Kritik semakin menguat karena Prilly dinilai memiliki safety net finansial kuat saat menggunakan simbol yang identik dengan keterdesakan ekonomi.
Sebagian warganet merasa Prilly seolah "bermain peran" sebagai pencari kerja, sementara jutaan orang benar-benar berjuang bertahan hidup.
Popularitas Prilly membuatnya dengan mudah memperoleh puluhan ribu peluang, berbeda dengan pencari kerja umum yang menghadapi sistem seleksi ketat.
Kondisi ini dianggap mempertegas ketimpangan pasar kerja, di mana nama besar dan koneksi sering kali mengalahkan kualifikasi teknis.
Kontroversi ini mencuat di tengah maraknya PHK massal dan tingginya angka pengangguran Indonesia awal 2026, sehingga memicu luka sosial kolektif.
Kontributor : Chusnul Chotimah