Pandemi Bikin Orangtua Menunda Imunisasi, Apa yang Harus Dilakukan?

Vania Rossa

Jum'at, 02 Oktober 2020 | 20:15 WIB
Pandemi Bikin Orangtua Menunda Imunisasi, Apa yang Harus Dilakukan?
Ilustrasi bayi diimunisasi. (Shutterstock)

Suara.com - Hasil survei yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan dan UNICEF pada bulan April 2020 menunjukkan bahwa 84% fasilitas pelayanan kesehatan mengalami gangguan pelayanan imunisasi selama pandemi, dan 76% fasilitas pelayanan kesehatan mengalami penurunan permintaan pelayanan imunisasi. Hal ini pada akhirnya membuat banyak orangtua memutuskan menunda imunisasi anaknya.

Dikatakan dr. Arifianto, Sp.A atau yang kerap disapa dokter Apin, dalam aspek kesehatan anak, pandemi memberi dampak yang signifikan terhadap pelayanan imunisasi, sehingga menurunkan cakupan imunisasi pada level yang mengkhawatirkan.

Padahal, cakupan imunisasi yang rendah bisa membuka peluang terjadinya berbagai wabah penyakit, khususnya Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Dan, penanganan wabah PD3I akan menjadi lebih sulit ditangani jika terjadi di saat bersamaan dengan pandemi. Demikian pemaparannya dalam Zoom Class “Menjawab Pertanyaan Seputar Vaksinasi di Saat Pandemi” yang diadakan oleh Kenapa Harus Vaksin bersama The Asian Parent beberapa waktu lalu.

Rendahnya cakupan imunisasi ini tentu harus segera ditingkatkan kembali. Tapi, bagaimana strategi untuk meningkatkan cakupan imunisasi di masa pandemi ini?

Dokter yang juga penulis buku "Yakin Dengan Vaksin Dan Imunisasi" itu mengungkap langkah-langkah imunisasi yang bisa dilakukan di masa pandemi.

1. Catch-up immunization atau imunisasi kejar
Catch-up immunization atau imunisasi kejar adalah upaya melanjutkan vaksinasi yang tertunda pada individu yang memenuhi syarat. Hal ini direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, dengan mengutamakan pelaksanaan imunisasi kejar untuk PD3I yang rentan wabah, seperti campak, polio, difteri, dan yellow fever 2.

2. Multiple injection atau imunisasi ganda
Multiple injection atau imunisasi ganda adalah pemberian lebih dari satu jenis imunisasi dalam satu kali kunjungan yang bermanfaat untuk mempercepat perlindungan kepada anak. Hal ini juga lebih efisien karena orangtua tidak perlu datang ke fasilitas kesehatan berulang kali.

3. Vaksin kombinasi
Vaksin kombinasi merupakan gabungan beberapa komponen vaksin ke dalam satu vaksin untuk mencegah lebih dari 1 jenis penyakit. Vaksin kombinasi dapat membantu mengejar peningkatan cakupan imunisasi, khususnya bagi anak-anak yang tertinggal jadwal imunisasinya. Selain itu, dengan vaksin kombinasi, jumlah suntikan dan jumlah kunjungan ke fasilitas kesehatan juga dapat dikurangi, yang secara langsung dapat mengurangi risiko paparan Covid-19.

baca juga
Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Anak Demam Usai Imunisasi, Ini Saran Dari Dokter

Anak Demam Usai Imunisasi, Ini Saran Dari Dokter

Health | Minggu, 20 September 2020 | 19:50 WIB

Imunisasi Jalan di Tengah Pandemi, Keamanan Masyarakat Wajib Diutamakan

Imunisasi Jalan di Tengah Pandemi, Keamanan Masyarakat Wajib Diutamakan

Banten | Selasa, 01 September 2020 | 14:39 WIB

Di Tengah Pandemi, Masyarakat Inginkan Fasilitas Imunisasi yang Aman

Di Tengah Pandemi, Masyarakat Inginkan Fasilitas Imunisasi yang Aman

Health | Selasa, 01 September 2020 | 11:31 WIB

Terkini

4 Shio Diprediksi Paling Hoki setelah 14 September 2026, Hidup Makin Mudah

4 Shio Diprediksi Paling Hoki setelah 14 September 2026, Hidup Makin Mudah

Lifestyle | Minggu, 13 September 2026 | 18:55 WIB

Gebrakan Baru! Sinema Desa Resmi Disulap Jadi Motor Ekonomi Baru di 2026

Gebrakan Baru! Sinema Desa Resmi Disulap Jadi Motor Ekonomi Baru di 2026

Your Say | Minggu, 13 September 2026 | 18:54 WIB

Bebas Kemerahan, 5 Sunscreen Korea Cica yang Bikin Kulit Calm dan Lembap

Bebas Kemerahan, 5 Sunscreen Korea Cica yang Bikin Kulit Calm dan Lembap

Your Say | Minggu, 13 September 2026 | 18:50 WIB

Tutorial Menghitung Volume dan Luas Permukaan Tabung Tanpa Tutup

Tutorial Menghitung Volume dan Luas Permukaan Tabung Tanpa Tutup

Tekno | Minggu, 13 September 2026 | 18:48 WIB

Taksi Listrik Hadir di Palembang, Solusi Transportasi atau Sekadar Tren Baru?

Taksi Listrik Hadir di Palembang, Solusi Transportasi atau Sekadar Tren Baru?

Sumsel | Minggu, 13 September 2026 | 18:45 WIB

Cara Merawat Kulit Berjerawat agar Tetap Sehat dan Skin Barrier Terjaga

Cara Merawat Kulit Berjerawat agar Tetap Sehat dan Skin Barrier Terjaga

Lifestyle | Minggu, 13 September 2026 | 18:42 WIB

Logam Mulia Masih Berpeluang Naik, Harganya Diramal Capai Rp2,75 Juta

Logam Mulia Masih Berpeluang Naik, Harganya Diramal Capai Rp2,75 Juta

Bisnis | Minggu, 13 September 2026 | 18:37 WIB

Tumbuh 7,28 Persen, Ekonomi Batam Melesat Lampaui Angka Nasional

Tumbuh 7,28 Persen, Ekonomi Batam Melesat Lampaui Angka Nasional

Bisnis | Minggu, 13 September 2026 | 18:30 WIB

Purbaya Akui RI Tak Bisa Turunkan Pajak ala Jepang: Nanti Ribut Utang Terus

Purbaya Akui RI Tak Bisa Turunkan Pajak ala Jepang: Nanti Ribut Utang Terus

Bisnis | Minggu, 13 September 2026 | 18:28 WIB

BI Dorong Transaksi Tanpa Dolar AS dengan India, QR Antarnegara Dipercepat

BI Dorong Transaksi Tanpa Dolar AS dengan India, QR Antarnegara Dipercepat

Bisnis | Minggu, 13 September 2026 | 18:28 WIB

×