Dokter Anak : Lebih Baik Divaksin Ketimbang Menanggung Penyakitnya

Fabiola Febrinastri

Rabu, 25 November 2020 | 11:54 WIB
Dokter Anak : Lebih Baik Divaksin Ketimbang Menanggung Penyakitnya
dr. Endah Citraresmi, Sp.A (K), MARS, dari Yayasan Orang Tua Peduli. (Dok : Kominfo)

Suara.com - Para pakar kesehatan tak henti-hentinya mengkampanyekan vaksinasi atau imunisasi kepada masyarakat luas. Imunisasi masih jadi satu cara paling ampuh dalam membasmi suatu penyakit yang punya dampak buruk kepada manusia, khususnya anak-anak.

Sayangnya, sebagian kecil masyarakat masih ada yang enggan untuk divaksin dan masih percaya dengan beragam berita hoaks tentangnya.

Dokter spesialis anak, dr. Endah Citraresmi, Sp.A (K), MARS, dari Yayasan Orang Tua Peduli, menekankan bahwa vaksin merupakan bentuk investasi masyarakat, orangtua untuk anaknya misalnya, demi menghindarkan diri dari penyakit.

"Tetapi banyak sekali mitos yang beredar tentang vaksin. Tolong jangan langsung percaya, konfirmasikan ke dokter atau tenaga kesehatan. Jangan mudah percaya pada disinformasi. Vaksin membuat anak dapat tumbuh berkembang dengan baik," kata Endah, dalam Dialog Produktif bertema Imunisasi Aktif: Mewujudkan Kualitas Hidup yang Lebih Baik yang digelar di Media Center Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Jakarta, Selasa (24/11/2020).

Pada prinsipnya, menurut Endah, vaksinasi akan membuat seseorang memiliki kekebalan tubuh, sehingga tidak perlu melalui fase sakit saat diserang virus atau bakteri tertentu. Hal ini tentu berbeda dengan kekebalan alami tubuh yang muncul setelah seseorang diserang penyakit. Pada kondisi tersebut, perlu ada fase sakit dulu sampai akhirnya sembuh dan kebal.

Endah minta masyarakat untuk tidak mudah percaya terhadap persepsi buruk imunisasi. Soal keamanan misalnya, ia memastikan bahwa semua produk vaksin yang sudah diedarkan pasti aman.

Alasannya, proses produksi vaksin melalui tahapan yang panjang, dimulai dari pra uji klinis pada hewan, dilanjutkan dengan tiga tahap uji klinis pada manusia, hingga akhirnya mendapat izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Bahkan BPOM akan terus memantau apabila ditemukan dampak serius pada saat implementasi secara luas di masyarakat. Bila hal itu terjadi, maka produk vaksin akan otomatis ditarik.

Indonesia juga memiliki Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang akan menampung seluruh pelaporan efek samping vaksinasi. Komnas KIPI pula yang akan melakukan investigasi, apakah efek yang dialami seseorang memang berhubungan dengan produk vaksin atau kebetulan saja.

baca juga

"Lalu ada anggapan, penyakit seperti campak, sudah tidak apa-apa. Tapi penyakit itu bisa berat, sehingga harus divaksin. Sakit karena disuntik vaksin lebih ringan dibanding sakit dari infeksi virus atau bakteri yang sebenarnya. Ongkosnya juga akan lebih tinggi kalau sampai sakit, dibanding biaya vaksin di awal," ujar Endah.

Vaksinasi atau imunisasi juga telah terbukti ampuh menekan atau bahkan menghapus penularan infeksi sejumlah penyakit. Menurut data Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat (AS) per 2019, penderita penyakit campak di AS berhasil susut sampai lebih dari 99 persen.

Penyakit lain yang sudah ditemukan vaksinnya pun rata-rata berkurang sampai di atas 90 persen. Bahkan cacar dan polio hilang sepenuhnya atau berkurang sampai 100 persen saat ini.

"Lalu ada konsep Herd Immunity. Vaksin ini juga bisa melindungi masyarakat sekitar kita, karena ada beberapa kelompok orang yang tidak bisa divaksin karena alasan kesehatan, gangguan kekebalan tubuh misalnya, sehingga orang ini bergantung pada orang yang sudah diimunisasi," kata Endah.

Masyarakat juga diminta agar tidak mengkhawatirkan adanya kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI). Efek yang terjadi setelah imunisasi memang bisa disebabkan banyak hal, seperti reaksi alergi, salah teknik penyuntikan, hingga kejadian kebetulan.

