- Film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Doa merupakan prekuel yang berfokus pada sisi manusiawi dan perjalanan batin Suzzanna sebelum menjadi makhluk halus.
- Tim produksi melakukan riset serius di Jawa Timur untuk menampilkan berbagai jenis santet autentik berdasarkan filosofi dan budaya lokal.
- Film ini mengusung genre horor kolosal dengan meminimalkan CGI, menggunakan prostetik dari Belgia, hingga aksi berbahaya yang nyaris menenggelamkan Luna Maya.
Suara.com - Film ketiga dari semesta Suzzana yang bertajuk Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa siap meramaikan layar bioskop Tanah Air jelang Lebaran nanti.
Film yang dijadwalkan tayang serentak pada 18 Maret 2026 ini, menjanjikan pendekatan berbeda dengan mengusung genre horor kolosal yang lebih menonjolkan sisi humanis sang legenda.
Dalam sesi press junket yang digelar di Gondangdia, Jakarta Pusat, Rabu, 25 Februari 2026, tim produksi dan pemeran utama membedah kedalaman cerita hingga teknis pembuatan yang diklaim lebih masif.
Film ini melibatkan kolaborasi perdana antara Luna Maya dan Reza Rahadian dalam satu layar horor, di bawah arahan sutradara Azhar Kinoi Lubis.
Memanusiakan Suzzanna: Bukan Sekadar Hantu
Berbeda dengan film-film sebelumnya yang langsung menampilkan transformasi Suzzanna sebagai makhluk halus, Santet Dosa di Atas Doa berperan sebagai prekuel yang memotret sisi manusiawi karakter tersebut.
Fokus utamanya adalah perjalanan batin Suzzanna sebelum dia terjerumus dalam kegelapan.
Aktor Reza Rahadian, yang memerankan tokoh Pramuja, menyebut aspek ini sebagai daya tarik utama yang membuatnya bersedia bergabung.
"Kali ini berbicara memotret Suzzanna sebagai manusia. Bagaimana melihat Suzzanna tidak bertransformasi menjadi sosok makhluk tertentu, tapi menjadi manusia yang sedang mempelajari sesuatu untuk tujuan tertentu. Angle itu aja sudah menarik sekali," kata Reza Rahadian kepada awak media.
Sutradara Azhar Kinoi Lubis menambahkan bahwa Suzzanna dalam film ini diposisikan sebagai representasi perlawanan perempuan. dia membandingkan karakter ikonik ini dengan tokoh pahlawan super.
"Suzzanna ini seperti Wonder Woman. Setiap kita tonton filmnya dulu, dia adalah tokoh wanita yang dikasih pesan, ada pelecehan seksual, ada penindasan terhadap wanita, bagaimana dia menjadi korban. Aura itu yang ingin saya bangkitkan lagi. Dia perwakilan wanita Indonesia yang mau bicara, dia bangkit," beber Azhar Kinoi Lubis.
Judul "Dosa di Atas Dosa" sendiri merujuk pada konflik moral yang dialami para karakter. Produser dan penulis skenario mencoba menggambarkan bahwa dalam situasi tertindas, manusia bisa terjebak melakukan kesalahan fatal demi bertahan hidup.
Riset Budaya dan Berbagai Jenis Santet
Sesuai judulnya, elemen santet menjadi motor penggerak plot. Namun, tim produksi enggan menyajikan santet hanya sebagai bumbu teror visual.
Penulis skenario, Jujur Prananto, disebutkan melakukan riset mendalam selama berbulan-bulan di wilayah Jawa Timur untuk membedah anatomi ilmu hitam tersebut.