- Empat siswa kelas 5 SD berinisiatif meminta izin kepada guru mereka untuk menunaikan ibadah salat di dalam ruangan kelas saat jam istirahat.
- Sang guru merasa sangat takjub dan terharu melihat sinkronisasi gerakan serta keseriusan para murid dalam beribadah tanpa pengawasan orang dewasa.
- Momen emosional ini menjadi viral karena menggambarkan keindahan keberagaman dan rasa bangga seorang tenaga pendidik terhadap keteguhan iman muridnya.
Suara.com - Jagad media sosial kembali dihangatkan oleh sebuah kisah menyentuh hati yang datang dari seorang tenaga pendidik berkebangsaan asing.
Sebuah pengakuan jujur dari seorang guru perempuan bule mendadak viral setelah ia membagikan pengalaman emosionalnya saat menyaksikan murid-muridnya menjalankan ibadah salat.
Momen tersebut menjadi sorotan tajam karena menggambarkan sisi lain dari kedisiplinan spiritual anak-anak di tengah lingkungan sekolah.
Kejadian yang berlangsung di tengah suasana bulan suci Ramadan ini tidak hanya menyentuh perasaan sang guru secara pribadi, tetapi juga memicu gelombang simpati dari masyarakat luas. Hanya saja tak diketahui secara pasti di mana momen itu terjadi.
Di dalam video, seperti dilansir Selasa, 24 Februari 2026, sang guru menceritakan bagaimana kepolosan dan ketulusan anak-anak kelas 5 SD mampu meruntuhkan pertahanan emosionalnya hingga ia tak kuasa membendung air mata.
Peristiwa haru ini terjadi saat jam istirahat sekolah, di mana sebagian besar siswa biasanya menghabiskan waktu untuk bersantai atau menyantap makan siang.
Namun, bagi sekelompok murid muslim di sekolah tersebut, waktu istirahat adalah kesempatan untuk menunaikan kewajiban ibadah salat, terlebih di bulan Ramadan yang penuh berkah.
"Aku sedang berada di kelas virtualku bersama murid-muridku, mereka sedang keluar untuk pergi makan siang," katanya si guru memulai cerita.
Tak lama kemudian, ia mendengar suara ribut di luar kelas. Si guru lantas keluar untuk melihat apa yang terjadi.
"Mereka murid kelas 5. Mereka bilang 'kami sedang mencari tempat untuk beribadah'", katanya.
"Ini bulan ramadan dan meraka muslim. Mereka mengamalkan iman Islamnya. Mereka butuh tempat untuk beribadah. Mereka bilang kepadaku 'apakah boleh salat di ruanganku," ujarnya lagi.
Permintaan sederhana namun mendalam dari murid-muridnya tersebut langsung dikabulkan. Sang guru memberikan izin bagi keempat muridnya untuk menggunakan ruang kelas atau ruang kerjanya sebagai tempat beribadah.
Setelah mendapatkan izin, keempat murid tersebut tidak membuang waktu. Tanpa pengawasan dan perintah dari orang dewasa, mereka segera mengatur barisan dan memulai ibadah dengan tingkat kekhusyukan yang luar biasa untuk anak seusia mereka.
Sang guru, yang tetap berada di mejanya, menyaksikan setiap detail gerakan tersebut dengan penuh takjub.
Bagi sang guru, apa yang ia lihat bukan sekadar ritual keagamaan biasa, melainkan sebuah harmoni yang sangat teratur dan artistik.