Suara.com - Munculnya video pengakuan emosional dari Denada terkait hubungannya dengan Ressa Rizky Rossano bahwa pemuda itu adalah anak kanduny, tak lantas membuat masalah selesai.
Denada memang banyak mendapatkan dukungan dari rekan artis, tetapi video tersebut justru memicu kecurigaan dari rekan sesama publik figur, Andi Soraya.
Melalui unggahan terbarunya, Andi memberikan analisis tajam terhadap motif di balik permohonan maaf tersebut, yang dia nilai memiliki kejanggalan secara emosional maupun substansi.
Andi Soraya mengaku telah menyimak dengan saksama video yang diunggah Denada pada Senin, 2 Februari 2026.
Hal pertama yang menjadi sorotan Andi adalah kondisi fisik Denada yang tampak sangat terpukul.
"Yes, aku udah nonton video pengakuan dia yang tadi pagi kan yang dia sudah minta maaf sama anaknya, dia minta maaf sama mendiang ibunya. Tapi lu notice enggak matanya itu enggak bengkak kayak habis nangis," kata Andi Soraya.
Namun, artis 49 tahun i ni tidak serta-merta percaya bahwa tangisan itu murni karena penyesalan.
Dia mempertanyakan apakah ada tekanan dari pihak industri atau ketakutan akan kehilangan pekerjaan yang memicu reaksi tersebut.
Baca Juga: Bantah Hidup Hedon, Ressa Tak Punya TV dan Kulkas
"Kenapa lu, Den? Habis marahin produser takut diboikot. Apa lu nyesal karena ketahuan ya. Mudah-mudahan sih lu nyesal benar-benar nyesal ya, bukan karena tekanan publik ataupun nyaman ke karir," ucapnya dengan nada curiga.
Kritik paling keras yang dilayangkan Andi Soraya adalah mengenai sosok Ratih.
Menurutnya, permohonan maaf Denada terasa sangat pincang karena tidak menyebutkan nama orang yang paling berjasa dalam menjaga darah dagingnya sendiri.
"Tapi yang gue bingung adalah dari awal sampai akhir kagak ada tuh gue dengar dia minta maaf sama Ibu Ratih dan keluarganya. Ada apa yang Bu Ratih? Susah banget. Minta maaf sama Bu Ratih. Eh dia yang udah besarin anak lu. Udah jagain anak lu. Kenapa kagak ada beli minta maaf?" imbuh Andi mempertanyakan.
Andi Soraya menilai bahwa permintaan maaf kepada anak dan mendiang ibu adalah hal yang wajar. Namun mengabaikan orang yang masih hidup dan telah berkorban banyak adalah sebuah kesalahan besar.
Dia mengharapkan adanya etika minimalis, meskipun itu hanya sekadar formalitas.