Ingin Tahu Apa Saja Tanda Hamil? Baca Ini!

Ririn Indriani | Suara.com

Selasa, 06 Maret 2018 | 17:37 WIB
Ingin Tahu Apa Saja Tanda Hamil? Baca Ini!
Ilustrasi mual dan muntah merupakan beberapa tanda hamil. (Shutterstock)

Suara.com - Tanya:

Selamat sore Dokter,
Beberapa hari ini saya tidak doyan makan nasi. Setiap selesai makan atau ngemil, saya mual tapi tidak sampai muntah. Payudara juga rasanya kencang, perut sebah dan rasanya kayak kembung. Saya pernah sekali coba tespack tapi hasilnya negatif. Siklus mens saya masih sekitar 2 minggu lagi. Apakah ini gejala hamil, Dok? Mohon penjelasannya. Terima kasih.

VB

Jawab:

Selamat sore Saudari VB,
Kehamilan dapat memberikan beberapa tanda yang dapat dirasakan oleh seorang perempuan. Gejala-gejala yang Anda sebutkan, memang bisa menjadi tanda kehamilan.

Namun biasanya tanda kehamilan tersebut akan muncul pada rentang waktu tertentu setelah konsepsi (hubungan seksual yang menghasilkan kehamilan). Berikut ini tanda-tanda kehamilan dan rentang waktu terjadinya tanda kehamilan tersebut.

1. Tidak mendapat siklus menstruasi
Tanda ini pasti dialami oleh semua perempuan hamil. Pada beberapa perempuan, tanda ini adalah tanda pertama yang mereka sadari. Saat terlambat menstruasi biasanya usia kehamilan sudah menginjak 4-5 minggu.

2. Flek dan kram perut
Flek dan kram perut ini merupakan tanda implantasi janin ke rahim. Janin akan berimplantasi ke rahim kira-kira 1 minggu setelah pembuahan terjadi. Bila dihitung dari hari pertama menstruasi terakhir, tanda ini akan muncul kurang lebih 3 minggu setelah hari pertama menstruasi terakhir. Namun tidak semua perempuan mengalami gejala ini.

3. Mual dan muntah
Mual dan muntah terjadi karena pengaruh dari hormon kehamilan yang meningkat saat hamil. Mual dan muntah dapat mulai dirasakan sekitar 4-6 minggu setelah hari pertama menstruasi terakhir, tapi tidak semua perempuan mengalami gejala ini.

4. Payudara cenderung lebih besar dan kadang nyeri
Pembesaran pada payudara dapat mulai dirasakan pada waktu yang sama dengan mual dan muntah yaitu sekitar 4-6 minggu setelah hari pertama menstruasi terakhir.

5. Sering kencing
Gejala sering kencing terjadi karena peningkatan volume darah pada ibu hamil, serta pembesaran rahim yang menekan kandung kencing atau buli.

Gejala sering kencing terjadi pada trimester pertama, membaik pada trimester kedua, dan kembali lagi pada trimester ketiga. Gejala ini bisa dimulai sekitar 9-16 minggu setelah hari pertama menstruasi terakhir.

6. Konstipasi atau sulit buang air besar
Konstipasi pada perempuan hamil terjadi, karena efek dari hormon progesteron yang meningkat, serta efek rahim yang membesar yang menekan usus besar. Gejala ini dapat mulai dirasakan pada rentang waktu yang besar sekitar 9-32 minggu, berbeda-beda pada setiap perempuan.

7. Nyeri kepala dan nyeri punggung
Nyeri punggung dapat dirasakan pada minggu-minggu awal kehamilan, sekitar 8-12 minggu setelah hari pertama menstruasi terakhir. Nyeri akan membaik pada trimester kedua, lalu bertambah parah pada trimester ketiga hingga menjelang persalinan.

