- Mengangkat kisah nyata Frank Abagnale Jr., seorang remaja yang berhasil memalsukan identitas menjadi pilot hingga dokter demi menipu jutaan dolar sambil diburu agen FBI.
- Film ini disutradarai Steven Spielberg hanya dalam 52 hari, menampilkan cameo Frank asli, dan diiringi musik jazz ikonik karya John Williams.
- Meski dirilis tahun 2002, film ini tetap relevan di tahun 2026 karena kekuatan narasi, akting autentik, serta eksplorasi mendalam tentang hubungan keluarga dan identitas.
Suara.com - Bagi para penggemar sinema bertema kriminal dan pengejaran detektif, nama Catch Me If You Can tentu sudah tidak asing lagi.
Meskipun telah dirilis lebih dari dua dekade lalu, tepatnya pada tahun 2002, film ini tetap menjadi primadona di platform streaming seperti Netflix.
Menggabungkan unsur drama yang menyentuh dengan komedi yang cerdas, film ini merupakan bukti kepiawaian Steven Spielberg dalam meramu cerita biografi menjadi tontonan yang sangat menghibur bagi audiens berusia 18-45 tahun di kota-kota besar Indonesia.
Film ini bukan sekadar cerita tentang pencurian uang, melainkan sebuah studi karakter tentang kesepian, identitas, dan rapuhnya sebuah keluarga.
Dengan visual estetik khas tahun 1960-an, penonton diajak mengikuti perjalanan hidup seorang remaja yang mampu mengguncang otoritas Amerika Serikat hanya dengan bermodalkan kertas, tinta, dan keberanian yang luar biasa.
Sinopsis: Pelarian Sang Remaja Jenius
Catch Me If You Can bercerita tentang kisah nyata Frank Abagnale Jr., seorang remaja jenius yang menjadi penipu ulung di tahun 1960-an. Ia menyamar sebagai pilot Pan Am, dokter, dan pengacara sambil menguangkan cek palsu senilai jutaan dolar.
Kejahatan Frank diendus hingga akhirnya diburu oleh agen FBI Carl Hanratty. Frank kemudian bertemann dengan Carl usai ia membantu FBI menangkap penipu lain.
Segalanya bermula dari trauma masa kecil Frank Abagnale Jr. (diperankan oleh Leonardo DiCaprio). Ketika kehidupan rumah tangganya hancur akibat perceraian orangtua, Frank memilih untuk melarikan diri dari rumah.
Baca Juga: Sinopsis dan Fakta Menarik The Spy di Netflix: Kisah Nyata Eli Cohen, Agen Mossad Paling Legendaris
Dalam keputusasaannya, Frank menyadari bahwa dunia lebih mudah dihadapi jika ia menjadi orang lain. Dengan pesona yang memikat dan kecerdasan di atas rata-rata, Frank mulai memalsukan identitasnya.
Ia berhasil meyakinkan banyak orang bahwa ia adalah seorang pilot maskapai ternama Pan Am, seorang dokter kepala di sebuah rumah sakit, hingga menjadi pengacara paroki. Di setiap penyamarannya, Frank selalu berhasil mencairkan cek palsu yang nilainya mencapai jutaan dolar.
Langkahnya mulai terendus oleh Carl Hanratty (Tom Hanks), seorang agen FBI yang kaku dan juga berdedikasi. Pengejaran lintas negara ini pun menjadi inti dari narasi film yang penuh dengan ketegangan sekaligus momen humor yang segar.
Fakta Menarik: Antara Fakta Sejarah dan Dramatisasi Film
Salah satu daya tarik utama dari Catch Me If You Can adalah klaimnya sebagai kisah nyata. Namun, seperti banyak film biografi lainnya, ada ruang abu-abu antara realita dan kebutuhan hiburan. Berikut adalah beberapa fakta menarik yang perlu diketahui:
1. Keaslian Cerita yang Masih Menjadi Misteri
Hingga saat ini, banyak pihak yang mempertanyakan sejauh mana kebenaran dari klaim Frank Abagnale Jr. Namun, kebenaran ceritanya, hingga tahun 2020-an, masih banyak diperdebatkan oleh para jurnalis investigasi.
Beberapa laporan terbaru menunjukkan bahwa banyak dari petualangan Frank yang diceritakan dalam buku dan film mungkin merupakan hasil bumbu cerita atau hiperbola. Meski demikian, hal ini tidak mengurangi nilai artistik film tersebut sebagai sebuah drama kriminal yang brilian.
2. Cameo Sang Tokoh Asli
Frank Abagnale Jr. yang asli sebenarnya muncul di dalam film ini sebagai pemeran pembantu. Jika Anda memperhatikan adegan penangkapan Frank di Prancis, Anda akan melihat seorang polisi Prancis berkumis yang ikut menangkap Leonardo DiCaprio. Itulah Frank Abagnale Jr. di kehidupan nyata.
3. Proses Syuting yang Sangat Efisien
Meski memiliki durasi lebih dari dua jam dan berpindah-pindah lokasi di 147 tempat berbeda di Amerika Utara, Steven Spielberg berhasil merampungkan syuting film ini hanya dalam waktu 52 hari. Kecepatan ini menunjukkan efisiensi luar biasa dari seorang sutradara berpengalaman.
4. Musik Ikonik John Williams
Untuk mendukung nuansa tahun 60-an yang kental, John Williams menggubah skor musik yang kental dengan nuansa jazz. Musik pembukanya yang menggunakan teknik grafis progresif dianggap sebagai salah satu pembukaan film terbaik dalam sejarah sinema, yang langsung membawa penonton ke dalam atmosfer detektif klasik.
5. Tema Hubungan Ayah dan Anak
Spielberg sering kali memasukkan tema keluarga yang retak dalam film-filmnya. Dalam film ini, ia secara mendalam mengeksplorasi bagaimana Frank melakukan segala penipuan itu bukan semata-mata karena uang, tetapi demi mengembalikan martabat ayahnya dan menyatukan kembali kedua orang tuanya yang telah bercerai.
Mengapa Masih Layak Ditonton di 2026?
Di tengah gempuran film-film pahlawan super dan aksi yang dipenuhi CGI, Catch Me If You Can menawarkan kekuatan narasi dan akting yang autentik.
Bagi penonton muda (Gen Z dan Milenial) di Indonesia, film ini memberikan gambaran tentang bagaimana dunia perbankan dan identitas bekerja sebelum era digital.
Selain itu, dinamika antara pengejar (Carl Hanratty) dan yang dikejar (Frank Abagnale Jr.) yang berubah dari musuh menjadi hubungan semacam ayah-anak memberikan kedalaman emosional yang jarang ditemukan di film kriminal biasa.
Tersedia di Netflix, film ini menjadi opsi sempurna bagi mereka yang ingin menonton sesuatu yang ringan namun tetap cerdas.