Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya

Farah Nabilla

Senin, 14 September 2026 | 09:43 WIB
Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
Maudy Ayunda. [Instagram]
baca 10 detik
  • Maudy Ayunda dikritik netizen dan disebut tidak peka setelah konten YouTube mindfulness miliknya kembali viral pada September 2026.
  • Latar belakang pendidikan elit dan statusnya sebagai penerima beasiswa LPDP turut disorot serta dikaitkan dengan tanggung jawab moral publik figur.
  • Maudy Ayunda akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka setelah kontennya dinilai mengabaikan hak istimewa masyarakat dalam menghadapi berita buruk.

Suara.com - Nama Maudy Ayunda tengah menjadi sorotan setelah konten yang membahas mindfulness dan cara menghadapi derasnya berita buruk menuai kritik dari sejumlah netizen.

Maudy bahkan disebut tone deaf hingga dianggap "tak napak tanah" karena dinilai kurang peka terhadap kondisi masyarakat yang sedang menghadapi berbagai persoalan.

Konten tersebut sebenarnya tidak baru diunggah. Video berjudul "Mindfulness in the Age of Bad News - Maudy Ayunda" telah dipublikasikan melalui kanal YouTube Maudy pada 21 Agustus 2026. Namun, video itu kembali ramai dibicarakan di media sosial pada September 2026.

Lantas, kenapa Maudy Ayunda disebut tak napak tanah dan bagaimana kronologinya?

Maudy Ayunda Baru Bicara soal Banjir Sumatra (instagram)
Maudy Ayunda (instagram)

1. Maudy Ayunda membahas kelelahan menghadapi berita buruk
Dalam video tersebut, Maudy berbicara mengenai kondisi ketika seseorang terus-menerus menerima informasi negatif dari berbagai penjuru.

Ia mengatakan bahwa dalam beberapa bulan, bahkan menurutnya sekitar setahun terakhir, masyarakat dibombardir dengan berbagai berita buruk, baik dari dunia internasional maupun Indonesia.

"Aku tuh berasa kayak ya udah beberapa bulan ini. Malah mungkin udah setahun terakhir ini ya kita tuh kayak dibombardir dengan banyaknya berita buruk secara internasional tapi juga mungkin khususnya berita lokal juga di sini, di Indonesia," ujar Maudy dalam videonya.

Maudy kemudian membicarakan pentingnya tetap peduli terhadap persoalan di sekitar, tetapi pada saat yang sama seseorang juga perlu menjaga dirinya sendiri agar tidak terus-menerus terbebani.

"Aku ngerasa kayaknya penting gitu untuk ngomongin itu khususnya kayak gimana buat kita bahkan melangkah, gimana caranya kita tetap peduli, dan juga bisa menjaga diri kita sendiri itu," lanjutnya.

baca juga

2. Maudy menceritakan dirinya sempat merasa tidak berdaya
Dalam video yang sama, Maudy mengungkapkan bahwa paparan berbagai berita buruk juga berdampak terhadap dirinya.

Ia mengaku pernah merasa kesulitan memproses banyak persoalan yang terjadi secara bersamaan. Kondisi tersebut membuatnya merasa tidak berdaya, bahkan sampai menangis dan marah.

"Di mana kayak ngerasa, ‘ya ampun, ini bolak-balik banget’ gimana aku memproses ini, karena buat aku pribadi berat banget sih dan ada kecenderungan ngerasa nggak berdaya. Terus ada masa-masa di mana jadi kayak mewek, nangis, marah," kata Maudy.

Dari konteks tersebut, pembahasan Maudy sebenarnya berangkat dari pengalaman personal mengenai bagaimana seseorang menjaga kondisi diri ketika menghadapi arus informasi negatif.

3. Video kembali viral dan memicu kritik netizen
Beberapa waktu setelah diunggah, video tersebut kembali menjadi perbincangan di media sosial.

Sebagian pengguna memahami pesan Maudy mengenai pentingnya menjaga diri dari kelelahan akibat terlalu banyak mengonsumsi berita buruk. Namun, sebagian lainnya justru mempertanyakan pesan tersebut ketika dikaitkan dengan kondisi masyarakat yang terdampak langsung oleh persoalan sosial dan kebijakan.

