Suara.com - Dominasi Project Hail Mary di box office Korea Selatan akhirnya terhenti. Film bergenre fiksi ilmiah tersebut harus rela turun ke posisi kedua setelah tersaingi oleh film horor Korea, Salmokji: Whispering Water.
Diketahui, film horor garapan sutradara Lee Sang-min itu berhasil menembus satu juta penonton di bioskop Korea dan diperkirakan akan kembali menduduki peringkat pertama box office pada akhir pekan ini.
Berdasarkan data penjualan tiket KOBIS per 17 April, jumlah penonton Salmokji telah mencapai satu juta orang. Sehari sebelumnya, film tersebut juga berhasil menempati posisi puncak box office Korea.
Setelah Metamorphosis (2019), yang kala itu mencatatkan 570.000 penonton, Salmokji menjadi film tercepat yang mencapai angka satu juta penonton, yakni hanya dalam waktu 10 hari sejak penayangannya pada 8 April.
Diproduksi dengan anggaran sekitar 3 miliar won, titik impas (break-even point) film ini diperkirakan berada di kisaran 800.000 penonton.

Dengan jumlah penonton yang sudah melampaui satu juta, film ini tidak hanya berhasil balik modal, tetapi juga mulai menghasilkan keuntungan.
Tren jumlah penonton yang stabil, bahkan cenderung meningkat, memperbesar peluang film ini untuk terus meraih pendapatan dalam waktu dekat.
Jika momentum ini terjaga, Salmokji: Whispering Water berpotensi mempertahankan dominasinya sekaligus mencatatkan performa box office yang semakin kuat di Korea Selatan.
Sinopsis Salmokji: Whispering Water

Film Salmokji: Whispering Water mengambil latar di sebuah tempat terpencil yang tampak tenang di permukaan, namun menyimpan aura mencekam, yakni Waduk Salmokji.
Sekilas, waduk ini terlihat seperti lokasi yang damai dan jauh dari hiruk-pikuk kehidupan.
Namun di balik kesunyian tersebut, tersembunyi berbagai kisah kelam yang terus beredar di masyarakat sekitar.
Kisah film ini sendiri berfokus pada sekelompok tim produksi yang memutuskan nekat untuk kembali ke Waduk Salmokji.
Tujuan mereka adalah merekam ulang sebuah jalan di sekitar waduk, setelah sebelumnya kamera mereka menangkap sesuatu yang janggal, yakni sebuah entitas misterius yang tak seharusnya ada dalam rekaman tersebut.
Dengan rasa penasaran yang besar sekaligus ambisi untuk mengungkap kebenaran, mereka memulai proses syuting tanpa benar-benar memahami risiko yang mengintai.
Namun, sejak awal pengambilan gambar dimulai, kejadian-kejadian aneh mulai bermunculan.
Hal-hal kecil yang awalnya dianggap kebetulan perlahan berubah menjadi rangkaian teror yang semakin nyata dan sulit dijelaskan dengan logika.
Suara-suara asing terdengar tanpa sumber yang jelas, bayangan bergerak di sudut pandang, hingga kemunculan sosok-sosok misterius yang seolah mengawasi setiap gerak-gerik mereka dari kejauhan.
Ketegangan mencapai puncaknya ketika tim produksi menyadari bahwa mereka tidak lagi sekadar menjadi pengamat, melainkan telah menjadi bagian dari peristiwa mengerikan itu sendiri.
Sosok-sosok yang sebelumnya hanya tertangkap samar kini mulai menunjukkan wujudnya dengan lebih jelas, menghadirkan ancaman yang terasa semakin dekat dan nyata.
Dalam kepanikan, mereka mencoba melarikan diri dari area waduk tersebut. Namun setiap langkah yang mereka ambil justru membawa mereka semakin jauh dari jalan keluar.
Jalur yang sama terasa berbeda, arah menjadi membingungkan, dan lingkungan sekitar seakan berubah tanpa pola yang bisa dipahami.
Upaya untuk keluar berubah menjadi perjuangan bertahan hidup yang melelahkan, baik secara fisik maupun mental.
Semakin lama, mereka mulai kehilangan akal sehat, tak hanya terhadap tempat, tetapi juga terhadap waktu dan kenyataan.
Rasa putus asa perlahan muncul ketika mereka menyadari bahwa tempat itu seakan “menahan” mereka, menutup setiap kemungkinan untuk kembali.
Dalam kondisi terjebak tersebut, mereka dipaksa menghadapi ketakutan terdalam masing-masing, sementara kehadiran entitas misterius di sekitar waduk terus menghantui tanpa henti.
Pada akhirnya, Waduk Salmokji bukan lagi sekadar lokasi syuting yang angker, melainkan menjadi sebuah ruang tanpa jalan keluar, sebuah perangkap yang hidup, di mana setiap usaha untuk melarikan diri justru memperdalam keterjebakan mereka.
Tidak ada kepastian apakah mereka akan berhasil keluar, atau justru menjadi bagian dari kisah kelam yang selama ini hanya mereka dengar sebagai rumor.
Kontributor : Anistya Yustika