Epidemiolog: Jumlah Sperma Global Menurun, Manusia Bisa Terancam Punah

Cesar Uji Tawakal, Rosiana Chozanah

Senin, 01 Maret 2021 | 08:35 WIB
Epidemiolog: Jumlah Sperma Global Menurun, Manusia Bisa Terancam Punah
Ilustrasi sperma. (Shutterstock)

Suara.com - Ahli epidemiologi lingkungan dan reproduksi di Icahn School of Medicine, Mount Sinai, New York, Shann Swan, mengatakan jumlah sperma yang turun dan perubahan perkembangan seksual mengancam kelangsungan hidup manusia. Hal itu juga menyebabkan krisis kesuburan.

Dalam buku barunya, Countdown, Swan memperingatkan krisis kesuburan di masa depan dapat menimbulkan ancaman global yang sebanding dengan krisis iklim.

"Kondisi reproduksi saat ini tidak dapat berlanjut lebih lama lagi tanpa mengancam kelangsungan hidup manusia," tulisnya, dilansir The Guardian.

Buku ini dibuat setelah Swan melakukan penelitian pada 2017. Studinya menunjukkan jumlah sperma di negara barat telah anjlok hingga 59% antara tahun 1973 hingga 2011, dan menjadi berita utama global.

Dalam buku ini, Swan dan rekan penulisnya, Stacey Colino, mengeksplorasi bagaimana kehidupan modern mengancam jumlah sperma, mengubah perkembangan reproduksi pria dan wanita serta membahayakan kehidupan manusia.

Sperma bergerak memutar seperti bor (YouTube/Polymaths Lab-University of Bristol)
Sperma bergerak memutar seperti bor (YouTube/Polymaths Lab-University of Bristol)

Menurut mereka, gaya hidup dan paparan bahan kimia telah mengubah dan mengancam perkembangan seksual serta kesuburan manusia, menjadikannya sebagai spesies yang terancam punah.

"Dari lima kriteria yang mungkin untuk membuat spesies terancam punah, keadaan manusia saat ini memenuhi setidaknya tiga (kriteria)," imbuh Swan.

Antara 1964 hingga 2018, tingkat kesuburan global turun dari 5,06 kelahiran per wanita menjadi 2,4. Sekarang, kira-kira separuh negara di dunia memiliki tingkat kesuburan di bawah 2,1.

Kontrasepsi, perubahan budaya, dan biaya memiliki anak merupakan tiga faktor penyebabnya. Namun ada indikator biologis lainnya, yakni meningkatnya angka keguguran, lebih banyak kelainan genital pada anak laki-laki dan pubertas dini pada anak perempuan.

baca juga

Swan menyalahkan semua bahan kimia dalam plastik, kosmetik, dan pestisida, yang memengaruhi endokrin seperti ftalat dan bisphenol-A.

“Bahan kimia di lingkungan kita dan praktik gaya hidup yang tidak sehat di dunia modern menganggu kesembangan hormonal, menyebabkan berbagai tingkat kerusakan reproduksi," lanjutnya.

Dia mengatakan faktor seperti merokok tembakau, ganja, dan obesitas yang meningkat juga berperan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

4 Zat Ini Menambah Jumlah Produksi Sperma Pria

4 Zat Ini Menambah Jumlah Produksi Sperma Pria

Your Say | Kamis, 25 Februari 2021 | 14:29 WIB

Suami Ditahan Israel, Wanita Ini Lahirkan Bayi Hasil Sperma Selundupan

Suami Ditahan Israel, Wanita Ini Lahirkan Bayi Hasil Sperma Selundupan

News | Jum'at, 19 Februari 2021 | 19:12 WIB

Ingin Jadi Ibu, Dokter Transgender Bekukan Sperma Sebelum Operasi Kelamin

Ingin Jadi Ibu, Dokter Transgender Bekukan Sperma Sebelum Operasi Kelamin

News | Rabu, 17 Februari 2021 | 13:46 WIB

Terkini

Komisi III DPR Targetkan RUU Perampasan Aset Disahkan 15 Desember 2026

Komisi III DPR Targetkan RUU Perampasan Aset Disahkan 15 Desember 2026

News | Rabu, 23 September 2026 | 18:09 WIB

Viral Kakek Jepang 90 Tahun Punya Badan Berotot: Rahasianya Susah Susah Gampang

Viral Kakek Jepang 90 Tahun Punya Badan Berotot: Rahasianya Susah Susah Gampang

News | Rabu, 23 September 2026 | 18:08 WIB

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan

Lifestyle | Rabu, 23 September 2026 | 18:06 WIB

Ketika Skuad Rp400 Miliar Jadi Beban: Menatap Efek Etalase Timnas Indonesia

Ketika Skuad Rp400 Miliar Jadi Beban: Menatap Efek Etalase Timnas Indonesia

Your Say | Rabu, 23 September 2026 | 18:05 WIB

Little Bee and the Bloom: Petualangan Lebah Kecil Mengenal Keajaiban Alam

Little Bee and the Bloom: Petualangan Lebah Kecil Mengenal Keajaiban Alam

Your Say | Rabu, 23 September 2026 | 18:00 WIB

Medsos Jadi Etalase Bisnis Konten Seksual, Perhatian Penonton Bisa Dikomodifikasi

Medsos Jadi Etalase Bisnis Konten Seksual, Perhatian Penonton Bisa Dikomodifikasi

Jogja | Rabu, 23 September 2026 | 17:59 WIB

BRI InFrame 2026 Soroti UMKM, Inklusi Keuangan Hingga Ekonomi Pesisir

BRI InFrame 2026 Soroti UMKM, Inklusi Keuangan Hingga Ekonomi Pesisir

Lampung | Rabu, 23 September 2026 | 17:56 WIB

Pakar Hukum Bongkar Bahaya Tersembunyi di Balik Perpres Tata Kelola Timah Babel

Pakar Hukum Bongkar Bahaya Tersembunyi di Balik Perpres Tata Kelola Timah Babel

Video | Rabu, 23 September 2026 | 17:55 WIB

Lagi-lagi Antre Solar Makan Korban, Petugas SPBU di Mamuju Dibacok Sopir Truk

Lagi-lagi Antre Solar Makan Korban, Petugas SPBU di Mamuju Dibacok Sopir Truk

Sulsel | Rabu, 23 September 2026 | 17:55 WIB

Dari 'Bantuin' Jadi 'Kerjain': Bahaya Ketergantungan AI bagi Berpikir Kritis

Dari 'Bantuin' Jadi 'Kerjain': Bahaya Ketergantungan AI bagi Berpikir Kritis

Your Say | Rabu, 23 September 2026 | 17:53 WIB

×