Suara.com - Bimbingan Teknis Pengelolaan Website dan Media Sosial membuka rangkaian Jateng Media Summit 2026 di Semarang, Rabu (20/5). Forum ini menyoroti tantangan komunikasi publik pemerintah di tengah derasnya arus informasi digital dan hoaks.
Kepala Bagian Humas dan Protokol Setda Jateng Dicky Adinurwanto mengakui pemda kerap kewalahan menghadapi penyebaran hoaks di media online dan media sosial sehingga membutuhkan strategi komunikasi yang tepat.
Dicky menyebut 82,57 persen masyarakat Jawa Tengah kini mengakses media online. Karena itu, pola komunikasi konvensional dinilai tidak lagi cukup untuk menjangkau publik di media sosial.
Tenaga Ahli Wamenkomdigi Riant Nugroho mengingatkan pemerintah tidak terjebak mengejar popularitas di media sosial. Menurutnya, pemerintah harus fokus bekerja dan membangun sistem informasi yang kuat berbasis data.
Riant menilai website pemda harus menjadi pusat big data dan sumber informasi utama. Konten media sosial kemudian disusun secara strategis dengan memanfaatkan algoritma, jurnalisme media, dan pendekatan digital lain.
Perencana Ahli Madya Puspen Kemendagri Zainudin menyoroti website pemda yang kerap tidak terstruktur, lambat merespons isu, serta menyajikan bahasa yang sulit dipahami masyarakat. Ia menekankan pentingnya informasi yang berdampak nyata.
Dalam sesi pelatihan, peserta juga mendapat materi pemanfaatan AI dan Google Trends untuk strategi konten. Pemda didorong membangun komunikasi dua arah lewat format Reels, Feed Carousel, hingga Live Streaming.