Pakar: Belajar Calistung Terlalu Dini Merusak Tatanan Otak Anak

Arsito Hidayatullah

Minggu, 22 November 2015 | 13:20 WIB
Pakar: Belajar Calistung Terlalu Dini Merusak Tatanan Otak Anak
Ilustrasi anak-anak. (Shutterstock)

Suara.com - Orang tua yang ingin mengajarkan anaknya baca, tulis dan berhitung (calistung) sejak dini sebaiknya harus berpikir ulang karena ternyata, menurut para ahli, hal itu dapat merusak tatanan otak anak.

Pakar tumbuh kembang anak dari Universitas Airlangga DR Dr Ahmad Suryawan SpA(K) mengingatkan para orang tua untuk tidak mengajarkan calistung sebelum sang anak masuk ke Sekolah Dasar (SD) atau berumur tujuh tahun.

"Mengajarkan anak calistung sebelum waktunya dapat merusak tatanan otak anak, dalam artian anak dalam mengerjakan sesuatu tidak runtut atau selaras," ujar Ketua Divisi Tumbuh Kembang Anak dan Remaja, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, tersebut pada acara peluncuran MoriCare+Prodiges di Jakarta, akhir pekan lalu.

Seharusnya anak yang berumur di bawah tujuh tahun bisa membentuk garis lurus, menggaris, membentuk gambar bangun sederhana dan sebagainya. "Sayangnya, pada masyarakat modern saat ini, anak belum tentu bisa menggambar garis lurus, malah belajar menghitung," kata Wawan, nama panggilan Ahmad Suryawan.

"Anak memang bisa pintar karena bisa calistung sejak dini, tapi perilakunya tidak runtut dalam menyelesaikan suatu persoalan. Hal itu karena sirkuit di otaknya tidak 'by order'. Anak tidak mengerti urutan," jelas dia.

"Juga terdapat dua kemungkinan bagi anak yang sudah dikenalkan calistung sejak dini," katanya. Pertama yaitu bisa calistung karena mengerti caranya, dan kedua, anak tersebut bisa karena menghapalkan caranya.

"Misal anak itu tahu kalau empat dikali empat sama dengan 16, maka hal itu bisa terjadi karena dia tahu caranya kalau 16 itu didapat dari empat sebanyak empat kali atau karena anak tersebut hapal kalau empat kali empat tersebut 16," papar kata lelaki itu, yang disapa Wawan.

Salah kaprah pandangan orang tua saat ini disebabkan oleh cara menilai prestasi anak dari hal yang berbau matematika atau akademik dan melupakan prestasi nonakademik.

Itu sebabnya, katanya, di sejumlah kota besar di Tanah Air marak muncul kursus les membaca yang diperuntukkan bagi anak-anak yang masuk dalam kategori Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

"Calistung boleh dikenalkan pada anak usia PAUD, tapi tidak boleh jadi evaluasi prestasi," cetus dia.

Pengenalan Calistung Program yang tepat pada anak usia PAUD adalah melalui pengenalan calistung, namun hal itu bukan berarti anak belajar calistung sepenuhnya.

Anak mengenal calistung melalui interaksi dan cara menyenangkan, bukan duduk manis mendengarkan guru mengajar. Contohnya ialah ada sepuluh anak, namun gelas yang ada hanya delapan, dengan demikian otomatis dua anak tidak mendapatkan gelas.

Wawan menerangkan sebelum anak memegang pensil, maka anak harus belajar mencapit, setelah tangan anak tersebut kuat baru diberikan pensil yang ukurannya besar.

"Anak belajar ngomongnya juga seperti itu mulai 'mama, mama pergi, baru kemudian mama, ayo pergi'. Jadi tahap demi tahap. Orang tua kita zaman dulu juga mendidik kita sangat demokratis dan sistematis. Orang tua sekarang, anak tidak bisa membaca saja marahnya seperti mau kiamat, padahal untuk membuat bayi tersenyum saja butuh berapa bulan kita seperti orang gila, baru kemudian bayi tersenyum," sindirnya.

Dia menyatakan ada yang salah dengan sistem pendidikan di Tanah Air, yang mensyaratkan calistung sebelum masuk SD. Hal itu juga membuat para orang tua khawatir dan memasukkan anak ke les calistung sebelum anak tersebut masuk ke sekolah dasar.

"Menteri Pendidikan yang sebelumnya, sudah melarang adanya tes calistung ketika masuk SD, tapi karena otonomi yang terjadi pada saat ini melahirkan 'raja-raja kecil' dengan kebijakan yang berbeda pula." Wawan menghimbau kepala daerah untuk peduli pada tumbuh kembang anak, yang merupakan generasi penerus bangsa.

Kualitas tumbuh kembang jangka panjang seorang anak ditentukan oleh keseimbangan faktor resiko dan faktor protektif sejak usia janin di dalam kandungan hingga usia 18 tahun Sementara itu Psikolog anak Dr Rose Mini mengatakan anak usia PAUD seharusnya hanya bermain, karena dengan bermain anak bisa merasa senang.

"Aktivitas bermain juga yang tanpa beban. Orang tua jangan memaksa anak bermain sesuatu dengan harapan anak tersebut tambah pintar," kata psikolog tersebut, yang akrab disapa Bunda Romi.

Perisai Pelindung Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada 2013, menyebutkan 37 persen anak lahir dari ibu yang semasa hamil mengalami anemia dan 10 persen anak lahir dengan permasalahan berat badan rendah. Hanya 30 persen anak terlindungi oleh ASI ekslusif selama enam bulan.

Untuk itu diperlukan perisai pelindung yang terdiri atas tiga sisi yakni setuktur dan sirkuit otak yang terbentuk dengan sehat dan kuat. Kemudian, sistem kekebalan tubuh yang mampu melindungi anak dari paparan negatif lingkungan sekitar. Serta, fisik tubuh yang mampu tumbuh sesuai dengan tahapan usia.

Selain itu, orang tua hendaknya menstimulasi untuk mengembangkan potensi si kecil agar tumbuh generasi platinum yang banyak bakat.

"Mengetahui dan memahami potensi si kecil merupakan langkah awal dalam membesarkan dan membantu anak berkembang sesuaidengan kepribadian uniknya," jelas Kepala Unit Nutrisi Anak Kalbe Nutritionals, Helly Oktaviana.

MoriCare+Prodiges juga menghadirkan pemahaman yang mendalam mengenai konsep kecerdasan majemuk yang berarti bahwa setiap anak mempunyai kecerdasan sendiri.

Kecerdasan pada awalnya hanya diasosiakan dengan tinggi rendahnya IQ, namun Pakar Psikologi dari Harvard Dr Howard Gardner, memperkenalkan kecerdasan majemuk yang mengakui adanya berbagai kecerdasan lain yang dimiliki oleh si kecil, sehingga setiap anak pasti cerdas. [Antara]

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Jangan Paksa Balita Belajar Calistung

Jangan Paksa Balita Belajar Calistung

Lifestyle | Kamis, 27 November 2014 | 16:30 WIB

Terkini

Jelang FIFA ASEAN Cup 2026, Maarten Paes Minta Timnas Indonesia Tak Pandang Remeh Lawan

Jelang FIFA ASEAN Cup 2026, Maarten Paes Minta Timnas Indonesia Tak Pandang Remeh Lawan

Bola | Senin, 21 September 2026 | 10:43 WIB

Pemeriksaan Armada Tuntas, Seluruh Perjalanan KRL Jabodetabek Kembali Normal!

Pemeriksaan Armada Tuntas, Seluruh Perjalanan KRL Jabodetabek Kembali Normal!

News | Senin, 21 September 2026 | 10:42 WIB

BEI Setop Sementara Perdagangan Saham NICK, BIKE, dan IDEA Hari Ini

BEI Setop Sementara Perdagangan Saham NICK, BIKE, dan IDEA Hari Ini

Bisnis | Senin, 21 September 2026 | 10:41 WIB

IABC Indonesia Soroti Krisis Kepercayaan di Era AI, Komunikator Dapat Mandat Baru

IABC Indonesia Soroti Krisis Kepercayaan di Era AI, Komunikator Dapat Mandat Baru

Tekno | Senin, 21 September 2026 | 10:40 WIB

Menkeu Suahasil Lantik 14 Pejabat Baru Kemenkeu, Ini Daftarnya

Menkeu Suahasil Lantik 14 Pejabat Baru Kemenkeu, Ini Daftarnya

Bisnis | Senin, 21 September 2026 | 10:39 WIB

Ganti Username Instagram Centang Biru, Berapa Lama Prosesnya? Ini Ketentuannya

Ganti Username Instagram Centang Biru, Berapa Lama Prosesnya? Ini Ketentuannya

Tekno | Senin, 21 September 2026 | 10:36 WIB

Paramount Ubah Haluan Bisnis, Kini Bidik Rumah Sakit hingga Sektor Energi

Paramount Ubah Haluan Bisnis, Kini Bidik Rumah Sakit hingga Sektor Energi

Bisnis | Senin, 21 September 2026 | 10:35 WIB

Komisi XII DPR Ungkap Poin Krusial RUU Migas, Termasuk Bada Usaha Khusus di Bawah Presiden

Komisi XII DPR Ungkap Poin Krusial RUU Migas, Termasuk Bada Usaha Khusus di Bawah Presiden

Bisnis | Senin, 21 September 2026 | 10:35 WIB

Real Madrid Tumbang di Derby Madrid, Mourinho Serang Keputusan Wasit Ortiz Arias

Real Madrid Tumbang di Derby Madrid, Mourinho Serang Keputusan Wasit Ortiz Arias

Bola | Senin, 21 September 2026 | 10:35 WIB

Review Call My Agent! The Movie: Nostalgia Satir Industri Perfilman Prancis

Review Call My Agent! The Movie: Nostalgia Satir Industri Perfilman Prancis

Your Say | Senin, 21 September 2026 | 10:33 WIB

×