Jumlah Perokok Terus Naik, Kemenkes: Orang Indonesia Lauknya Rokok!

Senin, 28 September 2020 | 21:05 WIB
Jumlah Perokok Terus Naik, Kemenkes: Orang Indonesia Lauknya Rokok!
Ilustrasi merokok.[Unsplash/Irina Iriser]

Suara.com - Data Bappenas mentaksir -- jika tidak diintervensi -- jumlah perokok di Indonesia hingga 2030 bisa mencapai 16 persen dari jumlah penduduk Indonesia.

Padahal dampaknya bukan hanya menyedot anggaran pemerintah untuk mengobati rakyat yang sakit akibat rokok, tapi juga mengancam generasi penerus Bangsa karena banyak anak yang terganggu pertumbuhannya.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan (P2PT) dr. Cut Putri Ariani, MH.Kes memaparkan dari data anak yang mengalami stunting atau kurang gizi kronik, 5,5 persennya disebabkan oleh orangtua perokok.

"Anak yang stunting 5,5 persennya disebabkan dari orangtua perokok, hal ini berdasarkan kajian dari Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS UI)," ujar Cut Putri dalam webinar 'Faktor Pengurangan Risiko Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL) untuk Penerapan di Indonesia', Senin (28/9/2020).

Stunting adalah kondisi anak gagal tumbuh baik secara fisik maupun perkembangan otak akibat kekeurangan gizi dalam waktu yang lama.

Lebih lanjut Cut Putri juga mengungkap data Badan Pusat Statistik (BPS) mendapati bahwa rokok masuk dalam daftar belanja konsumsi kedua terbesar setelah beras di kelompok keluarga miskin.

"Jadi artinya orang Indonesia itu lauk pauknya adalah rokok," ungkapnya.

Mirisnya angka itu memperlihatkan bagaimana perokok dari keluarga miskin lebih banyak dibanding perokok pada keluarga kaya.

Dikatakan, ada 27. 3 persen perokok dari kelompok penduduk miskin dan 19,5 persen perokok dari kelompok penduduk kaya.

Baca Juga: Jumlah Perokok Anak di Indonesia Meningkat, Ini Dua Penyebabnya

Di sisi lain, Cut juga menyinggung dalih rokok swbagai sumber devisa Indonesia. Ia mencatat, pendapatan yang didapat negara dari rokok tidak sebanding dengan biaya kesehatan yang harus dikeluarkan negara untuk mengobati rakyatnya yang sakit karena rokok.

"Ini data JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) 2019, ada beberapa penyakit yang disebabkan oleh rokok berhubungan dengan jantung, stroke, dan lain sebagainya. Membuat JKN semakin terbebani penyakit tidak menular. Rokok mengancam secara universal, di mana dana yang cukup besar tersedot," terang dia.

"Dan kepatuhan perokok untuk membayar iuran JKN lebih kecil dibanding ia mau membeli rokok," sambungnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kamu Benar-benar Asli Orang Jogja atau Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD dan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Warna Helm Motor Favorit Ungkap Karakter Pasangan Ideal, Tipe Mana Idamanmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kim Seon-ho atau Cha Eun-woo? Cari Tahu Aktor Korea yang Paling Cocok Jadi Pasanganmu!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tes Kepintaran GTA Kamu Sebelum Grand Theft Auto 6 Rilis!
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Kamu Tipe Red Flag, Green Flag, Yellow Flag atau Beige Flag?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apa Kabar Kamu Hari Ini? Cek Pesan Drakor untuk Hatimu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tablet Apa yang Paling Cocok sama Gaya Hidup Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Film Makoto Shinkai Mana yang Menggambarkan Kisah Cintamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Jadi Superhero, Kamu Paling Mirip Siapa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Destinasi Liburan Mana yang Paling Cocok dengan Karakter Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI