Waspada Virus Kawasaki, Rentan Menyerang Anak - anak

Ririn Indriani | Suara.com

Rabu, 31 Januari 2018 | 18:25 WIB
Waspada Virus Kawasaki, Rentan Menyerang Anak - anak
Penyakit yang diakibatkan virus Kawasaki. (Shutterstock)

Suara.com - Bayi berusia 8 bulan di Surabaya, Rayyanza Hamizan Meyfiddanca, terserang virus langka yakni virus Kawasaki.

Dokter Spesialis Anak dr Agus Harianto SpA(K) di Surabaya mengatakan, bayi tersebut saat ini tengah dirawat di Rumah Sakit Siloam Surabaya.

"Hingga kini belum diketahui penyebab virus ini. Virus Kawasaki ini biasanya menyerang anak-anak usia di atas lima bulan. Namun, orang dewasa juga bisa terkena virus ini," kata lelaki spesialis dari RSUD dr Soetomo itu dilansir Antara, Selasa (30/1/2018).

Lantas, apa sebenarnya virus Kawasaki? Dan, seberapa berbahayanya bagi penderita yan terinfeksi virus tersebut? Berikut ulasan lengkap dari Hello Sehat.

Awalnya Demam dan Ruam Merah
Demam berhari-berhari dan ruam merah anak pada anak sering kali dianggap sepele oleh kebanyakan orangtua. Padahal gejala ini merupakan salah satu gejala penyakit pada sistem jantung dan pembuluh darah yang rentan menyerang anak kecil, yaitu penyakit Kawasaki.

Penyakit Kawasaki menyerang pembuluh darah arteri dan menyebabkan inflamasi atau peradangan pada dinding pembuluh darah sepanjang tubuh. Pada kasus lebih lanjut, penyakit ini bisa merambat ke pembengkakan pembuluh darah arteri koroner, yaitu pembuluh darah yang membawa darah ke jantung, dan menyebabkan berbagai penyakit pembuluh darah dan jantung yang lebih lanjut.

Tidak hanya itu, penyakit ini juga menyerang kelenjar getah bening, kulit, dan selaput lendir di dalam mulut, hidung, dan tenggorokan, sehingga sering kali disebut sebagai mucocutaneous lymph node syndrome.

Penyakit ini umumnya menyerang anak yang berusia di bawah lima tahun, sering kali pada kisaran umur satu hingga dua tahun. Gejalanya yang mirip dengan penyakit-penyakit yang dianggap ‘ringan’ membuat penyakit ini sering terlambat didiagnosis.

Menurut seorang konsultan jantung anak, Dr. Najib Advani SpA (K), MMed. (Paed), kebanyakan pasien baru ditangani pada saat mereka sudah berada dalam fase sub akut, di mana sudah terjadi kelainan jantung. Hal ini sangat berisiko mengingat penanganan yang terlambat akan berakibat fatal bagi anak.

Penyebab Penyakit Kawasaki
Para ahli belum mengetahui apa penyebab penyakit Kawasaki secara pasti, masih terlalu banyak kemungkinan penyebab penyakit kardiovaskular pada anak ini. Kemungkinan besar penyakit ini disebabkan oleh virus, dilihat dari karakteristik gejala-gejala yang ditimbulkan.

Namun, mengingat penyakit ini tidak menular, sepertinya virus bukanlah penyebab satu-satunya penyakit ini. Beberapa studi menyebutkan bahwa penyakit Kawasaki kemungkinan disebabkan oleh reaksi tidak normal terhadap virus tertentu.

Studi lainnya juga mengatakan bahwa penyakit ini merupakan kelainan autoimun, di mana sistem imun dalam tubuh anak mengira bahwa jaringan-jaringan tubuh merupakan pathogen sehingga jaringan-jaringan tersebut diserang.

Gejala Penyakit Kawasaki
Gejala penyakit Kawasaki terbagi menjadi tiga fase, yaitu fase akut, fase sub akut, dan fase penyembuhan. Namun, dalam beberapa kasus, pasien bisa mengalami fase lanjutan, yaitu fase kronis.

Fase pertama
Fase pertama disebut sebagai fase akut yang berlangsung selama satu hingga dua minggu. Ciri-ciri dan gejala yang mungkin ditunjukkan oleh anak yang terserang penyakit ini:
1. Demam lebih dari 39 derajat C dan berlangsung selama lima hari atau lebih
2. Mata merah (konjungtivitis) tanpa adanya kotoran
3. Ruam merah pada bagian-bagian tubuh dan bagian kelamin
4. Bibir bengkak, merah, kering, pecah-pecah
5. Lidah bengkak dan merah (strawberry tongue)
6. Telapak tangan dan telapak kaki bengkak dan berwarna merah
7. Pembengkakan pada selaput lendir di leher

Gejala-gejala yang ditunjukkan pada fase pertama ini agak mirip dengan penyakit-penyakit lain, seperti demam, campak, alergi, atau penyakit gondok (parotitis). Banyak orangtua yang mengira bahwa anaknya terkena demam biasa, sehingga mereka memberikan acetaminophen atau ibuprofen untuk meredakan demam pada anak.

Namun, demam pada anak yang menderita penyakit Kawasaki tidak akan responsif terhadap antiperik maupun antibiotik. Selain itu, pemberian obat-obatan juga bisa mengganggu pengukuran seberapa parah dan seberapa lama durasi demam anak, yang akan digunakan untuk diagnosis selanjutnya oleh dokter yang bersangkutan. Diagnosis sebaiknya dilakukan pada fase ini.

Fase kedua
Fase selanjutnya disebut sebagai fase sub akut, bisa terjadi hingga minggu keenam. Ciri-ciri yang dapat terlihat:
1. Pengelupasan kulit tangan dan kaki, terutama pada ujung-ujung jari
2. Nyeri sendi
3. Diare
4. Muntah
5. Hilangnya nafsu makan
6. Sakit pada bagian abdominal

Pada fase ini, terjadi peningkatan jumlah trombosit di dalam tubuh yang bisa melebihi 1 juta/μL darah (trombositosis) dan perkembangan aneurisme koroner. Jika pada fase ini anak masih tetap demam, risiko komplikasi jantung semakin meningkat. Risiko kematian secara tiba-tiba juga meningkat drastis pada fase ini.

Fase ketiga
Pada fase ketiga yaitu fase penyembuhan, tanda-tanda dan gejala-gejala perlahan mulai menghilang, kecuali jika komplikasi penyakit makin parah. Setelah satu hingga dua bulan sejak demam, muncul garis melintang horizontal pada kuku tangan dan kaki, dikenal sebagai Beau’s lines, akibat adanya penyakit yang mempengaruhi keseluruhan tubuh. Pada fase penyembuhan, ketidaknormalan jantung mungkin masih ada.

Fase kronis
Fase kronis hanya terjadi pada pasien yang mengalami komplikasi jantung yang parah. Hal ini biasanya dapat berlanjut hingga dewasa, mengingat penyumbatan pembuluh darah yang terbentuk pada masa kanak-kanak bisa pecah pada saat dewasa.

Komplikasi lainnya yang mungkin terjadi antara lain adalah inflamasi otot jantung (miokarditis), inflamasi perikardium (perikarditis), detak jantung tidak normal (aritmia), pembesaran ukuran jantung (kardiomegali), hingga gangguan pada katup jantung yang menyebabkan darah mengalir dari ventrikel kiri ke atrium kiri (regurgitasi mitral).

Pengobatan Penyakit Kawasaki
Semakin cepat penanganan penyakit ini, risiko lanjutan akan berkurang. Jika anak mengalami beberapa gejala seperti yang telah dipaparkan pada bagian gejala di fase satu penyakit ini, orangtua dianjurkan untuk mengunjungi dokter, terutama dokter spesialis anak dan dokter spesialis jantung anak, untuk diagnosis lebih lanjut.

Terdapat dua jenis pengobatan penyakit akibat virus Kawasaki, yaitu menggunakan obat immunoglobulin (IVIG) dan aspirin, yang mana keduanya harus dilakukan berdasarkan persetujuan profesional.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Waspada, Flu Tahun Ini Lebih Berat dari Tahun-tahun Sebelumnya

Waspada, Flu Tahun Ini Lebih Berat dari Tahun-tahun Sebelumnya

Health | Rabu, 01 November 2017 | 10:55 WIB

BPOM Pastikan Pesan Virus Berbahaya Dalam Paracetamol Hoax

BPOM Pastikan Pesan Virus Berbahaya Dalam Paracetamol Hoax

Health | Sabtu, 29 Juli 2017 | 19:26 WIB

Hati-hati, Risiko Penyakit Ini Mengintai Saat Berjabat Tangan!

Hati-hati, Risiko Penyakit Ini Mengintai Saat Berjabat Tangan!

Health | Rabu, 14 Juni 2017 | 08:00 WIB

Terkini

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 10:54 WIB

Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat

Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat

Health | Senin, 30 Maret 2026 | 19:57 WIB

Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem

Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem

Health | Senin, 30 Maret 2026 | 13:21 WIB

Ketahui Manfaat Tak Terduga Bermain Busa Lembut Saat Mandi untuk Perkembangan Otak Si Kecil

Ketahui Manfaat Tak Terduga Bermain Busa Lembut Saat Mandi untuk Perkembangan Otak Si Kecil

Health | Minggu, 29 Maret 2026 | 21:12 WIB

Campak pada Orang Dewasa Apakah Menular? Ketahui Gejala, Pencegahan, dan Pengobatannya

Campak pada Orang Dewasa Apakah Menular? Ketahui Gejala, Pencegahan, dan Pengobatannya

Health | Minggu, 29 Maret 2026 | 10:42 WIB

2 Anak Harimau Mati karena Panleukopenia, Dokter Hewan: Lebih Mematikan dari Kucing Domestik

2 Anak Harimau Mati karena Panleukopenia, Dokter Hewan: Lebih Mematikan dari Kucing Domestik

Health | Sabtu, 28 Maret 2026 | 20:55 WIB

Transformasi Digital di Rumah Sakit: Bagaimana AI dan Sistem Integrasi Digunakan untuk Pasien

Transformasi Digital di Rumah Sakit: Bagaimana AI dan Sistem Integrasi Digunakan untuk Pasien

Health | Sabtu, 28 Maret 2026 | 08:47 WIB