Mereka berargumen bahwa pekerjaan tersebut bersifat opsional dan memiliki jam kerja yang relatif singkat, hanya enam jam sehari.
"Toh cuma kerja dari jam 6-12 juga dan itu buat yang mau mau aja, ngapa banyak yang repot dah," kata seorang netizen membela.
Ada pula yang menduga bahwa angka tersebut hanyalah upah awal, dengan berkomentar, "Mungkin itu gaji awal,atau mungkin gaji pokok,belum ada tunjangan lain kan gatau juga kita."
Sudut pandang yang lebih realistis datang dari seorang netizen yang mengaku bekerja sebagai ART dengan kisaran gaji yang sama.
Menurutnya, bagi sebagian pekerja, fleksibilitas waktu jauh lebih berharga daripada nominal besar namun harus menginap.
"Aku art yang gaji segitu, setiap hari kerja cuma dari jam 12 sampe jam 15 aja rata rata. Aku happy aja sih soalnya sebentar dan bisa punya waktu di rumah lebih banyak sama anak. Alhamdulillah disyukuri aja bisa untuk tambahan dirumah," katanya.
Testimoni ini menunjukkan dinamika upah ART sangat bergantung pada kesepakatan waktu dan kebutuhan individu masing-masing pihak.
Kontributor : Tinwarotul Fatonah