- Kurangnya edukasi dan fasilitas sanitasi menyebabkan satu dari tujuh remaja putri di Indonesia absen sekolah saat menstruasi.
- WINGS for UNICEF bersama Hers Protex menyelenggarakan program edukasi Manajemen Kebersihan Menstruasi bagi 2.000 siswi di sekolah tertentu.
- Program tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman kesehatan reproduksi agar remaja putri lebih percaya diri dan tetap aktif bersekolah.
Suara.com - Menstruasi sering kali masih dianggap sekadar datang bulan yang akan terjadi begitu saja seiring bertambahnya usia. Padahal, di balik proses biologis ini, ada banyak hal penting yang perlu dipahami—mulai dari tanda-tanda pubertas, kesiapan tubuh, hingga cara menjaga kebersihan dan kesehatan selama menstruasi. Kurangnya informasi yang tepat membuat banyak remaja putri menghadapi fase ini dengan kebingungan, bahkan rasa cemas yang tidak perlu.
Faktanya, menstruasi masih menjadi topik yang canggung dibicarakan di banyak ruang, termasuk sekolah. Padahal, dampaknya nyata: data UNICEF menunjukkan 1 dari 7 remaja putri di Indonesia memilih tidak masuk sekolah setidaknya satu hari saat menstruasi.
Angka ini bukan sekadar statistik. Ia mencerminkan persoalan yang lebih dalam—mulai dari kurangnya edukasi, keterbatasan fasilitas sanitasi, hingga rasa cemas yang dialami remaja saat menghadapi perubahan tubuhnya.
Di tengah kondisi ini, pendekatan edukasi yang lebih terbuka dan berbasis sains mulai didorong. Salah satunya melalui kolaborasi WINGS for UNICEF bersama Hers Protex dan UNICEF yang menghadirkan program edukasi Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) di sekolah. Program ini menyasar 20 SMP di Kabupaten Bandung Barat dan Makassar, dengan target menjangkau 2.000 siswi dan 2.000 orang tua.
Namun, lebih dari sekadar program, isu ini menuntut pemahaman yang lebih menyeluruh: apa sebenarnya yang perlu diketahui remaja tentang menstruasi?
Menstruasi Bukan Sekadar Datang Bulan
Bagi banyak remaja, menstruasi sering kali dipahami sebagai peristiwa biologis semata. Padahal, menurut dr. Dinda Derdameysia, Sp.OG., menstruasi adalah bagian dari proses panjang pubertas yang melibatkan perubahan fisik dan emosional.
“Menstruasi itu sebenarnya adalah akhir dari rangkaian pubertas. Jadi sebelum itu, tubuh sudah menunjukkan tanda-tanda lain seperti pertumbuhan payudara atau munculnya rambut di area tertentu,” jelas dr. Dinda.
Ia menekankan, memahami proses ini penting agar remaja tidak merasa cemas atau “tertinggal” ketika tubuhnya berkembang berbeda dengan teman sebayanya.
Fenomena ini kerap terjadi. Banyak remaja merasa khawatir saat teman-temannya sudah menstruasi lebih dulu.
“Sekarang anak-anak sering merasa FOMO. Ketika temannya sudah menstruasi, dia jadi bertanya-tanya, ‘kok aku belum?’ Padahal tiap anak punya timeline berbeda,” tambahnya.
Usia Ideal Menstruasi, Kapan Harus Khawatir?
Salah satu pertanyaan paling umum adalah: kapan menstruasi pertama (menarche) dianggap normal?
Menurut dr. Dinda, secara umum menstruasi pertama terjadi pada usia 10–11 tahun. Namun, variasi tetap dianggap normal selama masih dalam rentang tertentu.
“Kalau sampai usia 14 tahun belum ada tanda pubertas sama sekali, seperti pertumbuhan payudara atau rambut, itu sebaiknya diperiksakan. Tapi kalau tanda pubertas sudah ada, masih bisa ditunggu sampai usia 16 tahun,” jelasnya.