Kritik kemudian berkembang menjadi tudingan bahwa Maudy kurang peka atau tone deaf terhadap realitas yang dialami masyarakat.

Salah satu pengguna X bahkan menyatakan akan berhenti mengikuti Maudy karena menilai sang artis tidak lagi menyebarkan positivity dan justru dianggap tidak peka.

4. Latar belakang Maudy ikut disorot
Kontroversi tidak berhenti pada isi video. Latar belakang pendidikan dan pengalaman Maudy dalam berbagai kegiatan sosial turut disinggung oleh netizen.

Posisi Maudy sebagai figur publik dengan jumlah pengikut besar juga menjadi salah satu alasan kritik tersebut muncul.

Menurut sejumlah netizen, seseorang dengan platform besar dinilai memiliki kesempatan untuk ikut menyuarakan persoalan yang sedang dihadapi masyarakat.

Kritik terhadap Maudy Ayunda kemudian tidak hanya berkaitan dengan isi konten mindfulness yang kembali viral. Latar belakang pendidikan Maudy juga ikut menjadi perhatian masyarakat.

Maudy dikenal memiliki rekam jejak pendidikan di sejumlah universitas bergengsi dunia. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah di Jakarta, ia melanjutkan studi S1 Philosophy, Politics and Economics (PPE) di University of Oxford.

Setelah lulus dari Oxford, Maudy kemudian diterima di dua universitas ternama di Amerika Serikat, yakni Harvard University dan Stanford University. Ia akhirnya memilih Stanford University untuk melanjutkan pendidikan master dan menjalani program joint degree hingga memperoleh gelar Master of Business Administration (MBA) serta Master of Arts (MA).

Pendidikan S2 tersebut ditempuh Maudy dengan dukungan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Informasi mengenai status Maudy sebagai penerima LPDP juga kembali menjadi pembahasan publik ketika polemik terkait para penerima beasiswa tersebut ramai diperbincangkan.

Latar belakang inilah yang membuat sebagian netizen memberikan sorotan lebih tajam ketika Maudy membahas cara menghadapi derasnya berita buruk dan menjaga kesehatan diri melalui mindfulness.

Bagi sebagian masyarakat, pendidikan Maudy di bidang yang bersinggungan dengan politik, ekonomi, pendidikan, serta pengalaman memperoleh beasiswa LPDP membuat mereka berharap figur publik tersebut memiliki kepekaan terhadap persoalan sosial yang sedang terjadi.

Terlebih, LPDP merupakan program beasiswa pemerintah yang menggunakan dana publik untuk mendukung pendidikan masyarakat Indonesia. Karena itu, muncul pula komentar dari netizen yang mengaitkan pengalaman Maudy sebagai penerima beasiswa dengan tanggung jawab moral untuk memberikan kontribusi kembali kepada masyarakat.

5. Kenapa Maudy disebut "tak napak tanah"?
Istilah "tak napak tanah" dalam kontroversi ini muncul sebagai bentuk kritik netizen terhadap persepsi bahwa Maudy dianggap kurang membumi atau kurang memahami kondisi masyarakat secara langsung.

Sementara itu, tudingan tone deaf merujuk pada anggapan bahwa pernyataan seseorang kurang sensitif terhadap situasi yang sedang dirasakan kelompok lain.

Namun, penting dicatat bahwa Maudy dalam video tersebut tidak secara eksplisit mengatakan masyarakat harus berhenti peduli terhadap persoalan sosial.

Sebaliknya, ia berbicara mengenai cara tetap peduli tanpa membiarkan arus berita negatif membuat seseorang merasa terus-menerus terbebani.

Perbedaan penafsiran terhadap pesan inilah yang kemudian membuat video tersebut memicu perdebatan.

6. Maudy Ayunda akhirnya meminta maaf
Setelah mendapat kritik luas, Maudy Ayunda akhirnya memberikan respons dan menyampaikan permintaan maaf.

Permintaan maaf tersebut menjadi bagian penting dari polemik karena Maudy mengakui adanya kemungkinan pesan dalam kontennya diterima berbeda dari maksud awal.