Endah menyebut, kejadian ikutan yang paling umum terjadi pasca imunisasi adalah reaksi ringan seperti nyeri dan bengkak di sekitar lokasi penyuntikan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Vaksin dan Imunisasi Sangat Penting, Masyarakat Diminta Tak Termakan Hoaks

Vaksin dan Imunisasi Sangat Penting, Masyarakat Diminta Tak Termakan Hoaks

Bisnis | Rabu, 25 November 2020 | 07:00 WIB

Vaksinasi Covid-19, Erick Thohir: Kerahasiaan Data Pribadi Kami Jaga

Vaksinasi Covid-19, Erick Thohir: Kerahasiaan Data Pribadi Kami Jaga

Jabar | Selasa, 24 November 2020 | 17:32 WIB

Vaksinasi Covid-19, Erick Pastikan Kerahasiaan Data

Vaksinasi Covid-19, Erick Pastikan Kerahasiaan Data

News | Selasa, 24 November 2020 | 17:25 WIB

Infrastruktur dan SDM Indonesia Siap Lakukan Vaksinasi COVID-19

Infrastruktur dan SDM Indonesia Siap Lakukan Vaksinasi COVID-19

Bisnis | Senin, 23 November 2020 | 20:21 WIB

Persiapan Vaksinasi Covid-19, Menkes: Kami Bikin Simulasi Rutin

Persiapan Vaksinasi Covid-19, Menkes: Kami Bikin Simulasi Rutin

Banten | Senin, 23 November 2020 | 15:53 WIB

Antisipasi Kendala, Menkes Minta Jajarannya Bikin Simulasi Vaksinasi Corona

Antisipasi Kendala, Menkes Minta Jajarannya Bikin Simulasi Vaksinasi Corona

News | Senin, 23 November 2020 | 15:41 WIB

Terkini

Sopir Angkot M44 Protes Rute Tumpang Tindih, Dishub DKI Siapkan Evaluasi Mikrotrans 48A

Sopir Angkot M44 Protes Rute Tumpang Tindih, Dishub DKI Siapkan Evaluasi Mikrotrans 48A

News | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 12:58 WIB

Anak Imigran Afrika-Maroko Jebol Perbatasan Ceuta Spanyol Terancam Pelecehan dan Kekerasan

Anak Imigran Afrika-Maroko Jebol Perbatasan Ceuta Spanyol Terancam Pelecehan dan Kekerasan

News | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 12:57 WIB

Bukan Sekadar Salah Ketik, Komentar Nirempati Nakes Dinilai Cerminan Krisis Literasi Media

Bukan Sekadar Salah Ketik, Komentar Nirempati Nakes Dinilai Cerminan Krisis Literasi Media

News | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 12:52 WIB

Guru dan Manajer Perusahaan Asal India Selundupkan Ganja Senilai Rp1,5 Miliar di Bandara Bali

Guru dan Manajer Perusahaan Asal India Selundupkan Ganja Senilai Rp1,5 Miliar di Bandara Bali

Bali | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 12:52 WIB

Tiga Rumah di Jombang Ludes Terbakar, Diduga Dipicu Korsleting Listrik

Tiga Rumah di Jombang Ludes Terbakar, Diduga Dipicu Korsleting Listrik

Jatim | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 12:51 WIB

IHSG Masih Senang Bertengger di Level 6.300, ISAT Melesat di Sesi I

IHSG Masih Senang Bertengger di Level 6.300, ISAT Melesat di Sesi I

Bisnis | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 12:51 WIB

Festival vs Tribun, Mana Tiket yang Paling Worth It Buat Nonton Maroon 5?

Festival vs Tribun, Mana Tiket yang Paling Worth It Buat Nonton Maroon 5?

Your Say | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 12:50 WIB

Serangan Siber Terus Meningkat, Perlindungan Data Pribadi Tak Bisa Lagi Hanya Andalkan Teknologi

Serangan Siber Terus Meningkat, Perlindungan Data Pribadi Tak Bisa Lagi Hanya Andalkan Teknologi

Lifestyle | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 12:48 WIB

Gaji ASN Mataram Terancam Hanya Sampai Oktober 2026, Sekda Ungkap Penyebabnya

Gaji ASN Mataram Terancam Hanya Sampai Oktober 2026, Sekda Ungkap Penyebabnya

Bali | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 12:45 WIB

TV 98 Inci Rp39 Juta Meluncur! Xiaomi Bawa QD-Mini LED dan Gaming 288Hz

TV 98 Inci Rp39 Juta Meluncur! Xiaomi Bawa QD-Mini LED dan Gaming 288Hz

Tekno | Jum'at, 07 Agustus 2026 | 12:44 WIB

×