Suara.com - Sejak menit-menit awal Bridgerton Season 4 Part 1 diputar, saya langsung tahu bahwa musim ini ingin membawa penonton kembali ke akar emosional seri ini.
Kisah cinta yang berdenyut pelan, penuh tatapan tertahan, dan konflik yang tidak selalu meledak-ledak, tetapi mengendap.
Dengan delapan episode yang dibagi dua, bagian awal ini terasa seperti undangan perlahan, bukan ledakan.
Dan jujur saja, sebagai pembaca novelnya, saya cukup menikmatinya… meski tidak tanpa catatan.
Pesona Benedict yang Tidak Bisa Ditepis

Benedict Bridgerton selalu menyebut dirinya cadangan karena anak kedua, dan Season 4 akhirnya benar-benar menguliti posisi itu.
Dia masih menolak dorongan Violet Bridgerton untuk menetap, memilih hidup sebagai pria berjiwa yang berpindah dari satu kesenangan ke kesenangan lain.
Namun segalanya berubah di pesta topeng megah yang diselenggarakan sang ibu, sebuah adegan pembuka yang secara visual sangat memanjakan mata.
Pertemuan Benedict dengan Lady in Silver adalah momen dongeng klasik bak kisah Cinderella. Singkat, magis, dan meninggalkan luka kerinduan.
Baca Juga: Lisa BLACKPINK Syuting Film Extraction: Tygo di Tangerang, Pintu Air 10 Bakal Mendunia
Saya suka bagaimana serial ini tidak terburu-buru menjadikan Benedict pahlawan romantis instan.
Dia tetap canggung, sedikit berantakan, dan kadang terasa lelah sebagai karakter, sebuah pilihan yang menurut saya berani.
Namun pesona Benedict sebagai fokus utama dari musim terbaru Bridgerton kali ini sunggu tidak bisa ditepis.
Luke Thompson memerankan Benedict sebagai pria yang terjebak antara fantasi dan realita, dan di situlah konflik emosionalnya bekerja.
Sophie Baek, Karakter yang Sulit Tidak Dicintai

Jika harus menunjuk satu alasan mengapa Part 1 ini tetap terasa hidup, jawabannya adalah Sophie Baek.