Suara.com - Hubungan ibu dan anak menjadi salah satu sisi yang kuat dalam film horor "Putri Jangan Gentayangan Lagi". Di balik kisah mistis yang dihadirkan, film produksi MVP Pictures ini juga membawa cerita tentang keluarga, komunikasi, dan penyesalan seorang ibu setelah kehilangan anaknya.
Kinaryosih yang memerankan Mak Eli mengatakan, hubungan karakter yang ia mainkan dengan Putri berkaitan erat dengan persoalan komunikasi. Mak Eli menyayangi anaknya, tetapi pengalaman sebelumnya membuat ia tidak langsung percaya ketika Putri benar-benar mengalami masalah kesehatan.
“Kurangnya komunikasi antara ibu dan anak. Jadi, ketika Putri bilang sakit, sebelumnya dia pernah bilang sakit, tetapi kemudian dijemput teman untuk bermain. Akhirnya ketika Putri benar-benar sakit, ibunya tidak percaya,” ujar Kinaryosih.
Situasi itu kemudian menjadi penyesalan bagi Mak Eli setelah Putri meninggal. Ia menyadari bahwa dirinya terlambat memahami kondisi sang anak.
“Dia merasa sebagai ibu gagal menjadi seorang ibu. Dia bilang, ‘Mak tuh sedih banget karena nggak percaya sama Putri’,” kata Kinaryosih.
Menurut Kinaryosih, kondisi Mak Eli juga dipengaruhi tanggung jawab yang harus dijalani sebagai ibu sekaligus pencari nafkah. Mak Eli harus bekerja sambil mengurus banyak anak sehingga tidak selalu bisa memberikan perhatian kepada mereka satu per satu.

“Dia sebenarnya lembut sebagai ibu. Cuma karena kondisi yang membuat dia harus berjuang. Dia mengurus banyak anak, harus bekerja. Jadi, dia tidak bisa fokus sama anaknya satu-satu,” tuturnya.
Kinaryosih juga mengaku sisi keibuannya ikut terbawa ketika menjalani adegan emosional sebagai Mak Eli. Pengalaman sebagai seorang ibu membuat adegan kehilangan Putri terasa semakin berat baginya.
“Kalau karakterku punya anak dan anaknya disakiti, aku benar-benar tidak bisa berhenti. Sedih terus, nangis terus,” ujar Kinaryosih.
Kawai Labiba Rasakan Tanggung Jawab Memerankan Putri
Sementara itu, Kawai Labiba dipercaya memerankan Putri. Film "Putri Jangan Gentayangan Lagi" berangkat dari kisah nyata yang kemudian dikembangkan ke dalam cerita film.
Kawai mengatakan, proses pendalaman karakter dilakukan dengan mendengarkan langsung cerita dari Mak Eli. Tim produksi juga berdiskusi untuk menentukan pengembangan karakter dan cerita yang tetap mempertahankan sejumlah poin utama dari kisah Putri.
“Bukan plek-ketiplek, tetapi kami tetap mempertahankan beberapa poin utama, seperti Putri memang sakit, punya adik, dan Mak Eli tetap bekerja sebagai ojek online,” kata Kawai.
Kedekatan Kawai dengan sosok Putri juga mendapat respons emosional dari Mak Eli asli. Saat bertemu Kawai dalam sebuah kegiatan, Mak Eli disebut melihat kemiripan wajah Kawai dengan putrinya.
“Mak Eli sepertinya cukup tersentuh. Dia bilang, ‘Aduh, ini mah muka anak gue. Ini mah Putri.’ Melihatnya sama banget,” ujar Kawai.
Bagi Kawai, respons itu menjadi pengalaman emosional, menambah afirmasi penerimaan Mak Eli atas peran yang dibawakannya, sehingga menambah rasa tanggung jawab ketika memerankan Putri.
“Di satu sisi merasa Alhamdulillah, setidaknya dari Mak Eli ada yang bisa melihat Putri. Tapi di satu sisi juga rasa tanggung jawab ketika memerankan almarhumah itu juga jadi bertambah,” tuturnya.
