Timnas Indonesia akan menghadapi lawan cukup mudah di pertandingan kedua Piala AFF 2022 sore nanti, Senin (26/12). Anak asuh Shin Tae-yong tersebut akan menghadapi tim terlemah di Piala AFF 2022, Brunei Darussalam.
Pertandingan Brunei Darussalam vs Indonesia akan berlangsung di Stadion Kuala Lumpur, Malaysia sore nanti sekitar pukul 17:00 WIB.
Di atas kertas, Timnas Indonesia tentu saja jauh lebih unggul dibanding Brunei. Menilik dari catatan pertemuan, Timnas Indonesia telah 6 kali meraih kemenangan dari 10 pertandingan terakhir.
Dari 6 pertandingan itu, Timnas Indonesia mampu mencetak lebih dari 2 gol. Pada laga terakhir kedua tim, 26 September 2012, Timnas Indonesia bahkan mampu menang lima gol tanpa balas.
Dibanding dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara, Brunei memang bisa dibilang negara paling lemah untuk urusan sepak bola.
Dari tahun ke tahun, Brunei selalu menjadi tim lumbung gol untuk negara-negara lain saat mengikuti kompetisi. Bahkan di Piala AFF 2022, menjadi penampilan perdana Brunei setelah absen 26 tahun.
Jika menilik dari negara-negara yang lemah sepak bola, mayoritas tidak memiliki sumber daya mumpuni. Hal ini justru berbeda dengan Brunei.
Brunei Darussalam tercatat menjadi salah satu negara paling kaya di dunia. Diprediksi nilai kekayaan negara Brunei mencapai 28 milliar dollar AS atau diperkirakan 50 kali lipat dari kekayaan kerajaan Inggris.
Lantas apa yang menjadi penyebab sepak bola Brunei dari tahun ke tahun selalu berjalan di tempat alias tak alami kemajuan?
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita tengok dulu sejarah sepak bola di sana.
Mengutip dari berbagai sumber, federasi sepak bola Brunei (BAFA) baru dibentuk pada 15 Maret 1956. Awalnya federasi ini terbentuk masih bersifat amatir.
Selama puluhan tahun, BAFA hanya bersifat amatir. Baru 53 tahun kemudian, kata Amatir hilang dan menjadikan federasi ini bersifat profesional.
Maka tidak mengherankan jika selama puluhan tahun itu juga tim nasional Brunei hanya bertanding di level regional seperti SEA Games ataupun kompetisi seperti Merdeka Cup.
Bahkan sepanjang sejarahnya, tim nasional Brunei yang memiliki julukan si Lebah ini hanya empat kali bertanding di babak kualifikasi Piala Dunia yakni edisi 1986, 2002, 2018 dan 2022.
Tak hanya itu, Brunei sepanjang sejarahnya hanya melawan 25 negara di laga uji coba baik resmi ataupun tidak resmi. Brunei dari 127 laga uji coba hanya mampu menang 20 kali dan menelan kekalahan sebanyak 103 kali.
Sejarah juga mencatat bahwa tim nasionl Brunei sempat ikut kompetisi di Liga Malaysia. Menariknya pada 1999, mereka membuat kejutan dengan mengangkat trofi Piala Malaysia.
Mengutip dari catatan FIFA, ada 2500 pesepak bola di Brunei dan mayoritas ialah pemain amatir dan semi profesional.
Era baru di sepak bola Brunei berlangsung di awal milenium. Kompetisi sepak bola baru diadakan di Brunei pada 2002. 10 tahun kemudian, muncul Liga Super Brunei.
PSSI-nya Brunei, NFABD menyadari bahwa perkembangan sepak bola mereka hanya bisa terjadi jika ada pengembangan pemain muda dan kompetisi profesional.
Pihak NFABD pun seperti dilansir dari laman resmi FIFA menegaskan bahwa mereka punya rencana untuk perkembangan pemain muda.
"Kami memiliki beberapa rencana untuk meningkatkan jumlah anak-anak bermain sepak bola," ujar Direktur Teknis NFABD, Nair Sivaji.
Ya, untuk pengembangan pemain muda, langkah awal yang dilakukan NFABD ialah menarik minat anak-anak di Brunei untuk bermain sepak bola.
"Kami akan mendirikan pusat bakat di distrik-distrik sehingga bisa menciptakan peluang menghasilkan pemain muda berbakat," tambah Nair.
Sebenarnya tidak hanya itu, yang dibutuhkan sepak bola Brunei untuk bisa maju menurut NFABD ialah sokongan nyata dari pemangku kepentingan agar sepak bola bisa menjadi budaya di negara tersebut.
Faktanya kendala terbesar Brunei memang budaya sepak bola di sana tidak semasif dengan negara-negara tetangganya seperti Indonesia, Malaysia ataupun Singapura.