- Kiai Ashari dari Pondok Pesantren Ndholo Kusumo, Pati, ditetapkan sebagai tersangka atas kasus pencabulan terhadap puluhan santriwati.
- Tersangka menggunakan modus alibi penyembuhan spiritual dan pemijatan untuk mendekati santriwati yang menjadi target pelecehan seksual.
- Polresta Pati telah menahan tersangka sejak Mei lalu, sementara korban mendapatkan pendampingan psikologis untuk memulihkan trauma mereka.
Suara.com - Modus pencabulan puluhan santri yang diduga dilakukan Kiai Ashari di Pondok Pesantren Ndholo Kusumo, Kabupaten Pati dibongkar dalam podcast Curhat Bang milik Denny Sumargo.
Terungkap siasat lelaki yang kini sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polresta Pati tersebut, mulai dari alasan penyembuhan batin hingga tidak memiliki kamar tidur yang tetap.
Pak Di, ayah salah satu korban yang dahulu ikut merintis pembangunan gedung pesantren, mengaku sempat melihat sejumlah keganjilan.
Dari obrolan, dia menyadari tersangka kerap meminta santriwati untuk menemaninya pada malam hari dengan dalih meminta pijat.
Menurut Pak Di, tersangka sering mengganti santriwati yang disuruh memijat. Jika Ashari tidak menyukai santriwati tertentu, dia menggunakan berbagai alasan agar bisa diganti dengan perempuan lain.
"Ketika dianya, itu tidak cocok dengan yang satu, alasannya pijatannya kurang enak," ungkap Pak Di menjelaskan alibi tersangka.
Selain itu, Ashari diduga memilih target korban berdasarkan penampilan fisik. Tari, salah satu santriwati yang menjadi korban sekaligus putri Pak Di, pernah secara langsung bertanya kepada Ashari mengapa santriwati dengan penampilan biasa saja tidak pernah dipanggil untuk menemani atau memijat.
Ashari justru berdalih hal itu berkaitan dengan masalah spiritual.
"Kenapa sih mbak ini, yang kurang... maaf ya, kurang cantik lah gitu, kok enggak pernah disuruh? Ya disuruh seperti saya gitu, memijat atau menemani tidur atau apa gitu. Terus jawabannya Pak Kiai, 'ya orang itu sudah manut, udah enggak ada penyakit'," tutur Tari menirukan ucapan pelaku.
Untuk mempermudah aksinya, tersangka juga diketahui sengaja tidak menetap di satu kamar tertentu dan tidak memiliki kediaman pribadi yang tetap. Dia tidur berpindah-pindah di berbagai kamar dalam area pesantren.
![Korban kiai Ashari dari pondok pesantren di Pati dan ayahnya [YouTube]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/08/97304-korban-kiai-ashari-dari-pondok-pesantren-di-pati-dan-ayahnya-youtube.jpg)
"Kalau kamarnya Pak Kiai itu tidurnya ganti-ganti, enggak menetap. Dulu Pak Kiai itu enggak punya tempat tetap, enggak punya. Tidurnya ya sesuai keinginannya gitu," jelas perempuan 20 tahun tersebut.
Mayoritas santriwati tidak berani menolak perintah tersangka karena diancam putus sanad ilmu hingga ketakutan secara psikologis.
Namun, Tari memiliki cara sendiri untuk bertahan saat dipanggil ke kamar untuk menemaninya tidur. Saat berada di ranjang, dia selalu berusaha menjaga kesadaran dengan cara berpura-pura tidur.
"Biasanya aku enggak pernah tidur beneran, enggak pernah, cuma merem aja gitu. Kadang cuma dilihatin video ceramah-ceramah gitu aja. Kalau biasanya ya udah diam aja gitu," ucap Tari.
Meski berhasil menghindari pelecehan lebih jauh dengan cara tersebut, Tari sempat mengalami kejadian yang menyisakan trauma.
Suatu malam saat dia dipanggil ke kamar, Ashari tiba-tiba keluar dan mengunci pintu dari luar sementara Tari masih berbaring pura-pura tidur.
Di tengah situasi tersebut, Tari mendengar suara tersangka dan perempuan lain dari kamar yang letaknya bersebelahan.
"Pernah kejadian itu saya kan nemenin tidur, itu saya dikunci dari luar. Saya itu kan kalau nemenin tidur kan enggak tidur beneran, pura-pura tidur gitu. Terus Pak Kiai itu pergi, terus ngunci saya dari luar. Terus saya batin dalam hati saja, 'ngapain gitu kan', terus kok ada suara lagi di kamar lain gitu," beber Tari.
Saat ini, Ashari telah ditahan oleh pihak kepolisian sejak awal Mei lalu.
Proses penyidikan masih terus berlanjut, sementara para korban kini didampingi oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) beserta psikolog untuk membantu memulihkan kondisi psikis mereka.