Jaga Kesehatan Anak Setelah Banjir Surut, Perhatikan 3 Hal Ini

Vania Rossa | Dinda Rachmawati | Suara.com

Kamis, 02 Januari 2020 | 15:16 WIB
Jaga Kesehatan Anak Setelah Banjir Surut, Perhatikan 3 Hal Ini
Warga RW1 Kelurahan Rawa Buaya, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat, mengakui hingga Kamis (2/1/2020), belum mendapatkan bantuan dari Pemprov DKI setelah banjir merendam permukiman mereka pada Rabu (1/1). [Suara.com/Stephanus Aranditio]

Suara.com - Hujan deras yang mengguyur wilayah Jabodetabek dan sekitarnya sejak Selasa (31/12/2019) menyebabkan banyak pemukiman warga dilanda banjir. Sampai hari ini, Kamis (2/1/2020), masih banyak pemukiman yang masih dilanda banjir. Para warga terpaksa harus dievakuasi ke tempat pengungsian. Beberapa memilih tinggal sementara di rumah saudara dan kerabat yang tidak terkena dampak.

Setelah banjir surut, masalah belum selesai. Ada masalah baru yang perlu mendapat perhatian, salah satunya adalah masalah kesehatan, terutama kesehatan anak korban banjir. Dilansir dari laman United States Environmental Protection Agency, ada beberapa alasan yang membuat anak-anak rentan terhadap berbagai bahan kimia dan organisme yang terpapar pada saat banjir, di antaranya adalah.

  • Sistem saraf, respons kekebalan tubuh anak-anak, pencernaan, dan sistem tubuh lainnya masih berkembang dan lebih mudah rusak
  • Anak-anak makan lebih banyak makanan, minum lebih banyak cairan, dan harus menghirup lebih banyak udara daripada orang dewasa sesuai dengan ukuran tubuh mereka. Jadi penting untuk berhati-hati memastikan keamanan makanan, minuman, dan kualitas udara mereka.
  • Mereka berperilaku seperti anak-anak - seperti merangkak dan memasukkan benda ke mulut mereka - yang dapat meningkatkan risiko terpapar bahan kimia dan organisme di lingkungan.

Dan berikut adalah beberapa kondisi yang rentan dialami anak-anak pascabanjir melanda:.

1. Infeksi jamur

Setelah rumah mengalami kebanjiran, uap air bisa tetap berada di dinding, furnitur kayu, kain, karpet, juga barang-barang dan permukaan rumah tangga lainnya. Hal ini dapat menyebabkan pertumbuhan jamur di dalam rumah.

Paparan jamur dapat menyebabkan reaksi seperti demam, seperti hidung tersumbat, mata merah, berair atau gatal, serta bersin. Untuk menghindarinya, penting untuk mengeringkan area dan barang yang rusak karena air dalam waktu 24-48 jam untuk mencegah pertumbuhan jamur. Bangunan basah selama lebih dari 48 jam umumnya akan berisi pertumbuhan jamur yang terlihat dan luas.

Beberapa anak lebih rentan terkena jamur daripada yang lain, terutama mereka yang alergi, asma, dan memiliki kondisi pernapasan lainnya. Untuk melindungi anak Anda dari paparan jamur, Anda dapat membersihkan permukaan yang keras seperti logam dan plastik, dengan sabun dan air, serta mengeringkannya sampai bersih.

Sementara barang-barang yang terbuat dari bahan yang lebih menyerap air dan mudah rusak karena air banjir, harus dibuang. Barang-barang ini termasuk kertas, kain, kayu, jok, karpet, bantalan, gorden, pakaian, boneka, dan lainnya.

Jika Anda memutuskan untuk melakukan pembersihan sendiri, harap diingat hal-hal berikut:

  • Bersihkan dan keringkan permukaan keras seperti pancuran, bak, dan meja dapur.
  • Jika ada sesuatu yang berjamur dan tidak dapat dibersihkan serta dikeringkan, buang saja.
  • Gunakan deterjen atau gunakan pembersih yang membunuh kuman.
  • Jangan mencampur produk pembersih bersama atau menambahkan pemutih ke bahan kimia lainnya.
  • Pakailah masker N-95, kacamata, dan sarung tangan sehingga Anda tidak menyentuh jamur dengan tangan kosong. Gunakan juga celana panjang, kemeja lengan panjang, dan sepatu boot.
  • Rumah yang mengalami kerusakan berat akibat banjir akan sangat sulit untuk dibersihkan dan akan membutuhkan perbaikan ekstensif atau renovasi total. Sangat disarankan anak-anak tidak tinggal di bangunan ini.

2. Paparan karbon monoksida

Jangan menggunakan generator portabel atau genset di dalam ruangan. Tempatkan genset di luar dan sejauh mungkin dari bangunan. Jangan meletakkan genset di balkon atau dekat pintu, ventilasi, atau jendela, dan jangan menggunakannya di dekat tempat Anda atau anak-anak Anda tidur.

Karena kehilangan listrik, genset bertenaga bensin atau diesel sering digunakan setelah banjir. Perangkat ini melepaskan karbon monoksida, gas yang tidak berwarna, tidak berbau, namun mematikan.

Cukup membuka pintu dan jendela atau menggunakan kipas angin untuk mencegah penumpukan karbon monoksida di rumah atau di area yang tertutup sebagian seperti garasi.

Jika anak-anak Anda atau orang lain dalam keluarga mulai merasa sakit, pusing, lemah, atau mengalami sakit kepala dan sakit dada, segera dapatkan udara segar dan cari perawatan medis. Kulit di bawah kuku juga bisa berubah menjadi merah ceri jika ia telah terpapar karbon monoksida tingkat tinggi. Janin dan bayi sangat rentan terhadap efek karbon monoksida yang mengancam jiwa.

3. Kontaminasi air

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kecanduan Gadget pada Usia Dini Semakin Menghawatirkan

Kecanduan Gadget pada Usia Dini Semakin Menghawatirkan

Your Say | Rabu, 11 Desember 2019 | 13:57 WIB

Tumbuh Ekor di Tubuhnya, Bocah Ini Dianggap Reinkarnasi Dewa

Tumbuh Ekor di Tubuhnya, Bocah Ini Dianggap Reinkarnasi Dewa

Lifestyle | Rabu, 11 Desember 2019 | 13:00 WIB

Bisa Mempengaruhi Kecerdasan, Begini Cara Jaga Kesehatan Usus Anak

Bisa Mempengaruhi Kecerdasan, Begini Cara Jaga Kesehatan Usus Anak

Video | Selasa, 05 November 2019 | 07:00 WIB

Terkini

Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus

Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus

Health | Kamis, 14 Mei 2026 | 13:52 WIB

Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar

Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar

Health | Kamis, 14 Mei 2026 | 12:59 WIB

Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?

Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?

Health | Rabu, 13 Mei 2026 | 18:25 WIB

Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan

Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan

Health | Rabu, 13 Mei 2026 | 17:00 WIB

Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis

Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 22:34 WIB

Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat

Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 17:02 WIB

Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi

Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 16:59 WIB

Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang

Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 15:56 WIB

Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia

Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 15:05 WIB

Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?

Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 14:46 WIB