Suara.com - Dunia maya kembali dihebohkan dengan kabar mengenai harga bahan bakar minyak (BBM) yang sangat kontras dengan kondisi di tanah air.
Sebuah unggahan mengenai harga bensin di Iran yang diklaim hanya menyentuh angka Rp500 per liter mendadak viral dan menjadi perbincangan hangat di kalangan netizen Indonesia, terutama di kota-kota besar yang tengah merasakan dampak fluktuasi harga energi global.
Fenomena ini bermula dari pengalaman seorang traveler dengan akun Daeengg yang membagikan momen saat dirinya mengisi bahan bakar di Negeri para Mullah tersebut.
Dalam unggahannya yang kembali mencuat di tengah situasi ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, dia menunjukkan betapa murahnya biaya yang harus dikeluarkan untuk mengisi tangki kendaraannya.
"Ternyata memang benar setelah kita isi, kalau dirupiahkan per liternya hanya Rp500. Kita tadi isi full 12 liter hanya Rp6.000. Kalau di Indonesia seliter nggak dapet itu. Gokillah Iran, mantap," ungkapnya dalam postingan yang aslinya diunggah pada 12 September 2025 namun kembali viral saat ini.
Dia kembali menegaskan di captionnya jika memang harga bensin termurah ada di Iran.
"Bensin termurah di dunia ada di Iran," tulisnya.
Fakta ini memang bukan sekadar isapan jempol belaka karena berdasarkan data terbaru per Maret 2026, Iran secara konsisten menempati peringkat teratas sebagai negara dengan harga bensin termurah di dunia.
Jika dibandingkan dengan harga bensin subsidi di Indonesia seperti Pertalite yang saat ini berada di angka Rp10.000 per liter, perbedaan tersebut memang sangat mencolok.
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Picu Efek Domino: Waspada Inflasi Impor hingga ke Pedagang Kecil
Bayangkan saja, dengan uang Rp10.000 yang hanya cukup untuk membeli satu liter bensin di Jakarta, seorang pengendara di Iran bisa mendapatkan hingga 20 liter bensin.
Penyebab utama dari harga yang sangat miring ini adalah kekayaan alam Iran yang luar biasa.
Dari beberapa sumber, negara ini tercatat memiliki cadangan minyak terbesar ketiga di dunia dengan estimasi sekitar 208,6 miliar barel.
Kapasitas cadangan yang masif ini memungkinkan pemerintah Iran melakukan produksi domestik dengan biaya yang sangat rendah, sehingga mampu memberikan harga yang sangat terjangkau bagi penduduknya maupun wisatawan.
Namun, di balik harga yang tampak menyenangkan bagi konsumen tersebut, terdapat tantangan ekonomi yang besar bagi pemerintah setempat.
Kebijakan subsidi bensin yang sangat masif ini menjadi beban berat bagi anggaran negara Iran.