- Film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Doa merupakan prekuel yang berfokus pada sisi manusiawi dan perjalanan batin Suzzanna sebelum menjadi makhluk halus.
- Tim produksi melakukan riset serius di Jawa Timur untuk menampilkan berbagai jenis santet autentik berdasarkan filosofi dan budaya lokal.
- Film ini mengusung genre horor kolosal dengan meminimalkan CGI, menggunakan prostetik dari Belgia, hingga aksi berbahaya yang nyaris menenggelamkan Luna Maya.
Kinoi Lubis mengungkapkan bahwa film ini akan memperkenalkan berbagai jenis santet yang memiliki kekhasan berdasarkan daerah asalnya.
"Santet di sini enggak hanya satu. Mas Jujur riset ke Jawa Timur karena santet itu dikenal di sana. Santet Ponorogo itu beda dengan santet Banyuwangi. Cara kerjanya beda, mantranya beda," tutur sang sutradara.
"Ada yang menyerang jiwa, ada yang menghancurkan tubuh. Kita ingin memberikan edukasi bahwa ilmu sihir ini juga memiliki kaitan erat dengan culture atau budaya setempat," tambahnya.
Luna Maya menambahkan bahwa santet dalam film ini bukan sekadar alat untuk menakut-nakuti penonton, melainkan sebuah media yang menggerakkan karakter.
"Santet ini yang menggerakkan cerita dan karakter. Ada filosofi di balik kenapa orang sampai menyantet dan belajar santet. Ini membuat perjalanannya jadi bukan sekadar film horor biasa, tapi melihat perjalanan seseorang yang berada di situasi tertentu sehingga dia harus menempuh jalan dosa itu," ungkap aktris kelahiran Denpasar tersebut.
Totalitas Produksi: Dari Prostetik Belgia hingga Efek Praktikal
Dari sisi teknis, film produksi Soraya Intercine Films ini mengedepankan skala produksi "grande" atau besar.
Selain menggunakan ribuan pemeran pendukung untuk memperkuat kesan kolosal, tim produksi tetap setia pada penggunaan efek praktikal dibandingkan CGI untuk adegan-adegan ekstrem.
Luna Maya kembali harus merelakan wajahnya ditempeli prostetik selama berjam-jam. Pihak rumah produksi bahkan mendatangkan ahli prostetik dari Belgia, Alexander, untuk memastikan detail wajah Suzzanna tampak nyata.
"Rata-rata pemasangan memakan waktu empat sampai lima jam, tergantung tingkat kesulitan. Kalau jadi manusia itu justru lebih ribet karena detail pori-porinya harus dibuat satu-satu pakai alkohol," papar Luna.
"Kadang kena mata pedih, bau lemnya juga tajam. Pas dicopot sakit banget karena kulit jadi merah-merah, tapi hasilnya memang luar biasa detail," lanjut dia.
Reza Rahadian juga memuji komitmen Kinoi Lubis yang meminimalkan penggunaan layar hijau (green screen).
"Hampir kalian enggak menemukan green screen. Semuanya praktikal. Ada adegan binatang keluar dari telinga atau betis, itu pakai makeup palsu yang dibuat di lokasi. Bahkan adegan bola api melayang itu praktikal, sampai Luna sempat teriak karena panas beneran," kenang Reza.
Insiden Nyaris Tenggelam di Sungai
Syuting yang dilakukan di seluruh penjuru Pangandaran, Jawa Barat, menyisakan cerita menegangkan bagi Luna Maya. Dalam salah satu adegan kunci di sungai, Luna memutuskan untuk tidak menggunakan pemeran pengganti (stunt double), yang nyaris berujung fatal.