Ayah Baru Juga Bisa Depresi Pascamelahirkan?

Ririn Indriani, Dinda Rachmawati

Minggu, 22 April 2018 | 18:14 WIB
Ayah Baru Juga Bisa Depresi Pascamelahirkan?
Ilustrasi ayah baru ternyata bisa mengalami depresi pascamelahirkan. (Shutterstock)

Suara.com - Pada hari-hari setelah putranya lahir, Rob Sandler menemukan sensasi bahagia menjadi ayah baru, yang berubah dengan perasaan takut dan putus asa.

Perasaan itu ditambah dengan kurang tidur dan stres, dan memuncak saat putranya Bris melakukan proses sunat.

"Ketika teman-temannya pergi, saya merasa anak-anak juga akan pergi selamanya dan saya terjebak dalam situasi ini yang tidak akan pernah menjadi lebih baik,” kata Sandler, seorang eksekutif pemasaran di Dallas dilansir Independent.

Yang terjadi kemudian, lanjut dia, adalah bulan-bulan kesedihan, kecemasan, dan mungkin yang paling mengkhawatirkan adalah perasaan kecewa yang akut terhadap kemampuannya menjadi orangtua yang baik.

Kasus Sandler dalam beberapa tahun terakhir, menurut banyak penelitian, semakin meningkat. Visibilitas ayah seperti Sandler telah memunculkan gagasan bahwa depresi pascamelahirkan bukan hanya dialami ibu, tapi juga para ayah.

Studi menunjukkan bahwa fenomena tersebut dapat terjadi pada 7 hingga 10 persen ayah baru, dibandingkan dengan sekitar 12 persen ibu baru, dan bahwa ayah yang depresi lebih cenderung kasar, seperti memukul anak-anaknya dan mereka tidak menyadarinya.

Sekarang, sebuah penelitian di University of Southern California telah menemukan hubungan antara depresi dan kadar testosteron ada ayah baru, yang menambah berat argumen bahwa depresi pascamelahirkan tidak hanya untuk perempuan.

Studi ini juga menemukan bahwa kadar testosteron yang tinggi pada ayah baru membantu melindungi merela terhadap depresi, yang juga berkorelasi dengan peningkatan risiko depresi pada ibu baru.

"Kami tahu lelaki mengalami depresi pascamelahirkan, dan kami tahu ada penurunan testosteron pada ayah baru, tetapi kami tidak tahu mengapa," kata Darby Saxbe, seorang profesor psikologi di USC dan penulis laporan terbaru.

baca juga

Sering kali, lanjut Saxbe, hormon tertentu memang mendasari beberapa depresi pascamelahirkan pada ibu, tetapi harus ada begitu banyak perhatian yang diberikan kepada para ayah.

"Kami mencoba mengumpulkan potongan untuk memecahkan teka-teki ini," ujar dia.

Nyatanya, kata penelitian ini, depresi pascamelahirkan tak hanya dialami oleh orangtua yang baru melahirkan anak mereka. Namun hal yang sama juga diperlihatkan oleh ibu dan ayah yang mengadopsi anak-anak, yang menunjukkan tanda-tanda kondisi tersebut.

Tetapi beberapa ahli kesehatan mental mempertanyakan apakah pengalaman yang dirasakan ayah setelah anak mereka lahir benar-benar merupakan depresi pascamelahirkan.

"Tidak diragukan lagi, masa perinatal adalah salah satu yang paling sulit bagi lelaki dan perempuan," kata Dr Samantha Meltzer-Brody, seorang profesor psikiatri perinatal di University of North Carolina School of Medicine.

"Tetapi proses melahirkan dan permainan hormonal yang dialami perempuan berada di planet yang berbeda. Ketika berbicara tentang depresi pada ayah versus ibu, saya melihat mereka sebagai apel dan jeruk yang sangat berbeda," katanya lagi.

Memang, mendefinisikan depresi pascamelahirkan telah menjadi fokus para ahli selama berabad-abad, mereka harus melawan stigma sosial yang mencegah banyak perempuan dari mengakui mereka memiliki masalah.

Perempuan yang diganggu oleh kesedihan, kecemasan dan pikiran untuk bunuh diri yang terkait dengan kondisi ini, pertama kali dicatat oleh Hippocrates pada 400 SM. Ini telah lama ada di kepala mereka, yang membuat mereka cenderung menyalahkan diri mereka sendiri.

Dalam lima tahun terakhir, beberapa penelitian telah menunjukkan bukti adanya hubungan yang lama, antara depresi pascamelahirkan dan fluktuasi hormonal yang umum terjadi pada perempuan setelah melahirkan, yang membawa legitimasi medis yang lebih besar untuk diagnosis.

Namun, para peneliti masih belum dapat mengatakan seberapa besar peran hormon dapat bermain terhadap faktor-faktor lain seperti stres, kurang tidur dan riwayat penyakit mental.

"Apa yang saya anggap penting adalah anggapan bahwa lelaki tidak melalui perubahan hormon yang liar, seperti yang dialami perempuan," kata Will Courtenay, seorang psikolog dan penulis buku "Dying to Be Men: Psychosocial, Environmental dan Biobehavioural Directions in Promoting The Health of Men and Boys.