"Being able to step away from the news is itself a privilege. Tidak semua orang punya pilihan itu, terutama ketika apa yang terjadi berdampak langsung pada kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitasnya. Aku minta maaf karena bagian ini belum cukup aku refleksikan di videonya," kata Maudy.

“Terima kasih untuk teman-teman yang sudah meluangkan waktunya untuk mengingatkanku dan menambahkan perspektif menjadi lebih luas dan lebih dalam. Aku dengar dan aku hargai feedbacknya. Aku mendengarkan dan aku belajar dari ini," lanjutnya.

Maudy kemudian menjelaskan kembali konteks pembicaraan mengenai mindfulness dan kepedulian terhadap berbagai persoalan yang terjadi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Tone Deaf Berkedok Self-Care: Tak Semua Orang Bisa Menjauh dari Bad News

Tone Deaf Berkedok Self-Care: Tak Semua Orang Bisa Menjauh dari Bad News

Your Say | Minggu, 13 September 2026 | 14:40 WIB

Tone Deaf Bukan Sekadar Label: Politik Punya Andil Besar dalam Hidup Kita

Tone Deaf Bukan Sekadar Label: Politik Punya Andil Besar dalam Hidup Kita

Your Say | Minggu, 23 Agustus 2026 | 13:40 WIB

Bukan Selalu Tone Deaf, Bisa Jadi Standar Kita yang Sudah Berbeda

Bukan Selalu Tone Deaf, Bisa Jadi Standar Kita yang Sudah Berbeda

Your Say | Minggu, 09 Agustus 2026 | 12:25 WIB

Sepi Penonton, Film Para Perasuk Dikritik Gara-Gara Casting Kurang Ndeso

Sepi Penonton, Film Para Perasuk Dikritik Gara-Gara Casting Kurang Ndeso

Entertainment | Rabu, 29 April 2026 | 08:40 WIB

Ulasan Film Para Perasuk: Menggali Sisi Gelap Manusia Lewat Ritual Budaya

Ulasan Film Para Perasuk: Menggali Sisi Gelap Manusia Lewat Ritual Budaya

Your Say | Kamis, 23 April 2026 | 15:43 WIB

Terkini

Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina

Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:13 WIB

Wacana Blokir Medsos Anak: Solusi Aman atau Bikin Anak Makin Penasaran?

Wacana Blokir Medsos Anak: Solusi Aman atau Bikin Anak Makin Penasaran?

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:10 WIB

GPCI Siap Kawal MUI Tolak Konser Andrea Bocelli

GPCI Siap Kawal MUI Tolak Konser Andrea Bocelli

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:10 WIB

OJK Siapkan 8 Jurus Reformasi Pasar Modal, Free Float IPO Minimal 15%

OJK Siapkan 8 Jurus Reformasi Pasar Modal, Free Float IPO Minimal 15%

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:10 WIB

Beda Skin Tint dan BB Tint, Mana yang Lebih Cocok untuk Makeup Harian?

Beda Skin Tint dan BB Tint, Mana yang Lebih Cocok untuk Makeup Harian?

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:05 WIB

Coach Justin Nilai AXIS Nation Cup Buka Jalan Talenta Muda ke Level Profesional

Coach Justin Nilai AXIS Nation Cup Buka Jalan Talenta Muda ke Level Profesional

Jogja | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:01 WIB

Hasto Bongkar Konsep MBG Alternatif PDIP, Sentil Program yang Terlalu Sentralistik

Hasto Bongkar Konsep MBG Alternatif PDIP, Sentil Program yang Terlalu Sentralistik

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:00 WIB

Ekonomi Vietnam Bakal jadi Raja di ASEAN, Indonesia Terancam Turun Kasta

Ekonomi Vietnam Bakal jadi Raja di ASEAN, Indonesia Terancam Turun Kasta

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:00 WIB

Injak Kepala Teman hingga Tewas, Pelarian Buronan Pringsewu Kandas di Tangan Tekab 308

Injak Kepala Teman hingga Tewas, Pelarian Buronan Pringsewu Kandas di Tangan Tekab 308

Lampung | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:58 WIB

Gratis! Grand Final AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan 16 Tim dan Deretan Artis

Gratis! Grand Final AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan 16 Tim dan Deretan Artis

Jogja | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:53 WIB

×