Depresi Pasca-melahirkan, Ibu Ini Dihantui 10 Kali Ketakutan Anaknya Mati

Ade Indra Kusuma, Dinda Rachmawati

Rabu, 10 April 2019 | 13:08 WIB
Depresi Pasca-melahirkan, Ibu Ini Dihantui 10 Kali Ketakutan Anaknya Mati
Ilustrasi perempuan depresi (Shutterstock)

Suara.com - Depresi Pasca Melahirkan, Ibu Ini Dihantui 10 Kali Ketakutan Anaknya Mati.

Menurut beberapa survei, sekitar satu dari lima perempuan akan mengalami masalah kesehatan mental selama kehamilan atau setelah melahirkan. 

Hal ini diperparah dengan adanya stigma yang diterima ibu baru, sehingga mereka takut mencari bantuan atau mengakui bahwa mereka berjuang setelah melahirkan. 

Akibatnya, banyak ibu gagal memperhatikan kondisi mereka atau mengenali tanda-tanda depresi pasca melahirkan sehingga mereka tidak bisa mendapatkan bantuan. 

Inilah yang dialami Hannah Wilkinson saat melahirkan anak pertamanya, Finley, 15 bulan lalu. Awalnya itu adalah saat yang menyenangkan. Setelah menderita keguguran berulang, dia dan suaminya akhirnya memiliki bayi yang mereka tunggu-tunggu. 

Tapi kebahagiaan itu tidak lama ia rasakan. Hingga akhirnya kecemasan mulai merayap dan menghancurkan kehidupan baru Hannah yang indah sebagai seorang ibu. 

"Keguguran membuat saya harus melakukan banyak penyelidikan, pengujian genetik dan akhirnya pengobatan. Itu adalah waktu yang benar-benar menghancurkan hati dan seluruh kehamilan saya dengan Finley dibanjiri rasa takut bahwa saya akan kehilangan dia," ungkap Hannah seperti melansir Metro.

Ilustrasi perempuan merasa stres dan depresi (Shutterstock)
Ilustrasi perempuan merasa stres dan depresi (Shutterstock)

Di sinilah kecemasan Hannah dimulai. Saat dia ingin melahirkan dan akhirnya diunduksi, Hannah berpikir dia tidak percaya akan tubuhnya karena telah berkali-kali mengecewakannya. 

"Saat dia dilahirkan, saya diliputi oleh cinta dan kelegaan bahwa dia akhirnya di sini dengan aman. Ya, tiga bulan pertama yang melelahkan, tetapi emosi yang kuat membuat saya melewatinya. Saya baik-baik saja," ujar dia. 

baca juga

Sampai akhirnya Finley memasuki usia empat bulan, semuanya mulai salah. 

"Saya mulai terobsesi dengan keselamatan dan kesejahteraannya. Saya tidak lagi merasa senang meninggalkannya bersama siapa pun, termasuk suami saya, bahkan selama setengah jam," jelas dia. 

"Saya yakin bahwa saya telah melakukan kesalahan dan dia akan mati. Saya bahkan memiliki pikiran yang mengerikan ketika saya membaringkannya di ranjangnya, bahwa saya menciumnya untuk terakhir kalinya di dalam peti matinya. Ketika dia di kamar mandi, entah bagaimana dia akan keluar dari lengan saya dan tenggelam," kata dia.

"Saya akan melewati tangga dan membayangkan tanpa sengaja melemparkannya ke bawah. Ketakutan terbesar dan paling invasif saya adalah setiap kali saya berada di mobil. Saya sangat yakin bahwa dia akan mati di kursi mobilnya, sehingga saya harus berhenti dan berulang kali memeriksa apakah dia masih bernafas," lanjut Hannah. 

Hannah mengaku dia berusaha berpikir rasional, namun itu tidak bisa dia lakukan. Bahkan dia kemudian akan merasa bahwa Finley akan meminggal karena kanker di masa depan. Itu mengerikan.

Hannah menyadari ada sesuatu yang salah dan bahwa dia tidak bisa terus seperti ini, tetapi stigma dan rasa malu pada awalnya menghentikannya untuk meminta bantuan. 

"Saya tahu itu semakin di luar kendali dan bahwa saya semakin buruk, tetapi saya tidak ingin memberi tahu siapa pun karena beberapa penglihatan saya sangat mengganggu, saya khawatir mereka akan berpikir saya gila," aku Hannah. 

Suatu hari, ketika dirinya keluar dengan beberapa teman kelompok antenatal, dia bercerita bahwa dia tidak bisa membayangkan hidup tanpa Finley dan khawatir dia sekarat.

Salah satu dari mereka bertanya seberapa sering Hannah memikirkan hal ini. Hannah menjawab, setidaknya 10 kali dalam sehari ia dihantui perasaan was-was. Temannya lantas menyarankan agar Hannah berbicara pada profesional. 

Hannah Temukan Solusi

NEXT

"Saya tidak tahu harus berkata apa untuk membuka percakapan dengan profesional kesehatan. Pada hari berikutnya dia datang ke rumah saya, itu adalah salah satu hari terburuk dalam perjalanan keibuan saya," ungkap dia. 

Hannah duduk dan mengakui segalanya, sambil berteriak dan menangis ketakutan. Dia merasa bahwa Finley akan meninggal berulang kali. Profesional kesehatan terus berusaha meyakinkannya bahwa anak laki-lakinya sehat yang baik-baik saja. 