"Ini bukan hanya testosteron yang berfluktuasi pada ayah baru, tetapi juga hormon lain yang kita tahu terkait pada perempuan yang baru melahirkan, termasuk estradiol dan prolaktin," katanya.

"Perempuan juga tidak sendirian dalam menghadapi stigma seputar penyakit mental. Ada mitos yang sangat kuat di banyak negara, bahwa lelaki tidak boleh mengalami depresi, atau jika mereka merasakannya, mereka tidak boleh mengungkapkannya. Akibatnya, laki-laki cenderung mudah mengalami depresi," kata Courtenay.

Pada 2007, Courtenay mendirikan Postpartummen.com sebagai tempat berkumpul bagi para ayah baru yang berjuang dengan masalah kesehatan mental. Hari ini, situs tersebut menawarkan sumber daya untuk lelaki yang mencari bantuan. Postpartum Support International juga menjadi tuan rumah konsultasi telepon gratis untuk ayah pada Senin pertama setiap bulan.

Mereka setuju bahwa terlalu sedikit perhatian telah diberikan kepada peran laki-laki dalam diskusi pascamelahirkan. Dr Jennifer L. Payne, direktur Pusat Gangguan Suasana Hati Perempuam di Johns Hopkins School of Medicine, mengatakan penelitian baru ini membantu menjelaskan peran pasangan dan hormon dalam kondisi tersebut, tetapi tidak menyebutkan apa yang dialami lelaki sebagai depresi pascamelahirkan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Cara Menyenangkan Tangkal Depresi, Makan Sayur dan Buah Segar!

Cara Menyenangkan Tangkal Depresi, Makan Sayur dan Buah Segar!

Health | Jum'at, 20 April 2018 | 10:50 WIB

Dua Kali Gagal Ujian, Dokter Molyono Lompat dari Lantai 8 Plaza

Dua Kali Gagal Ujian, Dokter Molyono Lompat dari Lantai 8 Plaza

News | Kamis, 12 April 2018 | 17:33 WIB

Awas, Mendadak Berhenti Olahraga Bisa Bikin Depresi!

Awas, Mendadak Berhenti Olahraga Bisa Bikin Depresi!

Health | Jum'at, 23 Maret 2018 | 18:45 WIB

Terkini

Sinyal Keras MUI Lampung: Siap Ketuk Palu Fatwa Haram Rokok Elektrik Jika Terbukti Membahayakan

Sinyal Keras MUI Lampung: Siap Ketuk Palu Fatwa Haram Rokok Elektrik Jika Terbukti Membahayakan

Lampung | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:50 WIB

Hujan Ekstrem 349 Milimeter Guyur Cilacap, Banjir dan Longsor Terjang Sejumlah Wilayah

Hujan Ekstrem 349 Milimeter Guyur Cilacap, Banjir dan Longsor Terjang Sejumlah Wilayah

Jawa Tengah | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:49 WIB

Warga Dukung Pengusutan Perusakan Warung Mi Babi Sukoharjo, Polda Jateng Jamin Proses Transparan

Warga Dukung Pengusutan Perusakan Warung Mi Babi Sukoharjo, Polda Jateng Jamin Proses Transparan

Jawa Tengah | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:40 WIB

Jangan Lewatkan! ENHYPEN Rilis Jadwal Teaser Single The Sin: Parallel World

Jangan Lewatkan! ENHYPEN Rilis Jadwal Teaser Single The Sin: Parallel World

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:40 WIB

Di Balik Pahitnya Matcha, Ada Ancaman Gula Berlebih yang Bikin Tubuh Menjerit!

Di Balik Pahitnya Matcha, Ada Ancaman Gula Berlebih yang Bikin Tubuh Menjerit!

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:35 WIB

Bisnis Elektronik Nasional Hadapi Tantangan di Tengah Gejolak Ekonomi Dan Pelemahan Rupiah

Bisnis Elektronik Nasional Hadapi Tantangan di Tengah Gejolak Ekonomi Dan Pelemahan Rupiah

Bali | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:31 WIB

Putusan MA soal Ijazah Gibran, Akademisi Kasih Dua Pilihan: Mundur atau Dimakzulkan

Putusan MA soal Ijazah Gibran, Akademisi Kasih Dua Pilihan: Mundur atau Dimakzulkan

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:30 WIB

70 Tahun Jadi Bagian Sejarah Indonesia, Panasonic Gobel Rawat Memori Dan Komitmen Mitra

70 Tahun Jadi Bagian Sejarah Indonesia, Panasonic Gobel Rawat Memori Dan Komitmen Mitra

Bali | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:23 WIB

Pekalongan hingga Demak, Ancaman Rob Paksa Warga Pesisir Beradaptasi, Kerugian Capai Ratusan Triliun

Pekalongan hingga Demak, Ancaman Rob Paksa Warga Pesisir Beradaptasi, Kerugian Capai Ratusan Triliun

Jawa Tengah | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:18 WIB

Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina

Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:13 WIB

×