- Resonine menyelenggarakan festival musik Soundrenaline 2026 di lima kota besar Indonesia mulai Juli hingga November 2026 mendatang.
- Acara menghadirkan konsep multi-venue Sana-Sini dengan lebih dari 60 penampil lokal dan internasional untuk pengalaman penonton yang intim.
- Festival ini mendukung pertumbuhan industri musik dengan menyediakan ruang kolaborasi bagi musisi ternama serta pendatang baru melalui rangkaian acara.
Suara.com - Ada alasan mengapa Soundrenaline selalu masuk dalam daftar festival musik yang paling ditunggu di Indonesia. Bukan semata karena deretan nama besar yang mengisi panggungnya, melainkan karena kemampuannya menghadirkan pengalaman yng terus berkembang dari tahun ke tahun.
Memasuki 2026, Soundrenaline kembali hadir dengan pendekatan yang lebih matang. Festival yang diinisiasi oleh Resonine ini tidak lagi hanya berbicara tentang siapa yang tampil, tetapi bagaimana setiap penampilan dapat dirasakan secara lebih intim, personal, dan berkesan oleh para penonton.
Tahun ini, Soundrenaline akan menyambangi lima kota besar di Indonesia. Jakarta menjadi pembuka pada 18–19 Juli, dilanjutkan Makassar pada 29 Agustus, Palembang pada 19 September, Yogyakarta pada 31 Oktober, dan ditutup di Bandung pada 21 November 2026.
Dengan lebih dari 60 penampil dan target kehadiran lebih dari 30.000 penonton sepanjang rangkaian acara, Soundrenaline 2026 menjanjikan perjalanan musik yang lebih luas dan inklusif.
Namun, yang membuat edisi kali ini terasa berbeda adalah penguatan konsep Sana-Sini.
Alih-alih menghadirkan festival yang berpusat di satu titik, Soundrenaline mengajak audiens untuk menjelajahi berbagai sudut dalam satu kawasan melalui format multi-venue. Penonton bebas berpindah dari satu panggung ke panggung lain, menemukan suasana baru, serta menyusun pengalaman festival sesuai ritme mereka sendiri.
"Konsep Sana-Sini tetap menjadi fondasi Soundrenaline tahun ini. Bedanya, di 2026 kami mengembangkannya agar terasa lebih nyaman dan seamless, dengan venue yang lebih berdekatan dan terpusat di satu kawasan. Kami ingin penonton bisa menikmati festival sebagai perjalanan yang mengalir, tanpa harus terburu-buru, dan benar-benar fokus pada pengalaman musiknya," ungkap Putri Limbak Cahaya, perwakilan Resonine.
Konsep tersebut menjadi jawaban atas perubahan perilaku penikmat festival masa kini. Mereka tak lagi sekadar datang untuk menyaksikan musisi favorit tampil membawakan lagu-lagu hits, tetapi juga mencari pengalaman yang lebih mendalam.
Mulai dari atmosfer, interaksi antarpenonton, hingga momen-momen tak terduga yang hanya bisa ditemukan di sebuah festival. Karena itu, Soundrenaline merancang pertunjukan dengan pendekatan yang berbeda.
Para musisi didorong untuk menghadirkan sesuatu yang tidak biasa. Mulai dari special arrangements, eksplorasi format panggung, kolaborasi lintas musisi, hingga membawakan lagu-lagu yang jarang dimainkan di pertunjukan lain. Dengan begitu, setiap penampilan memiliki identitas tersendiri.
Deretan nama yang telah dipastikan tampil pun mencerminkan keberagaman skena musik Indonesia saat ini. Ada Efek Rumah Kaca, The SIGIT, Kelompok Penerbang Roket, Elephant Kind, The Adams, Naykilla, Seringai, hingga kolaborasi Beijing Connection dan Murphy Radio.
Khusus Jakarta, Soundrenaline juga memperkuat daya tariknya lewat kehadiran sejumlah musisi internasional seperti DIIV, Last Dinosaurs, Tahiti 80, dan The Beths.
"Untuk Jakarta, Soundrenaline tahun ini juga akan menghadirkan lebih banyak musisi internasional dibandingkan tahun lalu. Nama-nama tersebut akan kami umumkan secara bertahap, dan kami berharap kehadiran mereka bisa memperkaya pengalaman Soundrenaline, tanpa kehilangan kedekatannya dengan skena musik lokal," jelas Putri.
Meski menghadirkan nama-nama besar, Soundrenaline tetap mempertahankan komitmennya untuk memberi ruang bagi musisi-musisi baru.
Festival ini membuka kesempatan bagi emerging musicians untuk tampil berdampingan dengan para musisi yang telah lebih dulu memiliki basis penggemar kuat. Pendekatan tersebut menjadi salah satu cara Soundrenaline ikut mendukung pertumbuhan industri musik Indonesia.