Positif Corona Covid-19, Bocah 12 Tahun Ini Nyaris Meninggal

Bimo Aria Fundrika | Frieda Isyana Putri
Positif Corona Covid-19, Bocah 12 Tahun Ini Nyaris Meninggal
Ilustrasi bocah positif Corona Covid-19. (Pixabay)

Seorang bocah dilaporkan mengidap sindrom inflamasi multisisitem (MISC) dan virus corona baru atau Covid-19.

Suara.com - Positif Corona Covid-19, Bocah 12 Tahun Ini Nyaris Meninggal

Seorang bocah berusia 12 tahun dilaporkan mengidap sindrom inflamasi multisisitem (MISC) dan virus corona baru atau Covid-19. Bocah bernama Juliet ini hampir meninggal dunia karenanya.

Sean Daly, sang ayah, menceritakan saat ia melihat bibir Juliet membiru serta kaki dan tangannya menjadi dingin, ia langsung melarikannya ke rumah sakit.

Sindrom yang diidapnya menyebabkan sistem imun beraksi berlebihan, menyebabkan inflamasi di seluruh tubuh. Sindrom ini juga berdampak pada beberapa organ tubuh, seperti jantung, hati, ginjal, dan hampir seluruh sel di tubuh.

COVID-19 mampu membajak sel inang untuk mereplikasi, menciptakan ribuan salinannya sendiri hingga sel inang kewalahan dan secara efektif membunuh dirinya sendiri [NIAID].
COVID-19 mampu membajak sel inang untuk mereplikasi, menciptakan ribuan salinannya sendiri hingga sel inang kewalahan dan secara efektif membunuh dirinya sendiri [NIAID].

Dikutip dari CNN, Juliet sempat mengalami henti jantung dan harus diberikan CPR. Setelah jantungnya kembali berdenyut, Juliet harus mengenakan ventilator.

Tak lama kemudian, ia juga dilaporkan positif mengidap Covid-19. Disebutkan bahwa anak-anak yang mengidap MICS kerap mengalami sindrom tersebut setelah sembuh dari Covid-19.

Empat hari kemudian, Juliet bisa bernapas normal kembali dan jantung serta organ-organ lainnya juga kembali pulih seperti sediakala.

"Saat ia membuka matanya pertama kali, yang ia inginkan adalah segelas air dan  ia ingin istriku memberitahukan pada gurunya bahwa ia di rumah sakit," kata Sean Daly.

MISC juga sering dikaitkan mirip dengan penyakit Kawasaki, yang belakangan ini sering dilaporkan terjadi di beberapa negara di Eropa dan Amerika Serikat.

Penyakit Kawasaki menyebabkan inflamasi di dinding pembuluh arteri dan bisa membatasi aliran darah yang masuk ke jantung.

Penyakit ini menyebabkan demam tinggi selama lebih dari lima hari, ruam, kelenjar di leher membengkak, bibir pecah-pecah, bengkak di kaki dan tangan, dan kedua mata memerah.

Walau mematikan dan sering terjadi pada balita, penyakit ini bisa diobati. Beberapa pakar mempertimbangkan apakah virus corona bisa memicu penyakit Kawasaki.

Baru-baru ini, sebuah studi dipublikasikan dalam jurnal The Lancer mengungkapkan jumlah kasus penyakit mirip Kawasaki pada anak-anak di Bergamo, Italia, melonjak 30 kali lipat setelah terjadinya wabah virus corona di kawasan tersebut.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS