Ritual Sifon, Tradisi Sunat Pakai Bambu yang Bisa Mengancam Nyawa

Ririn Indriani
Ritual Sifon, Tradisi Sunat Pakai Bambu yang Bisa Mengancam Nyawa
Pisang simbol lelaki disunat atau dikhitan. [shutterstock]

Tradisi sunat turun temurun yang dianut suku Atoni Meto NTT ini dilakukan pada lelaki setelah menginjak usia 18 tahun.

Suara.com - Sunat tidak diwajibkan secara medis, tapi dapat dilakukan atas berbagai alasan seperti agama, budaya, hingga pilihan pribadi.

Tak hanya itu, sunat juga dapat menurunkan risiko lelaki tertular HIV. Tradisi sunat pun bisa berbeda-beda di setiap wilayah, contohnya ritual sifon di NTT yang mempraktikkan sunat pakai bambu.

Meski nilai adat dan kebudayaannya sakral, dampak ritual sifon bisa sangat fatal bagi kesehatan. Lalu, apa sebenarnya tradisi sifon? Simak ulasan lengkap yang dihimpun Hello Sehat.

Sifon adalah tradisi sunat yang turun-temurun dianut oleh suku Atoni Meto di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT). Jika pada umumnya sunat dilakukan saat anak laki-laki masih kecil, sifon ditujukan untuk lelaki setelah menginjak usia 18 tahun.

Sifon biasanya dilaksanakan pada musim panen dan memakan waktu selama tiga minggu sampai satu bulan lamanya. Seperti apa prosesi sifon?

Sebelum disunat, sang pemuda akan diminta untuk mengumpulkan dan menghitung batu sesuai dengan jumlah perempuan yang pernah terlibat hubungan seks dengannya. Setelah itu, tukang sunat yang disebut ahelet akan meminta pemuda tersebut berendam di dalam air sungai yang mengalir.

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS