas dari catatan pada bagian ending, Qorin 2 adalah tontonan horor yang "berisi". Keberaniannya mengangkat tema sensitif dan memberikan contoh hukuman sadis bagi pelaku bullying layak diacungi jempol.
Film ini juga menjadi momen perpisahan yang haru, mengingat adanya penampilan tribute untuk mendiang aktor senior Epy Kusnandar yang turut ambil peran dalam film ini.
Bagi kamu yang penasaran melihat Fedi Nuril mode "pembunuh berdarah dingin", Qorin 2 patut masuk daftar tontonan akhir pekan ini.