Studi Chicago: Kabut Otak akibat Virus Corona Bisa Indikasi PTSD

Rabu, 07 Oktober 2020 | 16:51 WIB
Studi Chicago: Kabut Otak akibat Virus Corona Bisa Indikasi PTSD
Ilustrasi kesehatan mental, PTSD. (Unsplash/Nik Shuliahin)

Suara.com - Sebuah laporan baru menunjukkan bahwa orang yang pulih dari infeksi virus corona Covid-19 mungkin akan mengalami kabut otak.

Selain itu, mereka juga bisa mengalami gejala neurologis lainnya, karena gangguan stres pasca-trauma (PTSD) sebagai efek virus corona masa lalu, seperti SARS dan MERS.

Orang yang telah pulih dari virus corona Covid-19 terkadang mengalami kesulitan yang berkepanjang dalam berkonsentrasi, sakit kepala, kecemasan, kelelahan dan gangguan tidur.

Pasien mungkin takut infeksi virus corona telah merusak otaknya secara permanen. Tapi, para peneliti mengatakan itu belum tentu demikian.

Masalah yang ditulis oleh profesor klinis dan ahli saraf Andrew Levine dari David Geffen School of Medicine di UCLA dan mahasiswa pascasarjana Erin Kaseda, dari Rosalind Franklin University of Medicine and Science di Chicago, mengeksplorasi data historis dari orang yang sembuh dari virus corona sebelumnya, yakni SARS dan MERS.

Ilustrasi otak. (Pixabay)
Ilustrasi otak. (Pixabay)

"Idenya berguna untuk meningkatkan kesadaran di antara neuropsikolog bahwa PTSD merupakan sesuatu yang perlu dipertimbangkan ketika mengevaluasi kesulitan kognitif serta emosional terus-menerus di antara para penyintas virus corona Covid-19," kata Dr Levine dikutip dari Times of India.

Ketika Dr Levine melihat seseorang melakukan tes neuropsikologis, ia mengharapkan kondisi mereka menjadi lebih baik.

"Jika kami mengidentifikasi penyakit kejiawaan selama evaluasi. Jika kami yakin itu adalah gejala yang mengganggu kemampuan mereka. Maka, kami ingin mengobati masalah itu lebih dulu," jelasnya.

Jika gejalanya disebabkan oleh PTSD, maka pengobatan akan membantu mengelola kondisi tersebut dan memberikan pandangan yang lebih jelas mengenai masalah otaknya.

Baca Juga: Cegah Virus Corona, Ini Cara Pakai Masker saat Musim Hujan!

"Begitu mereka mendapat pengobatan dan mudah-mudahan gejala kejiwaannya berkurang. Jika keluhan kognitif pada tes neuropsikologis masih ada, maka lebih banyak bukti bahwa ada sesuatu yang lain sedang terjadi," kata Erin Kaseda.

Sebuah tinjauan dari data wabah SARS dan MERS menunjukkan bahwa mereka yang selamat dari virus tersebut memiliki risiko PTSD lebih tinggi.

Dalam kasus virus corona sekarang ini, gejala PTSD mereka bisa muncul sebagai tanggapan atas tindakan invasif yang diperlukan untuk merawat pasien, termasuk intubasi dan ventilasi yang bisa menimbulkan trauma pada pasien.

Di lain waktu, delirium menyebabkan pasien Covid-19 menderita halusinasi dan ingatan akan sensasi mengerikan yang terus mengganggu pasien setelah sembuh.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Merek Sepatu Apa yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Karakter Utama di Drama Can This Love be Translated?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Menu Kopi Mana yang "Kamu Banget"?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Tipe Kepribadian MBTI Apa Sih Sebenarnya?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Zodiak Paling Cocok Jadi Jodohmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tua Usia Kulitmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apa Mobil yang Cocok untuk Introvert, Ambivert dan Ekstrovert?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Detail Sejarah Isra Miraj?
Ikuti Kuisnya ➔
POLLING: 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono, Apa Layak Dilaporkan Polisi?
Ikuti Kuisnya ➔
Cek Prediksi Keuangan Kamu Tahun Depan: Akan Lebih Cemerlang atau Makin Horor?
Ikuti Kuisnya ➔
POLLING: Kamu di 2026 Siap Glow Up atau Sudah Saatnya Villain Era?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI