Saat Rewel, Jangan Sogok Anak dengan Camilan, Mengapa?

Ririn Indriani, Risna Halidi

Rabu, 26 April 2017 | 16:26 WIB
Saat Rewel, Jangan Sogok Anak dengan Camilan, Mengapa?
Ilustrasi anak sedang memegang camilan kesukaannya. (Shutterstock)

Suara.com - Menawarkan anak-anak camilan favorit sebagai upaya untuk menenangkan kerewelannya mungkin merupakan keputusan yang buruk. Hal itu terjadi karena ketika anak makan untuk menenangkan perasaan negatifnya, makanan yang dimakannya cenderung tinggi kalori.

Padahal, sogokan ini adalah hal lumrah yang dilakukan banyak orangtua sebagai upaya untuk menenangkan anak yang menangis dengan makanan ringan favorit. Bila hal itu dilakukan, itu berarti orangtua telah mengajarkan anak untuk menjadi seorang pemakan emosional dalam jangka panjang.

Makan emosional atau makan saat sedang merasa sedih atau marah sebagai respons terhadap suasana hati negatif, kini mulai merambah pada anak-anak dan remaja.

Sebuah studi terbaru dari Norwegia, memiliki jawaban dan menunjukkan secara langsung bagaimana  orangtua memberi anak makan lebih banyak untuk menenangkan perasaan negatif mereka, cenderung akan menjadi pemakan  emosional di kemudian hari.

Temuan yang dipublis dalam jurnal Child Development tersebut berasal dari para periset di Universitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Norwegia, King's College London, University College London, dan University of Leeds.

"Memahami dari mana makan emosional berasal merupakan hal yang penting karena perilaku semacam itu dapat meningkatkan risiko kelebihan berat badan dan mengembangkan gangguan makan," tulis pemimpin studi tersebut, Silje Steinsbekk, seorang profesor psikologi di Universitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Norwegia.

Jika kita bisa mengetahui apa yang mempengaruhi perkembangan makan emosional pada anak kecil, maka orangtua bisa diberikan saran bermanfaat tentang bagaimana mencegahnya.

Ketika anak-anak makan untuk menenangkan perasaan negatifnya, makanan mereka cenderung tinggi kalori (misalnya permen) sehingga mereka mengonsumsi lebih banyak kalori. Dan, jika terlalu banyak makan berlebihan, lanjut Steinbekk, mereka juga cenderung kelebihan berat badan.

"Makan emosional juga terkait dengan perkembangan kelainan makan selanjutnya, misalnya, bulimia dan pesta makan)," ungkapnya dilansir Zeenews.

Penelitian ini berusaha untuk mengetahui mengapa anak makan secara emosional dan merupakan penelitian pertama yang mempertimbangkan masalah pada anak usia sekolah. Periset memeriksa pemberian makan emosional di sebuah kelompok yang diwakilkan oleh 801 anak berusia empat tahun, usia enam, delapan, dan 10 di Norwegia.

Mereka berusaha untuk menentukan apakah orangtua yang terlibat dalam penelitian (kebanyakan ibu) membentuk perilaku anak menjadi seorang​ pemakan emosional dengan menawarkan makanan agar membuat mereka merasa lebih baik saat mereka kecewa (emotional feeding), dan apakah orang tua yang anaknya mudah ditenangkan oleh makanan.

Orangtua diminta untuk melengkapi kuesioner yang mengenai saat makan dan temperamen emosional anak-anak seperti betapa mudahnya mereka menjadi marah dan seberapa baik mereka bisa mengendalikan emosi.

Sekitar 65 persen anak-anak menunjukkan bahwa mereka tipe pemakan emosional. Studi tersebut menemukan bahwa anak-anak muda yang orangtuanya menawari mereka makanan untuk kenyamanan pada usia empat dan enam memiliki lebih banyak makan emosional pada usia 8 dan 10.

"Kami tahu bahwa anak-anak yang lebih mudah marah dan memiliki lebih banyak kesulitan mengendalikan emosi mereka lebih cenderung makan secara emosional daripada anak-anak yang lebih tenang, mungkin karena mereka mengalami lebih banyak emosi negatif dan makan membantu mereka tenang," catatan Lars Wichstrøm, profesor psikologi di Universitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Norwegia, yang turut menulis penelitian ini.

Penelitian ini tentu saja menambah pengetahuan orangtua tentang bahaya memberi camilan kepada anak untuk meredakan tangisannya.  

Penulis menyarankan bahwa alih-alih menawarkan makanan kepada anak untuk menenangkannya saat sedih atau kesal, orangtua dan pengasuh lebih baik mencoba menenangkan anak dengan cara mengajak berbicara, menawarkan pelukan, atau menenangkan dengan cara yang tidak melibatkan makanan.

