- Maudy Ayunda dikritik netizen dan disebut tidak peka setelah konten YouTube mindfulness miliknya kembali viral pada September 2026.
- Latar belakang pendidikan elit dan statusnya sebagai penerima beasiswa LPDP turut disorot serta dikaitkan dengan tanggung jawab moral publik figur.
- Maudy Ayunda akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka setelah kontennya dinilai mengabaikan hak istimewa masyarakat dalam menghadapi berita buruk.
Kritik kemudian berkembang menjadi tudingan bahwa Maudy kurang peka atau tone deaf terhadap realitas yang dialami masyarakat.
Salah satu pengguna X bahkan menyatakan akan berhenti mengikuti Maudy karena menilai sang artis tidak lagi menyebarkan positivity dan justru dianggap tidak peka.
4. Latar belakang Maudy ikut disorot
Kontroversi tidak berhenti pada isi video. Latar belakang pendidikan dan pengalaman Maudy dalam berbagai kegiatan sosial turut disinggung oleh netizen.
Posisi Maudy sebagai figur publik dengan jumlah pengikut besar juga menjadi salah satu alasan kritik tersebut muncul.
Menurut sejumlah netizen, seseorang dengan platform besar dinilai memiliki kesempatan untuk ikut menyuarakan persoalan yang sedang dihadapi masyarakat.
Kritik terhadap Maudy Ayunda kemudian tidak hanya berkaitan dengan isi konten mindfulness yang kembali viral. Latar belakang pendidikan Maudy juga ikut menjadi perhatian masyarakat.
Maudy dikenal memiliki rekam jejak pendidikan di sejumlah universitas bergengsi dunia. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah di Jakarta, ia melanjutkan studi S1 Philosophy, Politics and Economics (PPE) di University of Oxford.
Setelah lulus dari Oxford, Maudy kemudian diterima di dua universitas ternama di Amerika Serikat, yakni Harvard University dan Stanford University. Ia akhirnya memilih Stanford University untuk melanjutkan pendidikan master dan menjalani program joint degree hingga memperoleh gelar Master of Business Administration (MBA) serta Master of Arts (MA).
Pendidikan S2 tersebut ditempuh Maudy dengan dukungan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Informasi mengenai status Maudy sebagai penerima LPDP juga kembali menjadi pembahasan publik ketika polemik terkait para penerima beasiswa tersebut ramai diperbincangkan.
Latar belakang inilah yang membuat sebagian netizen memberikan sorotan lebih tajam ketika Maudy membahas cara menghadapi derasnya berita buruk dan menjaga kesehatan diri melalui mindfulness.
Bagi sebagian masyarakat, pendidikan Maudy di bidang yang bersinggungan dengan politik, ekonomi, pendidikan, serta pengalaman memperoleh beasiswa LPDP membuat mereka berharap figur publik tersebut memiliki kepekaan terhadap persoalan sosial yang sedang terjadi.
Terlebih, LPDP merupakan program beasiswa pemerintah yang menggunakan dana publik untuk mendukung pendidikan masyarakat Indonesia. Karena itu, muncul pula komentar dari netizen yang mengaitkan pengalaman Maudy sebagai penerima beasiswa dengan tanggung jawab moral untuk memberikan kontribusi kembali kepada masyarakat.
5. Kenapa Maudy disebut "tak napak tanah"?
Istilah "tak napak tanah" dalam kontroversi ini muncul sebagai bentuk kritik netizen terhadap persepsi bahwa Maudy dianggap kurang membumi atau kurang memahami kondisi masyarakat secara langsung.
Sementara itu, tudingan tone deaf merujuk pada anggapan bahwa pernyataan seseorang kurang sensitif terhadap situasi yang sedang dirasakan kelompok lain.
Namun, penting dicatat bahwa Maudy dalam video tersebut tidak secara eksplisit mengatakan masyarakat harus berhenti peduli terhadap persoalan sosial.
Sebaliknya, ia berbicara mengenai cara tetap peduli tanpa membiarkan arus berita negatif membuat seseorang merasa terus-menerus terbebani.
Perbedaan penafsiran terhadap pesan inilah yang kemudian membuat video tersebut memicu perdebatan.
6. Maudy Ayunda akhirnya meminta maaf
Setelah mendapat kritik luas, Maudy Ayunda akhirnya memberikan respons dan menyampaikan permintaan maaf.
Permintaan maaf tersebut menjadi bagian penting dari polemik karena Maudy mengakui adanya kemungkinan pesan dalam kontennya diterima berbeda dari maksud awal.
"Being able to step away from the news is itself a privilege. Tidak semua orang punya pilihan itu, terutama ketika apa yang terjadi berdampak langsung pada kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitasnya. Aku minta maaf karena bagian ini belum cukup aku refleksikan di videonya," kata Maudy.
“Terima kasih untuk teman-teman yang sudah meluangkan waktunya untuk mengingatkanku dan menambahkan perspektif menjadi lebih luas dan lebih dalam. Aku dengar dan aku hargai feedbacknya. Aku mendengarkan dan aku belajar dari ini," lanjutnya.
Maudy kemudian menjelaskan kembali konteks pembicaraan mengenai mindfulness dan kepedulian terhadap berbagai persoalan yang terjadi.