- Sosiolog UGM, Odam Asdi Artosa, menyatakan bahwa lomba esports seperti Mobile Legends kini mulai masuk dalam perayaan 17 Agustus di lingkungan kampung.
- Kehadiran esports pada Sabtu (8/8/2026) dinilai sebagai bentuk adaptasi tradisi terhadap disrupsi digital yang tidak mengikis semangat gotong royong antarwarga.
- Transformasi dari permainan fisik ke digital tetap mempertahankan substansi kerja sama tim, strategi, dan ruang perjumpaan sosial secara langsung.
Suara.com - Perayaan HUT Kemerdekaan RI tak lagi hanya identik dengan balap karung, makan kerupuk, panjat pinang, atau lomba kelereng. Di tengah penetrasi teknologi digital, lomba esports seperti Mobile Legends dan PUBG mulai ikut masuk ke lingkungan kampung sebagai bagian dari perayaan 17 Agustus.
Tidak jarang fenomena tersebut memunculkan perdebatan kultural. Sebagian melihat masuknya esports sebagai tanda bergesernya cara generasi muda berkumpul, sementara pihak lain menilainya sebagai bentuk adaptasi tradisi terhadap perubahan zaman.
Namun apa yang sebenarnya berubah dari semua itu?
Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Odam Asdi Artosa menilai perubahan tersebut bukan fenomena yang tiba-tiba muncul.
Integrasi teknologi digital yang semakin kuat telah mengubah pola permainan dan interaksi generasi muda, termasuk dalam momentum perayaan HUT RI.
"Kalau melihat perubahan ini sendiri sebenarnya kita bisa melihat dari disrupsi pertama ya, digital dan internet, itu kan sangat mempengaruhi," kata Odam kepada Suara.com, Sabtu (8/8/2026).
Gen Z dan Era Platform Society
Dipaparkan Odam, sebelum disrupsi digital, permainan dalam perayaan kemerdekaan lebih banyak menggunakan aktivitas fisik seperti balap karung hingga panjat pinang.
Namun, perkembangan internet membuat permainan berbasis platform digital semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari generasi muda.
Ia mengaitkan fenomena itu dengan konsep network society dari Manuel Castells dan platform society dari Jose van Dijk.
Menurutnya, kehidupan masyarakat saat ini semakin bergantung pada platform digital, termasuk platform permainan daring.
"Jadi lomba-lomba itu banyak yang mengimplementasikan lomba-lomba ala esports," ucapnya.
Perubahan tersebut, kata Odam, turut mendapat legitimasi. Mengingat esports telah diposisikan sebagai salah satu bentuk olahraga.
Maka dari itu, penerapannya tidak hanya ditemukan dalam kompetisi olahraga tingkat internasional seperti Asian Games atau SEA Games, tetapi juga mulai muncul dalam kegiatan masyarakat di tingkat lokal.
"Sudah menjadi hal yang umum ketika kemudian pemerintah kita juga ternyata mengafirmasi bahwa kegiatan-kegiatan yang sifatnya game ini sebagai kegiatan yang berbentuk olahraga," tuturnya.