Dalam film, Kawai melihat Putri sebagai sosok anak perempuan pertama yang memiliki kepedulian terhadap keluarganya. Putri berusaha membantu meringankan beban ibunya sekaligus menjaga adik-adiknya.
“Putri itu tipikal kakak perempuan pertama yang ingin membantu keluarga, ingin meringankan beban ibunya, jagain adiknya juga,” kata Kawai.
Namun, keinginan untuk menyelesaikan persoalan sendiri justru membuat Putri cenderung memendam masalah. Kawai melihat sikap itu sebagai salah satu sisi penting dari karakternya.
“Anak pertama memang tidak mau merepotkan. ‘Gue aja yang urusin, yang penting mereka tenang.’ Sayangnya Putri, ketika dia memang ada masalah, dia tetap mau berusaha mengurus sendiri,” ujarnya.
Denisha Wahyuni Ungkap Hubungan Alana dan Putri
Sisi hubungan keluarga lainnya datang dari Denisha Wahyuni yang memerankan Alana, adik Putri. Denisha mengatakan, Alana sebenarnya memiliki hubungan yang dekat dengan Putri.
Namun, kedekatan itu berubah setelah Putri pergi bekerja selama setahun tanpa komunikasi dengan keluarga. Ketika kembali, Putri sudah membawa anak sehingga Alana harus kembali menyesuaikan diri dengan kondisi keluarganya.
“Alana sempat merasa agak canggung. Padahal kami sedekat itu. Tidak ngobrol setahun, terus tiba-tiba sudah seperti ini kondisinya,” ujar Denisha.
Di usia 17 tahun, Alana juga masih ingin menjalani kehidupan remajanya bersama teman-teman. Pada saat yang sama, ia harus menghadapi perubahan besar di dalam keluarga.
“Alana masih SMA, 17 tahun, masih ingin seru-serunya sama teman-temannya. Tiba-tiba disuruh mengurus anak kecil di rumah sendiri,” kata Denisha.
Bagi Denisha, kondisi itu membuat Alana berada di posisi yang serba sulit. Ia tetap berusaha terlihat baik-baik saja di luar rumah meski harus menghadapi persoalan keluarga yang tidak sederhana.
Pesan tentang Kepercayaan Ibu dan Anak
Pengalaman Mak Eli dan Putri kemudian membawa pesan yang lebih luas tentang pentingnya komunikasi dalam keluarga. Bagi Kinaryosih, hubungan antara orang tua dan anak perlu dibangun berdasarkan kepercayaan agar anak merasa aman ketika menghadapi persoalan.
“Aku ingin anakku percaya sekali sama aku, supaya dia menganggap aku teman. Jadi, kalau dia ada masalah apa pun, dia perginya ke aku, bukan ke orang lain dulu,” ujar Kinaryosih.
Ia menyadari membangun hubungan seperti itu bukan hal mudah. Namun, menurutnya, komunikasi perlu dibiasakan sejak anak masih kecil.
“Jalinlah hubungan antara anak dan ibu berdasarkan kepercayaan. Tapi itu tidak gampang. Itu susah sekali. Jadi, dari kecil kepercayaan itu harus dibangun dan komunikasi itu yang ditampilkan,” tuturnya.
Pesan itu menjadi salah satu sisi yang ingin dibawa Putri Jangan Gentayangan Lagi. Film ini tidak hanya menghadirkan kisah horor, tetapi juga memperlihatkan hubungan antara ibu, anak, dan saudara dalam menghadapi kehilangan serta persoalan keluarga.
Film yang disutradarai Rizal Mantovani dan diproduseri Raam Punjabi ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai 5 November 2026.
Buat penonton yang penasaran dengan kisah Putri dan apa yang sebenarnya masih belum selesai, saksikan Putri Jangan Gentayangan Lagi di bioskop mulai 5 November 2026. ***
Kontributor: Mohammad Rhadzaki Ramadhan