8. Pusing
Pusing terjadi karena efek hormonal pada kehamilan yang menyebabkan penurunan sedikit pada tekanan darah. Pada trimester terakhir pusing juga dapat terjadi, karena penurunan jumlah darah yang kembali ke jantung lantaran tekanan rahim yang membesar pada pembuluh darah balik di kaki. Pusing biasanya terjadi pada trimester pertama dan trimester ketiga.

9. Perasaan sering berubah-ubah (gangguan mood)
Gangguan mood juga disebabkan efek hormonal dalam masa kehamilan. Dapat terjadi setiap saat dari trimester pertama hingga trimester ketiga, tapi tidak semua perempuan merasakan gejala ini.

10. Kelelahan
Kelelahan juga merupakan tanda yang tidak pasti pada kehamilan, karena ada perempuan yang mengalami, tapi ada juga yang tidak mengalami. Namun kelelahan biasanya dirasakan pada trimester pertama kehamilan.

Untuk memastikan apakah Anda hamil atau tidak, sebaiknya dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan alat pemeriksaan kehamilan atau test pack. Anda juga perlu memperhatikan beberapa hal saat menggunakan test pack misalnya, test pack akan menunjukkan hasil positif bila kadar hormon kehamilan dalam kencing cukup tinggi.

Biasanya hormon kehamilan ini dapat terdeteksi pada kencing setelah 9-12 hari setelah pembuahan. Namun sebagian besar test pack dapat mendeteksi kehamilan sejak hari pertama terlambat haid.

Bila saat ini anda sudah mengalami terlambat menstruasi kira-kira 1 minggu, kemungkinan test pack sudah akan dapat mendeteksi bila anda mengalami kehamilan.

Hasil positif hampir selalu benar, sementara hasil negatif biasanya tidak terlalu akurat. Sehingga jika Anda memperoleh hasil negatif, cobalah untuk melakukan test pack ulang 3-7 hari kemudian.

Demikian penjelasan yang dapat disampaikan seputar tanda hamil, semoga membantu, terima kasih.

Dijawab oleh: dr. Ayu Andrian Putri
Sumber: https://meetdoctor.com

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Urat Terlihat di Hidung Bayi, Adakah Maknanya?

Urat Terlihat di Hidung Bayi, Adakah Maknanya?

Health | Senin, 05 Maret 2018 | 19:04 WIB

Minum Obat Maag Tak Tepat Waktu, Adakah Efeknya?

Minum Obat Maag Tak Tepat Waktu, Adakah Efeknya?

Health | Minggu, 04 Maret 2018 | 16:45 WIB

Apa Bahayanya Memakai Sabun Kewanitaan Kedaluwarsa?

Apa Bahayanya Memakai Sabun Kewanitaan Kedaluwarsa?

Health | Rabu, 28 Februari 2018 | 18:30 WIB

Terkini

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 10:54 WIB

Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat

Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat

Health | Senin, 30 Maret 2026 | 19:57 WIB

Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem

Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem

Health | Senin, 30 Maret 2026 | 13:21 WIB

Ketahui Manfaat Tak Terduga Bermain Busa Lembut Saat Mandi untuk Perkembangan Otak Si Kecil

Ketahui Manfaat Tak Terduga Bermain Busa Lembut Saat Mandi untuk Perkembangan Otak Si Kecil

Health | Minggu, 29 Maret 2026 | 21:12 WIB

Campak pada Orang Dewasa Apakah Menular? Ketahui Gejala, Pencegahan, dan Pengobatannya

Campak pada Orang Dewasa Apakah Menular? Ketahui Gejala, Pencegahan, dan Pengobatannya

Health | Minggu, 29 Maret 2026 | 10:42 WIB

2 Anak Harimau Mati karena Panleukopenia, Dokter Hewan: Lebih Mematikan dari Kucing Domestik

2 Anak Harimau Mati karena Panleukopenia, Dokter Hewan: Lebih Mematikan dari Kucing Domestik

Health | Sabtu, 28 Maret 2026 | 20:55 WIB