KPAI Gandeng Komunitas Pemuda di 21 Provinsi Kampanye Cegah Perkawinan Anak

Ade Indra Kusuma

Rabu, 24 Juli 2019 | 16:00 WIB
KPAI Gandeng Komunitas Pemuda di 21 Provinsi Kampanye Cegah Perkawinan Anak
Perkawinan anak tidak dibenarkan karena memiliki banyak dampak negatif. (Shutterstock)

Suara.com - KPAI Gandeng Komunitas Pemuda di 21 Provinsi Kampanye Cegah Perkawinan Anak

Deputi I Sekretaris Jenderal Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Sutriyatmi mengatakan lembaganya bekerjasama dengan anak-anak muda di 21 provinsi untuk mencegah dan menghentikan perkawinan anak.

Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak mendefinisikan anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun.

Menurut Sutriyatmi, salah satu provinsi yang gerakan anak mudanya cukup intensif adalah Jawa Barat. Adapun bentuk kegiatannya berupa kampanye bahaya pernikahan anak, konseling anak muda, serta pengawasan dan pendataan perkawinan anak.

Pesan pencegahan perkawinan anak juga disampaikan melalui beberapa cara seperti pembuatan mural dan pentas drama.

Sedangkan untuk provinsi lainnya seperti Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur masih terbatas pada kampanye bahaya perkawinan anak.

"Kalau di Jawa Barat yang intensif memang di 5 kabupaten kota yaitu Cirebon, Indramayu, Kabupaten Bandung, Bogor dan Sukabumi. Tapi kabupaten yang ada KPI nya juga melakukan hal yang sama, melakukan beberapa kegiatan," jelas Sutriyatmi di Jakarta, Selasa 23 Juli 2019 seperti mengutip VOAIndonesia.

Kantor Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) (suara.com/Nikolaus Tolen)
Kantor Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) (suara.com/Nikolaus Tolen)

Sutriyatmi menambahkan, anak-anak muda di Jawa Barat juga melakukan advokasi kebijakan di tingkat lokal.

Mereka mendorong penerbitan surat edaran kepala desa atau peraturan desa untuk meningkatkan usia perkawinan dari di bawah 18 tahun menjadi 19 tahun. Dalam catatan KPI, sudah ada 15 surat edaran kepala desa dari 5 kabupaten di Jawa Barat tentang peningkatan usia perkawinan.

baca juga

Ia menambahkan lembaganya juga menggandeng tokoh-tokoh agama untuk turut mencegah perkawinan anak. Sebab, faktor agama saat ini masih menjadi salah satu pendorong terjadinya perkawinan anak.

"Seperti yang di Garut, masuk ke pesantren bersama jaringan Rahima. Tadi yang disampaikan KPI Bogor, salah satu alasan menikah dini adalah agama. Siapa yang bisa meng-counter isu itu, salah satunya adalah orang-orang dari pesantren," tambahnya.

Strategi Kampanye Anak Muda

Pegiat Jakaringan Sinema, Deviana F Bayhaqi mengatakan kelompoknya membuat film pendek sebagai kampanye untuk mencegah perkawinan anak dan kekerasan terhadap anak. Menurutnya, ada sekitar 30 anak dari 3 wilayah di Jakarta yang tergabung dalam komunitas ini. Tiga wilayah tersebut adalah Jatinegara, Kamal Muara dan Penjaringan yang disingkat menjadi Jakaringan.

"Jadi kita itu mengangkat isu yang sedang trending seperti bullying atau cyber bullying atau apapun tentang isu remaja dan anak lewat film atau poster digital," tutur Deviana.

Deviana menambahkan kelompoknya biasanya kumpul sebulan sekali untuk membicarakan pembuatan film. Total sudah ada 6 film pendek produksi Jakaringan Sinema yang sudah diunggah ke Youtube, dan sudah ditonton hampir 2 ribu kali setiap filmnya.

Hal yang sama juga dilakukan Ramdan Setiawan, pegiat Komunitas Desa Banjarsari Pengalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Ramdan mengaku tergugah mengampanyekan pencegahan perkawinan anak karena teman sekolahnya menjadi korban.

"Kebetulan itu teman sendiri, sekarang sudah cerai. Sekarang kerja, anaknya sama orang tuanya. Jadi kasihan. Teman sekolah kebetulan saat itu teman SMP, waktu itu tidak melanjutkan sekolah, padahal usianya baru 18 tahun," kata Ramdan.

Berdasar data Badan Pusat Statistik yang dirilis April 2019, persentase perkawinan anak (di bawah atau 16 tahun) naik menjadi 15,66 persen pada 2018 dibandingkan tahun 2017 sebesar 14,18 persen. Tiga provinsi dengan jumlah pernikahan anak tertinggi yaitu Kalimantan Selatan sebanyak 22,77 %, Jawa Barat (20,93 %), dan Jawa Timur (20,73 %).

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Potret Buram Perlindungan Anak Indonesia

Potret Buram Perlindungan Anak Indonesia

Video | Selasa, 23 Juli 2019 | 21:39 WIB

Anak Berhadapan Hukum Tertinggi, Potret Buram Perlindungan Anak Indonesia

Anak Berhadapan Hukum Tertinggi, Potret Buram Perlindungan Anak Indonesia

Health | Selasa, 23 Juli 2019 | 07:10 WIB

Dinilai Ramah Anak, Pemprov DKI Menangkan Penghargaan KPAI

Dinilai Ramah Anak, Pemprov DKI Menangkan Penghargaan KPAI

Video | Sabtu, 20 Juli 2019 | 11:25 WIB

Terkini

World Allergy Week 2026: Saatnya Ubah Sudut Pandang Soal Alergi Susu Sapi pada Anak

World Allergy Week 2026: Saatnya Ubah Sudut Pandang Soal Alergi Susu Sapi pada Anak

Health | Jum'at, 26 Juni 2026 | 20:10 WIB

Festival Keluarga Kimomby 2026 Resmi Diluncurkan, Jawab Kebutuhan Orang Tua Modern

Festival Keluarga Kimomby 2026 Resmi Diluncurkan, Jawab Kebutuhan Orang Tua Modern

Health | Jum'at, 26 Juni 2026 | 13:45 WIB

Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua

Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua

Health | Kamis, 25 Juni 2026 | 21:17 WIB

Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan

Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan

Health | Kamis, 25 Juni 2026 | 19:13 WIB

Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif

Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif

Health | Rabu, 24 Juni 2026 | 17:15 WIB

El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?

El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?

Health | Selasa, 23 Juni 2026 | 14:49 WIB

Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis

Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis

Health | Selasa, 23 Juni 2026 | 14:07 WIB

WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global

WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global

Health | Senin, 22 Juni 2026 | 10:05 WIB

Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental

Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental

Health | Senin, 22 Juni 2026 | 10:00 WIB

Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!

Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!

Health | Minggu, 21 Juni 2026 | 10:41 WIB

×