Soal Kram Otot Anthony Ginting, Ini Sebab dan Cara Pencegahannya

Ade Indra Kusuma, Dinda Rachmawati

Kamis, 23 Agustus 2018 | 10:59 WIB
Soal Kram Otot Anthony Ginting, Ini Sebab dan Cara Pencegahannya
Langkah tunggal putra Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting terhenti saat melawan pemain China, Shi Yuqi pada final Bulutangkis Beregu Putra Asian Games 2018 di Jakarta karena kondisi kakinya yang sakit.[ANTARA FOTO/ INASGOC]

Suara.com - Pemain tunggal putra Indonesia Anthony Sinisuka Ginting harus berhenti pada akhir pertandingan melawan wakil Cina Shi Yu Qi, dalam laga final bulu tangkis beregu Asian Games 2018 di Istora Senayan, Rabu, (22/8/2018). Pebulu tangkis berusia 21 tahun itu harus menyerah karena mengalami cedera atau kram pada pahanya.

Disampaikan pelatihnya di Pelatnas PBSI Cipayung, Hendry Saputra, dalam keterangan tertulis, Anthony mengalami kram kronis dan dehisdrasi sehingga adanya tarikan di otot yang sangat kuat dari ujung jari sampai paha yang membuatnya tidak bisa melanjutkan pertandingan.

Kram otot, seperti yang dilansir dari Active.com sebenarnya adalah permalasahan umum yang paling sering dialami para atlet. Kondisi ini terjadi karena adanya kontraksi otot involunter (bekerja diluar kehendak) sehingga terasa sangat menyakitkan. Ketika otot tersebut berkontraksi cukup kuat, juga berkelanjutan, maka terjadilah kram otot. Kondisi ini sering terlihat atau teraba sebagai otot yang mengeras.  

Tapi, apa sih yang menyebabkan seorang atlet, seperti Anthony mengalami kram otot saat berolahraga sementara yang lainnya tidak? Nah berikut penyebab dan cara mencegah kram otot saat berolahraga.


1. Dehidrasi
Dehidrasi dan elektrolit tubuh yang tidak seimbang sering diduga sebagai penyebab kram otot saat berolahraga. Bagaimana dehidrasi bisa menyebabkan kram otot? Ini dikarenakan cairan di dalam tubuh ada di dalam sel atau di luar sel. Ketika kita mengalami dehidrasi, cairan di luar sel menurun. Pengurangan cairan menyebabkan ujung saraf menjadi satu, sehingga otot berkontraksi di luar kontrol yang dapat menyebabkan kram otot. 

Dengan mempertahankan hidrasi yang tepat, Anda dapat mencegah perubahan dramatis dalam cairan yang berkontribusi terhadap kontraksi otot yang abnormal. Karenanya, untuk mencegah dehidrasi, mulailah dengan minum cairan sesuai kebutuhan Anda. Kebutuhan cairan setiap orang berbeda-beda, namun umumnya tubuh kehilangan 0,4-1,8 liter air untuk setiap satu jam berolahraga.


2. Perhatikan elektrolit dan konsumsi garam secukupnya
Air juga tidak sendirian dalam menjaga keseimbangan cairan di dalam tubuh Anda. Elektrolit mengontrol pergeseran cairan masuk dan sel bekerja. Elektrolit yang paling diperhatikan selama latihan adalah natrium, yang dapat ditemukan di dalam garam.

Kita kehilangan lebih banyak natrium daripada elektrolit lainnya saat berkeringat. Begitu pula cairan dan sodium di dalam tubuh. Penggantian air tanpa natrium dapat menyebabkan kadar natrium darah yang sangat rendah, yang menyebabkan hiponatremia dan kram otot. Kedua kondisi ini akan terjadi jika Anda berkeringat terlalu banyak dan kehilangan banyak sodium dalam tubuh. Bahkan kram otot yang Anda alami dapat berlanjut ke keadaan darurat medis yang serius ketika tidak segera ditangani.

Untuk mencegah hiponatremia dan kram otot Anda harus menjaga natrium dan cairan di dalam tubuh. Ini sangat berguna untuk individu yang rentan mengalami kram otot. Minuman olahraga sodium tinggi dapat memperlambat kram otot pada mereka yang sering mengalaminya. Sodium juga dapat dikonsumsi dari makanan asin.


3. Jangan khawatir dengan karbohidrat
Deplesi karbohidrat juga akan menyebabkan kram otot. Karbohidrat adalah bahan bakar utama yang digunakan selama olahraga. Ada jumlah karbohidrat yang terbatas yang disimpan sebagai glikogen di otot-otot kita untuk menyediakan energi untuk berolahraga. 

Begitu simpanan glikogen itu telah habis, kita berisiko tinggi mengalami kram otot. Otot membutuhkan karbohidrat (atau energi) untuk berkontraksi; di saat yang bersamaan juga membutuhkan energi untuk bersantai. Ketika tidak ada bahan bakar yang cukup di dalam tubuh, tetapi kita terus berolahraga dan mengontraksi otot-otot kita, relaksasi otot akan terganggu, dan kram pun terjadi.

Dibutuhkan sekitar 60 hingga 90 menit latihan untuk menghabiskan simpanan glikogen. Bahkan latihan yang sangat intens yang berlangsung hanya 45 menit dapat menguras simpanan glikogen. Pastikan untuk mengonsumsi makanan atau camilan yang kaya karbohidrat sebelum olahraga. Mengkonsumsi karbohidrat dengan tepat sangat layak untuk mencegah kram otot.


4. Peregangan dan pemanasan
Kejadian kram otot juga dapat dikurangi dengan melakukan peregangan dan pemanasan sebelum dan sesudah berolahraga. Peregangan membuat otot Anda menjadi lebih fleksibel sehingga lebih sulit terkena kram.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Aneh, Loket Baru Buka Tiket Voli Asian Games Sudah Habis

Aneh, Loket Baru Buka Tiket Voli Asian Games Sudah Habis

News | Kamis, 23 Agustus 2018 | 10:06 WIB

Shi Yuqi: Semangat Anthony Luar Biasa

Shi Yuqi: Semangat Anthony Luar Biasa

Sport | Kamis, 23 Agustus 2018 | 04:30 WIB

Terkini

Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining

Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining

Health | Jum'at, 29 Mei 2026 | 21:33 WIB

Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem

Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem

Health | Jum'at, 29 Mei 2026 | 11:18 WIB

Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua

Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 23:06 WIB

Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?

Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 17:41 WIB

Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak

Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 11:27 WIB

Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan

Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 09:44 WIB

Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern

Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern

Health | Rabu, 27 Mei 2026 | 11:09 WIB

Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian

Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian

Health | Rabu, 27 Mei 2026 | 09:22 WIB

Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI

Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI

Health | Selasa, 26 Mei 2026 | 23:23 WIB

Mengapa Lupus Lebih Banyak Menyerang Wanita?

Mengapa Lupus Lebih Banyak Menyerang Wanita?

Health | Selasa, 26 Mei 2026 | 15:00 WIB