- Musisi hip-hop Sundanis, yang viral berkat jargon "EGP" di tahun 2025, akan rilis single baru "Bad Mood" akhir Februari.
- Sundanis menolak terjebak popularitas instan dengan merilis lagu yang jujur, ditulis cepat menangkap emosi murni.
- Single "Bad Mood" menampilkan kolaborasi dengan model Uiendha untuk memperluas spektrum emosi personal dalam karyanya.
Suara.com - Masih ingat dengan tawa ikonik dan jargon "EGP" (Emang Gue Pikirin) yang sempat merajai jagat media sosial?
Fenomena itu melambungkan nama Sundanis, musisi hip-hop asal Bandung, ke puncak viralitas.
Namun, bagi Sundanis, tawa saja tidak cukup untuk membangun sebuah legasi di industri musik.
Menjawab tantangan tersebut, Sundanis kini bersiap memasuki babak baru dalam kariernya.
Ia segera merilis single terbaru bertajuk "Bad Mood" pada akhir Februari ini.
![Setelah sukses dengan lagu "EGP", Sundanis kembali merilis single terbaru berjudul "Bad Mood". [Instagram]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/02/24/35496-sundanis.jpg)
Sebuah karya yang lahir dari kejujuran, sekaligus pembuktian bahwa dirinya bukan sekadar musisi "instan" hasil algoritma.
Setelah kesuksesan besar "EGP" di tahun 2025, Sundanis tak menampik adanya beban berat di pundaknya.
Publik seolah menuntutnya untuk mengulang formula yang sama demi mempertahankan popularitas.
Namun, alih-alih terjebak dalam zona nyaman, ia memilih jalan yang lebih berisiko namun memuaskan: kejujuran dalam berkarya.
"Aku menyadari, tawa viral saja enggak cukup untuk menjaga karier musik dalam jangka panjang," kata musisi yang sudah memulai debutnya sejak 2007 ini.
Dalam proses kreatif "Bad Mood", Sundanis kembali ke akarnya. Ia menulis lirik dan notasi secara spontan.
![Setelah sukses dengan lagu "EGP", Sundanis kembali merilis single terbaru berjudul "Bad Mood". [Instagram]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/02/24/69516-sundanis.jpg)
Hebatnya, lagu ini rampung hanya dalam hitungan jam.
Kecepatan ini bukan berarti asal-asalan, melainkan buah dari insting dan pengalaman panjangnya di dunia hip-hop.
Bagi Sundanis, proses yang cepat justru menangkap kemurnian emosi tanpa terlalu banyak polesan yang dibuat-buat.
Ada yang berbeda dalam single kali ini. Sundanis merasa "Bad Mood" membutuhkan sentuhan perspektif perempuan agar emosi yang disampaikan lebih berwarna.