Suara.com - Film Yohanna karya Razka Robby Ertanto sebenarnya datang dengan niat yang terasa sangat mulia, bahkan nyaris terlalu mulia untuk ukuran sebuah film.
Mengangkat kisah seorang biarawati muda yang dikirim ke pelosok Sumba demi misi kemanusiaan, lalu dipaksa berhadapan dengan realitas sosial yang keras, film ini seperti ingin berkata, "Ini loh, kenyataan di luar sana."
Sayangnya, dalam proses menyampaikannya, ada kesan bahwa film ini lebih sibuk mengingatkan penonton bahwa dia penting, ketimbang benar-benar membuat penonton merasakannya.
Dibintangi Laura Basuki, ekspektasi terhadap Yohanna jelas tidak kecil. Apalagi dengan premis tentang krisis iman, tema yang, kalau digarap dengan tepat, bisa sangat menghantam secara emosional.
Namun yang terjadi di layar justru terasa seperti potongan-potongan pemikiran yang belum sepenuhnya selesai dirangkai.
Ide Berat tapi Penyampaiannya Ringan

Ada banyak hal besar yang ingin dibicarakan film ini, mulai dari eksploitasi anak, ketidakadilan sosial, hingga pergulatan iman yang kompleks.
Secara konsep, semuanya terdengar seperti bahan diskusi panjang yang tak berujung setelah film selesai.
Ironisnya, saat menonton, justru muncul pertanyaan sederhana, "Ini sebenarnya mau fokus ke mana?"
Pendekatan non-linear yang digunakan tampaknya dimaksudkan untuk memberi kedalaman. Namun hasilnya lebih sering terasa seperti menyusun puzzle tanpa gambar contoh.
Potongan adegan datang dan pergi, tetapi tidak selalu memberikan dampak yang cukup untuk membangun emosi.
Alih-alih terasa reflektif, narasi yang dibawa oleh Yohanna justru cenderung membuat penonton sibuk mengejar alur.
Emosi yang Hanya Numpang Lewat

Film ini sebenarnya punya banyak momen yang seharusnya kuat. Pertemuan dengan anak-anak korban eksploitasi, konflik batin Yohanna, hingga dilema moral yang dia hadapi, semuanya punya potensi untuk menyentuh.
Namun, banyak dari momen tersebut terasa seperti lewat begitu saja, seolah film ini sedang terburu-buru mencapai sesuatu yang bahkan tidak terlalu jelas bentuknya.