Suara.com - Media sosial kembali dihebohkan dengan perdebatan mengenai standar upah Asisten Rumah Tangga (ART) di Indonesia.
Berawal dari unggahan akun Threads @mspnm_, sebuah lowongan kerja mencari ART menjadi viral karena menawarkan gaji hanya Rp1 juta per bulan.
Meski terlihat sebagai angka yang kecil di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok saat ini, lowongan ini memicu pro dan kontra yang sangat tajam di kalangan netizen.
Terutama bagi mereka yang berdomisili di kawasan penyangga ibu kota seperti Bogor dan Depok.
Dalam unggahannya, pemilik akun merinci tugas dan waktu kerja yang diharapkan dari calon pekerjanya.
"Saya cari ART. Gaji Rp1 juta. Jam kerja: jam 6 sampai jam 12 (Senin-Sabtu) Minggu dan tanggal merah libur. (Beberes semua termasuk masak). Daerah Ragajaya Citayam Bogor," tulis akun tersebut.
Penawaran ini langsung diserbu komentar pedas dari netizen yang menganggap nominal tersebut sama sekali tidak menghargai tenaga manusia, apalagi beban kerjanya mencakup masak dan membersihkan seluruh rumah.
Kritik tajam terus mengalir deras, di mana beberapa netizen melakukan perhitungan matematis untuk menunjukkan betapa rendahnya upah tersebut jika dibagi per hari.
"Kemurahan boss gaji Rp1 juta. Rp1 juta coba dibagi sehari, ada enggak Rp50 ribu? Pliss lah tolong hargai tenaga pembantu. Rp50 ribu sehari dapat apa coba untuk kebutuhan makan. Coba sebaliknya Anda di posisi pembantu mau enggak harga segitu?" komentar salah satu netizen dengan nada emosi
Bahkan, ada yang membandingkan penawaran tersebut dengan masa penjajahan Belanda, dengan menuliskan, "Gue bayar lu Rp2,5 juta jadi ART, DM sini. VOC aja enggak gitu-gitu amat."
Kalimat sindiran lain pun muncul menyerang sang pemberi kerja, seperti "Kalau masih kere nggak usah sok-sokan pakai pembantu."
Meski postingan asli tersebut kini telah hilang dari Threads, jejak digitalnya tetap abadi setelah diunggah ulang oleh akun Instagram partofus_id pada 8 April 2026.
Postingan tersebut kembali memancing diskusi publik mengenai berapa sebenarnya standar gaji ART yang ideal.
Menariknya, di tengah badai hujatan, muncul juga pihak yang memberikan pembelaan.