Di Tengah Pandemi, Kampanye Imunisasi Lengkap Tak Boleh Berhenti

M. Reza Sulaiman

Selasa, 05 Mei 2020 | 11:03 WIB
Di Tengah Pandemi, Kampanye Imunisasi Lengkap Tak Boleh Berhenti
Ilustrasi imunisasi difteri. (Suara.com/Reza Sulaiman)

Suara.com - Di Tengah Pandemi, Kampanye Imunisasi Lengkap Tak Boleh Berhenti

Pandemi virus Corona Covid-19 tidak boleh membuat kampanye kesehatan lainnya terabaikan, termasuk soal imunisasi lengkap.

Baru-baru ini, Kementerian Kesehatan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan sejumlah pihak lainnya mengajak masyarakat untuk turut mensukseskan Pekan Imunisasi Dunia pada 24-30 April 2020. Program imunisasi disarankan terus dijalankan meski saat ini sedang ada perebakan virus corona.

Dilansir VOA Indonesia, Kementerian Kesehatan mendorong seluruh daerah, khususnya Puskesmas dan Posyandu, untuk tetap melaksanakan program imunisasi sesuai jadwal meskipun sedang ada perebakan virus corona. Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, Vensya Sitohang, mengungkap pentingnya imunisasi.

"Imunisasi itu merupakan upaya untuk memberikan kekebalan atau imunitas yang spesifik terhadap PD3I (penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi) pada anak, maka harapannya imunisasi itu tidak boleh berhenti, tidak boleh dihentikan, karena ada jadwalnya. Kami sangat optimistis, walau di tengah pandemi COVID-19 ini, dengan memperhatikan prinsip pencegahan dan pengendalian infeksi, pelayanan imunisasi ini bisa tetap berjalan," kata Vensya Sitohang.

Di Indonesia masih cukup banyak anak yang belum menerima imunisasi lengkap, sehingga mereka berpeluang terkena penyakit berbahaya. Vensya mengajak seluruh petugas dan kader imunisasi memaksimalkan upaya pencapaian target imunisasi melalui pendataan dan analisa penolakan masyarakat terhadap imunisasi.

"Apa sih alasan utama dari keraguan masyarakat untuk mendapatkan imunisasi. Secara global ada agama, ada miskomunikasi, ada karena pengetahuan, benarkah ini? ini secara global. Tentu seperti apa alasan lokalnya, tentu ada kekhasan masing-masing, mari kita lihat. Karena kalau kita tidak punya data yang benar tentang penyebab keraguan imunisasi, maka strategi yang dilakukan untuk menjangkau anak yang tidak diimunisasi itu, tidak tepat," kata Vensya Sitohang.

Staf Pengajar Divisi Infeksi dan Pediatri Tropis, Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, Sri Rezeki Syaraswati Hadinegoro, menekankan pentingnya pemberian imunisasi lengkap pada anak, khususnya sampai usia 12 bulan. Imunisasi lengkap, katanya,penting untuk memastikan daya tahan tubuh anak terhadap berbagai penyakit, seperti polio dan campak.

Dinas Kesehatan Banyuwangi bersama dengan UNICEF dan tim kesehatan FKM Unair Surabaya melakukan sweeping untuk imunisasi ORI difteri di pusat perbelanjaan dan pasar di Banyuwangi, Sabtu (22/12/2018)
Dinas Kesehatan Banyuwangi bersama dengan UNICEF dan tim kesehatan FKM Unair Surabaya melakukan sweeping untuk imunisasi ORI difteri di pusat perbelanjaan dan pasar di Banyuwangi, Sabtu (22/12/2018). (Suara.com/Reza Sulaiman)

Sri Rezeki yang juga menjabat sebagai Ketua ITAGI (Indonesian Technical Advisory Group on Immunization), mengatakan,vaksin influenza dapat diberikan pada anak untuk mencegah penyakit influenza,di tengah pandemi corona. Apalagi diketahui bahwa 170 ODP (orang dalam pemantauan) dan PDP (pasien dalam pengawasan) di Jakarta merupakan balita.

baca juga

"Influenza itu vaksinnya kan, isinya adalah virus influenza, jadi virusnya bukan virus COVID ya, ini virus influenza dari strain (tipe) A dan strain B, jadi di dalam hal ini karena gejala awal antara COVID dan influenza itu mirip-mirip, maka lebih baik diberikan saja yang untuk influenza, selain memang ada manfaatnya," jelasnya.

Perwakilan WHO Indonesia, Vinod Bura, mengungkapkan masih banyaknya anak di dunia yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap, dan bahkanimunisasi sama sekali. Dari hampir 20 juta anak di seluruh dunia yang tidak mendapat imunisasi rutin, 60 persen di antaranya terkonsentrasi di 10 negara, yakniAngola, Brazil, Kongo, Ethiopia, India, Indonesia, Nigeria, Pakistan, Filipina, dan Vietnam.

"Di tahun 2018, diperkirakan sekitar 19,4 juta anak di dunia tidak mendapatkan imunisasi rutin, contohnya 3 dosis vaksin DPT (difteri, pertusis, dan tetanus, red). Dari jumlah itu, 60 persennya adalah anak-anak yang tinggal di 10 negara, termasuk Indonesia," jelasnya. [Voa Indonesia]

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pandemi Virus Corona Covid-19 Pengaruhi Penderita Gangguan Makan

Pandemi Virus Corona Covid-19 Pengaruhi Penderita Gangguan Makan

Health | Selasa, 05 Mei 2020 | 08:49 WIB

Akibat Pandemi Covid-19, UNFPA Sebut Ada 7 Juta Kehamilan Tidak Diinginkan

Akibat Pandemi Covid-19, UNFPA Sebut Ada 7 Juta Kehamilan Tidak Diinginkan

Health | Selasa, 05 Mei 2020 | 10:29 WIB

Pilot Pesawat Ini Banting Setir Jadi Kurir Makanan

Pilot Pesawat Ini Banting Setir Jadi Kurir Makanan

Video | Selasa, 05 Mei 2020 | 09:00 WIB

Terkini

WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global

WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global

Health | Senin, 22 Juni 2026 | 10:05 WIB

Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental

Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental

Health | Senin, 22 Juni 2026 | 10:00 WIB

Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!

Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!

Health | Minggu, 21 Juni 2026 | 10:41 WIB

Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens

Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:51 WIB

Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?

Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:03 WIB

Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak

Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:14 WIB

Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh

Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 09:45 WIB

Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi

Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi

Health | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:01 WIB

Mata Merah dan Buram Tak Boleh Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Kerusakan Kornea

Mata Merah dan Buram Tak Boleh Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Kerusakan Kornea

Health | Kamis, 18 Juni 2026 | 22:00 WIB

Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat

Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat

Health | Kamis, 18 Juni 2026 | 21:32 WIB