Selain Jerman, dia juga belajar khusus Bahasa Swahili (Tanzania) karena mendapatkan pengantin dari negara tersebut.
Dia mengaku mempelajari bahasa-bahasa tersebut untuk memberikan sapaan dan pelayanan yang lebih personal kepada keluarga pengantin warga negara asing (WNA) yang dilayani.
Sebagai penghulu, dia terus berupaya meningkatkan kompetensinya agar dapat memberikan layanan yang profesional, inklusif, dan adaptif terhadap tren pernikahan campuran di wilayah perkotaan.
Aksinya mendapat pujian langsung dari Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Syafi'i, yang menyebutnya sebagai inspirasi bagi penghulu modern di Indonesia agar lebih adaptif di era global.
Kontributor : Tinwarotul Fatonah