"Makanan dapat bekerja untuk menenangkan anak, tapi sisi negatifnya adalah mengajari anak-anak untuk mengandalkan makanan untuk mengatasi emosi negatif, yang dapat memiliki konsekuensi negatif dalam jangka panjang," tambah Steinsbekk.

Penulis mengingatkan, karena studi ini dilakukan di Norwegia, yang memiliki populasi yang relatif homogen dan berpendidikan tinggi, temuan tersebut seharusnya tidak digeneralisasi ke populasi yang lebih beragam atau budaya dengan praktik makan lainnya tanpa penelitian lebih lanjut.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Bayi Paling Rewel di Dunia Ada di Negara Ini

Bayi Paling Rewel di Dunia Ada di Negara Ini

Health | Selasa, 04 April 2017 | 19:35 WIB

Makan Sambil Nonton TV, Ini Dampaknya bagi Anak

Makan Sambil Nonton TV, Ini Dampaknya bagi Anak

Health | Jum'at, 10 Maret 2017 | 05:06 WIB

Studi: ASI Turunkan Risiko Gangguan Perilaku Anak

Studi: ASI Turunkan Risiko Gangguan Perilaku Anak

Health | Jum'at, 24 Juni 2016 | 12:16 WIB

Ini Tanda Anak Mengalami Gangguan Jiwa

Ini Tanda Anak Mengalami Gangguan Jiwa

Health | Senin, 05 Oktober 2015 | 19:13 WIB

Terkini

Pejabat Kemenhut Disebut Terima 12.500 Dolar Singapura dari Suhardiman Amby

Pejabat Kemenhut Disebut Terima 12.500 Dolar Singapura dari Suhardiman Amby

Riau | Kamis, 06 Agustus 2026 | 10:27 WIB

Purbaya: Siapapun Tak Ikuti Saya, Anggarannya Akan Dipotong, Termasuk Polisi-TNI

Purbaya: Siapapun Tak Ikuti Saya, Anggarannya Akan Dipotong, Termasuk Polisi-TNI

Bisnis | Kamis, 06 Agustus 2026 | 10:25 WIB

Kuota Internet Adalah Hak Milik! MK Wajibkan Operator Sediakan Opsi 'Anti-Hangus'

Kuota Internet Adalah Hak Milik! MK Wajibkan Operator Sediakan Opsi 'Anti-Hangus'

Tekno | Kamis, 06 Agustus 2026 | 10:22 WIB

BGN Bongkar Pelanggaran SOP MBG, Dapur Kedapatan Memasak Terlalu Cepat

BGN Bongkar Pelanggaran SOP MBG, Dapur Kedapatan Memasak Terlalu Cepat

News | Kamis, 06 Agustus 2026 | 10:19 WIB

6 Sepatu Jalan dengan Desain Unik yang Tidak Pasaran, Nyaman Dipakai Seharian

6 Sepatu Jalan dengan Desain Unik yang Tidak Pasaran, Nyaman Dipakai Seharian

Lifestyle | Kamis, 06 Agustus 2026 | 10:18 WIB

Harga Emas dan Buyback di Pegadaian Hari Ini Naik: Antam Menguat, UBS Paling Tinggi

Harga Emas dan Buyback di Pegadaian Hari Ini Naik: Antam Menguat, UBS Paling Tinggi

Bisnis | Kamis, 06 Agustus 2026 | 10:14 WIB

Pemerintah Pangkas Pajak Makanan Jadi 1 Persen, Beban Hidup Rakyat Jepang Berkurang

Pemerintah Pangkas Pajak Makanan Jadi 1 Persen, Beban Hidup Rakyat Jepang Berkurang

News | Kamis, 06 Agustus 2026 | 10:13 WIB

UMY Kembangkan 5 AI Pendeteksi Penyakit, Bantu Diagnosis Kanker hingga Tumor Otak Lebih Cepat

UMY Kembangkan 5 AI Pendeteksi Penyakit, Bantu Diagnosis Kanker hingga Tumor Otak Lebih Cepat

Jogja | Kamis, 06 Agustus 2026 | 10:07 WIB

Apa Tema Hari Pramuka 2026? Ini Makna dan Filosofi Logo Resminya

Apa Tema Hari Pramuka 2026? Ini Makna dan Filosofi Logo Resminya

Lifestyle | Kamis, 06 Agustus 2026 | 10:02 WIB

Unisa Yogyakarta Perkuat Riset Lewat Laboratorium Animal House, Dukung Pengembangan Kandidat Obat

Unisa Yogyakarta Perkuat Riset Lewat Laboratorium Animal House, Dukung Pengembangan Kandidat Obat

Jogja | Kamis, 06 Agustus 2026 | 10:01 WIB

×