- Pasangan Zendhy Kusuma dan Evi Santi Rahayu kecewa penanganan hukum Polsek terhadap kasus restoran Bibi Kelinci tidak proporsional.
- Pasangan tersebut mengalami serangan personal dan hujatan masif secara digital yang berdampak buruk pada kesehatan mental.
- Mereka berharap keadilan ditegakkan setara dan kasus ini menjadi pelajaran tentang batasan berpendapat di media sosial.
Suara.com - Kasus Nabila O'Brien pemilik restoran Bibi Kelinci dengan gitaris Zendhy Kusuma dan istri, Evi Santi Rahayu mencuri perhatian luas dari netizen.
Meski kasus ini telah berakhir damai dan saling mencabut laporan di masing-masing pihak, rupanya masih ada sesuatu yang mengganjal yang dirasakan pasangan Zendhy Kusuma dan Evi Susanti Rahayu.
Melalui pernyataan resmi, Zendhy dan Evi mengungkapkan kekecewaannya terhadap proses hukum yang telah berjalan.
Zendhy menilai penanganan perkara di tingkat Polsek terasa tidak proporsional dan cenderung memojokkan mereka.
"Yang kami rasakan saat itu adalah tekanan yang sangat besar. Kami hanya menyampaikan pengalaman pribadi, tetapi justru harus menghadapi proses hukum. Kami merasa dikriminalisasi, padahal niat awal kami hanya menyampaikan apa yang kami alami sebagai konsumen," ujar Zendhy dengan nada getir.
Menurutnya, persoalan ini seharusnya tidak perlu sampai ke ranah pidana jika dilihat secara jernih sebagai dinamika antara konsumen dan pelaku usaha.
Dampak dari viralnya kasus ini tidak hanya berhenti di kantor polisi. Di ruang digital, Zendhy dan Evi mengaku menjadi target serangan personal yang masif.
Gelombang hujatan dan komentar negatif terus mengalir, menciptakan tekanan psikologis yang berat bagi keduanya.
Evi tak menampik bahwa situasi ini telah mengguncang kesehatan mentalnya.
Baca Juga: Anggota DPR Sebut Penetapan Tersangka Nabilah O'Brien Sebagai Preseden Buruk Hukum Indonesia
"Kami tidak menyangka situasinya akan berkembang sejauh ini. Komentar yang masuk sangat banyak dan bernada menyerang. Itu membuat kami merasa tertekan dan mengalami trauma secara emosional," ucap Evi.
Selain beban moral, reputasi dan nama baik mereka di masyarakat pun ikut tercoreng.
Zendhy menegaskan bahwa dampak dari polemik ini telah mengganggu kehidupan sehari-hari mereka di dunia nyata.
"Kami hanya meminta keadilan. Kami ingin didengar secara adil, bukan karena siapa yang lebih dikenal atau memiliki pengaruh lebih besar. Keadilan seharusnya ditegakkan secara setara bagi semua pihak," tutur Zendhy.
Kasus ini menjadi pengingat keras bagi publik mengenai fenomena cyberbullying dan batasan dalam berpendapat di media sosial.
Zendhy dan Evi berharap pengalaman pahit mereka bisa menjadi pelajaran agar masyarakat tidak mudah menghakimi seseorang di ruang digital.