- Novel mega best seller Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati akan diadaptasi menjadi film oleh Sinergi Pictures dan Ben Film.
- Proses syuting film ini dijadwalkan akan dimulai pada bulan April tahun 2026 mendatang.
- Adaptasi ini akan disutradarai oleh Kuntz Agus, dengan naskah ditulis oleh Alim Sudio.
Suara.com - "Hidup ternyata bukanlah perlombaan. Tidak masalah jika langkahmu melambat dan tak secepat orang lain."
Kutipan penuh makna dari Brian Khrisna ini sebentar lagi tidak hanya bisa kita baca, tapi juga kita saksikan di layar bioskop.
Novel mega best seller bertajuk Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati resmi dikonfirmasi akan diadaptasi menjadi film layar lebar.
Proyek ambisius ini merupakan hasil kolaborasi apik antara dua rumah produksi, Sinergi Pictures dan Ben Film, yang dijadwalkan memulai proses syuting pada April 2026 mendatang.
Film ini akan membawa penonton menyelami kehidupan Ale, seorang pria yang merasa telah mencapai titik nadir dalam hidupnya.
Di ambang keputusasaan, Ale memutuskan untuk mengakhiri segalanya. Namun, ia memiliki satu permintaan terakhir yang sederhana: menyantap seporsi mie ayam.
Siapa sangka, rencana "perpisahan" itu justru berantakan karena warung mie ayam tujuannya tutup.
Penundaan yang tampak sepele ini ternyata menjadi pintu pembuka bagi serangkaian pertemuan tak terduga yang perlahan mengubah cara pandang Ale terhadap kehidupan.
Sebuah pengingat lembut bahwa terkadang, harapan justru muncul dari hal-hal yang paling tidak kita sangka.
Baca Juga: Tergiur Gaji Rp50 Juta, 3 Komika Jadi Tumbal Pesugihan di Film Warung Pocong
Tidak tanggung-tanggung, adaptasi ini melibatkan nama-nama besar di industri film tanah air.
Kursi sutradara akan ditempati oleh Kuntz Agus, sosok di balik kesuksesan Dear Nathan: Thank You Salma.
Kekuatan cerita akan semakin tajam dengan naskah yang ditulis oleh Alim Sudio (Miracle In Cell No. 7, dan Kang Mak), serta sentuhan Nia Dinata (Arisan!, dan Berbagi Suami) yang bertindak sebagai konsultan skenario.
Kombinasi ini menjanjikan sebuah film yang tidak hanya kuat secara visual, tetapi juga memiliki kedalaman emosi yang terjaga.
Keputusan untuk memfilmkan novel ini bukanlah tanpa alasan. Karya Brian Khrisna ini telah menjadi fenomena literasi di Indonesia dengan status mega best seller yang kini memasuki cetakan ke-100.
Tak hanya merajai pasar lokal, kisah Ale juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang, membuktikan bahwa pesan moral di dalamnya bersifat universal.