"Dia memberi saya banyak nasihat, termasuk menemui dokter umum untuk pengobatan dan terapi perilaku kognitif (CBT). Saya bersikukuh bahwa saya tidak menginginkan obat, walaupun melihat ke belakang dengan kepala yang jernih, saya pikir itu akan membantu," ujar dia.

Dengan menggunakan teknik CBT dan mulai terbuka dengan kondisinya, Hannah akhirnya mendapatkan dukungan dari keluarga dan teman-temannya. Dia mulai bisa mengendalikan rasa takutnya. Itu sebabnya mengapa para profesional kesehatan mental terys berbicara untuk memberikan dan mendapatkan dukungan untuk ibu baru.

"Jika gejala Anda mengganggu kehidupan sehari-hari Anda atau selama lebih dari beberapa minggu, penting untuk mencari bantuan sesegera mungkin," kata Rachel Boyd, Kepala Konten Informasi di Mind. 

Berbicaralah dengan dokter, teman atau anggota keluarga Anda sehingga Anda tidak sendirian dan bisa mendapatkan bantuan dan dukungan yang tepat.

Dokter mungkin dapat menyarankan komunitas atau kelompok pendukung untuk ibu baru sehingga Anda dapat mendiskusikan perasaan Anda dengan orang lain. Mereka mungkin juga menawarkan Anda konseling, atau dalam beberapa kasus, pengobatan. 

Teknik perawatan diri dan perubahan gaya hidup secara umum juga dapat membantu mengelola gejala dari banyak masalah kesehatan mental. Berolahraga, keluar rumah, diet sehat, dan tidur nyenyak semuanya terbukti bermanfaat dalam mengatasi kecemasan. 

"Ini juga bisa sangat membantu untuk membuat teman dan keluarga tahu bagaimana perasaan Anda, dan menerima tawaran bantuan apa pun," tutup Rachel.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Moms Harus Tahu, Bertengkar dengan Pasangan Saat Hamil Bisa Pengaruhi Bayi

Moms Harus Tahu, Bertengkar dengan Pasangan Saat Hamil Bisa Pengaruhi Bayi

Health | Jum'at, 29 Maret 2019 | 15:30 WIB

Tragis, Depresi Bikin Ibu Tega Bunuh Anaknya yang Sakit Kanker

Tragis, Depresi Bikin Ibu Tega Bunuh Anaknya yang Sakit Kanker

Health | Rabu, 27 Maret 2019 | 08:05 WIB

Waduh, Kerja Lembur di Akhir Pekan Bisa Tingkatkan Risiko Depresi

Waduh, Kerja Lembur di Akhir Pekan Bisa Tingkatkan Risiko Depresi

Health | Jum'at, 15 Maret 2019 | 16:08 WIB

Terkini

Apa Persamaan dan Perbedaan Gempa Bumi Venezuela dan Kolombia?

Apa Persamaan dan Perbedaan Gempa Bumi Venezuela dan Kolombia?

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:24 WIB

Emiten AVIA Tegaskan Kepatuhan Persaingan Usaha KPPU

Emiten AVIA Tegaskan Kepatuhan Persaingan Usaha KPPU

Bisnis | Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:15 WIB

111 Orang Tewas Usai Gempa Bumi Besar Kolombia, Rumah Sakit Hancur

111 Orang Tewas Usai Gempa Bumi Besar Kolombia, Rumah Sakit Hancur

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:13 WIB

Arkeologi Italia Geger! Bangkai Kapal Romawi Kuno Ditemukan di Lepas Pantai Sisilia

Arkeologi Italia Geger! Bangkai Kapal Romawi Kuno Ditemukan di Lepas Pantai Sisilia

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:05 WIB

Kebakaran Empat Lawang, 20 Rumah Terdampak dan Kerugian Tembus Rp5,2 Miliar

Kebakaran Empat Lawang, 20 Rumah Terdampak dan Kerugian Tembus Rp5,2 Miliar

Sumsel | Senin, 10 Agustus 2026 | 23:52 WIB

3 Pelaku Begal Polisi di Palembang Ternyata Ayah, Anak dan Seorang Perempuan

3 Pelaku Begal Polisi di Palembang Ternyata Ayah, Anak dan Seorang Perempuan

Sumsel | Senin, 10 Agustus 2026 | 23:31 WIB

Jadi Ojek Pangkalan, Polisi di Palembang Ditusuk 4 Kali dan Motornya Dibawa Kabur Begal

Jadi Ojek Pangkalan, Polisi di Palembang Ditusuk 4 Kali dan Motornya Dibawa Kabur Begal

Sumsel | Senin, 10 Agustus 2026 | 23:07 WIB

Kemiskinan Sumsel Turun, Garis Kemiskinan Naik 3,15 Persen Jadi Rp628 Ribu Per Bulan

Kemiskinan Sumsel Turun, Garis Kemiskinan Naik 3,15 Persen Jadi Rp628 Ribu Per Bulan

Sumsel | Senin, 10 Agustus 2026 | 22:59 WIB

Kasus Iklan BJB, Ada Dugaan Aliran Dana ke Lisa Mariana Lewat Pihak Nominee

Kasus Iklan BJB, Ada Dugaan Aliran Dana ke Lisa Mariana Lewat Pihak Nominee

News | Senin, 10 Agustus 2026 | 22:22 WIB

KPK Tahan Bos-Bos Iklan Bank BJB, Dirut Yuddy Renaldi Mendadak Sakit Saat Akan Dibui

KPK Tahan Bos-Bos Iklan Bank BJB, Dirut Yuddy Renaldi Mendadak Sakit Saat Akan Dibui

News | Senin, 10 Agustus 2026 | 22:10 WIB

×