Suara.com - Di tengah ketegangan konflik yang melibatkan Iran dengan Israel dan Amerika Serikat, sebuah fakta mengejutkan datang dari warga negara Indonesia yang menetap di sana.
Melalui akun Instagram-nya, Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) Iran membagikan kondisi terkini mengenai biaya kebutuhan dasar seperti air, listrik, hingga gas.
Meski dalam kondisi perang, biaya tersebut ternyata tetap stabil dan sangat terjangkau meski negara dalam kondisi siaga.
Dalam sebuah liputan langsung yang kemudian tayang pada 2 April 2026, admin HPI Iran mengunjungi salah satu rumah pelajar Indonesia untuk mengecek langsung tagihan yang mereka terima.
Berbeda dengan sistem manual, pemerintah Iran mengirimkan tagihan utilitas secara modern melalui layanan pesan singkat.
"Kami kalau di sini per dua atau tiga bulan sekali. Kami tuh dapat SMS langsung dari pemerintah atau dari pusat untuk urusan tagihan gas, air, dan listrik," ujar salah satu mahasiswa dalam video tersebut.
Berdasarkan data yang ditunjukkan, angka-angka tersebut sangat kontras dengan biaya hidup di kota-kota besar Indonesia.
Untuk tagihan air, mahasiswa tersebut hanya perlu membayar 185 Tuman untuk pemakaian selama dua bulan.
Jika dikonversikan, biaya tersebut hanya berkisar Rp20.000 per dua bulan, atau hanya Rp10.000 per bulan.
Namun, yang paling mencuri perhatian adalah biaya listrik. Untuk pemakaian dua bulan, tagihan yang muncul hanya sebesar 83 Tuman atau sekitar Rp10.000.
Artinya, penduduk di sana hanya perlu menyisihkan Rp5.000 per bulan untuk tagihan listrik.
Hal ini terasa semakin kontras karena daya listrik di Iran sangat tinggi sehingga tidak mudah mengalami gangguan beban berlebih.
"Listrik di sini juga unik. Kalau di Indonesia kita menyalakan AC, kulkas, mesin cuci secara bersamaan itu bakal jeglek," ungkapnya.
Di Iran, penggunaan alat elektronik berdaya besar seperti setrika yang mencapai di atas 1000 watt tetap berjalan lancar meski digunakan bersamaan dengan perangkat lain karena total daya rumah bisa mencapai 5.000 watt.