- Film horor Kuntilanak tahun 2006 garapan Rizal Mantovani mengisahkan Samantha yang mampu memanggil roh melalui tembang Lingsir Wengi.
- Sutradara Rizal Mantovani membangun atmosfer mencekam menggunakan elemen visual gotik tanpa terlalu bergantung pada efek kejut yang murah.
- Penayangan film klasik ini dijadwalkan hadir di stasiun televisi ANTV pada hari Jumat, 15 Mei 2026 mendatang.
Suara.com - Kuntilanak menjadi salah satu film Indonesia yang mengubah wajah horor Indonesia di era awal 2000-an.
Dirilis pada 2006, film garapan sutradara Rizal Mantovani ini bukan sekadar film hantu biasa.
Kutilanak adalah pembuka gerbang bagi trilogi ikonik yang membuat bulu kuduk penonton meremang hanya dengan mendengar sebait tembang Jawa.
Kuntilanak bisa kembali Anda saksikan pada Jumat (15/5/2026) malam ini pukul 21.30 WIB di ANTV.
Mari kita bedah kembali mengapa film yang dibintangi Julie Estelle ini tetap menjadi cult classic yang layak ditonton ulang hingga hari ini.
![Film Kuntilanak yang dibintangi Julie Estelle, Evan Sanders, dan Ratu Felisha akan tayang pada Jumat (15/5/2026) malam ini pukul 21.30 WIB di ANTV. [Instagram]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/15/53582-film-kuntilanak.jpg)
Cerita berpusat pada Samantha (Julie Estelle), seorang gadis muda yang dilingkupi trauma setelah kematian ibunya dan pelecehan yang ia alami dari ayah tirinya.
Demi mencari ketenangan, Sam memutuskan pindah ke sebuah rumah kos tua di pinggiran Jakarta.
Namun, rumah kos tersebut bukanlah tempat tinggal biasa. Bangunan kuno milik keluarga Mangkoedjiwo itu menyimpan aura gelap.
Sam, yang ternyata memiliki garis keturunan misterius, mulai menyadari bahwa ia memiliki kemampuan untuk memanggil sosok kuntilanak melalui sebuah tembang keramat, "Lingsir Wengi".
Kehadiran Sam di sana memicu serangkaian kejadian tragis. Satu per satu orang di sekitarnya menjadi korban, termasuk perselisihannya dengan Dinda (Ratu Felisha), penghuni kos yang angkuh.
Di sisi lain, kekasih Sam, Agung (Evan Sanders), berusaha keras menyelamatkan Sam dari kegelapan yang perlahan mulai menelan jiwanya.
Salah satu kekuatan utama film ini adalah sentuhan visual Rizal Mantovani.
Berbeda dengan film horor zamannya yang seringkali mengandalkan jump scare murah, Kuntilanak membangun kengerian lewat atmosfer.
Penggunaan cermin-cermin besar, lorong rumah yang lembap, hingga pohon tua di depan kosan menciptakan kesan Gothic yang kental.
Rizal berhasil memotret sisi gelap tradisi Jawa (sinkretisme) dan memadukannya dengan elemen horor modern.
Film ini menjadi panggung pembuktian bagi Julie Estelle.
Sebagai Sam, ia berhasil menampilkan transformasi karakter yang luar biasa, dari gadis yang rapuh dan ketakutan menjadi sosok yang dingin dan berkuasa saat ia mulai "berteman" dengan kegelapan.
Jangan lupakan juga Ratu Felisha yang sukses memerankan karakter mean girl yang ikonik, serta Evan Sanders yang memberikan keseimbangan emosional dalam cerita ini.
Hal paling fenomenal dari film ini tentu saja adalah penggunaan lagu "Lingsir Wengi".
Sebelum film ini meledak, lagu tersebut dikenal sebagai tembang cinta atau doa tolak bala ciptaan Sunan Kalijaga.
Namun, berkat kejeniusan (atau keisengan) tim produksi, lagu ini bertransformasi menjadi mantra pemanggil setan yang paling ditakuti di Indonesia hingga saat ini.
Meskipun teknologi CGI pada tahun 2006 belum secanggih sekarang, efek praktis dan make-up sosok kuntilanak di film ini tetap terlihat menyeramkan.
Penggambaran kuntilanak yang keluar dari cermin atau merayap di langit-langit tetap menjadi salah satu adegan paling membekas dalam sejarah sinema horor Tanah Air.