Tuntut Ilmu Setinggi Langit Saat Pandemi, Sekolah Tatap Muka Solusinya?

M. Reza Sulaiman, Tim Liputan Khusus

Senin, 12 April 2021 | 07:50 WIB
Tuntut Ilmu Setinggi Langit Saat Pandemi, Sekolah Tatap Muka Solusinya?
Cover Liputan Khas Sekolah Tatap Muka. (Dok. Iqbal/Suara.com)

Suara.com - Surat Keputusan Bersama 4 Menteri menyatakan sekolah wajib melakukan pembelajaran tatap muka, usai tenaga pendidik menerima vaksin Covid-19 dari pemerintah.

Keputusan ini ditindaklanjuti oleh Pemerintah Daerah di tingkat provinsi, yang melakukan uji coba sekolah tatap muka secara terbatas. Terbaru, pemerintah DKI Jakarta mulai melakukannya pada Rabu (7/4) kemarin.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan, ada 85 sekolah yang menjadi lokasi uji coba. Jika hasil uji coba berjalan dengan baik, kebijakan ini akan diperluas.

"Insya Allah besok akan diujicoba tatap muka sekolah sementara selama dua bulan ke depan, mudah-mudahan bisa meyakinkan kita semua bahwa sapras bisa disiapkan dengan baik termasuk pendidik. Jika ini berhasil, maka ke depan kita mempertimbangkan untuk memperluas kembali," kata Riza di Balai Kota Jakarta, Selasa (6/4) malam.

Riza mengatakan sekolah tatap muka aman dilakukan asalkan sekolah mengikuti syarat dan protokol kesehatan yang diperlukan.

Berdasarkan SKB 4 Menteri, sejumlah protokol kesehatan yang wajib ditaati antara lain:

  • Kondisi kelas harus memenuhi jarak minimal 1,5 meter, dengan jumlah peserta didik terbatas.
  • Jadwal pembelajaran dilakukan dengan sistem bergiliran.
  • Wajib melakukan 3M, termasuk memakai masker, mencuci tangan pakai sabun, dan menjaga jarak.
  • Kantin tidak boleh beroperasi
  • Tidak ada kegiatan ekstrakulikuler dan olahraga

"Yakinkan anak-anak kita bahwa melaksanakan prokes itu tidak sulit, kemudian dengan menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak itu saja cukup untuk menjaga dari Covid-19," tutur Riza.

Risiko Klaster Sekolah

Dengan berjalannya uji coba sekolah tatap muka di sejumlah daerah, kekhawatiran terkait munculnya klaster Covid-19 baru dari sekolah pun mencuat.

baca juga

Kritik datang dari Satuan Tugas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang meminta uji coba dihentikan.

Prof Zubairi Djoerban, Ketua Satgas Covid-19 dari IDI, menyebut uji coba ini berisiko membahayakan nyawa bukan hanya siswa dan peserta didik, tapi juga guru dan tenaga kependidikan lainnya.

Hal ini dikarenakan angka positivity rate (angka penularan(Covid-19) di Indonesia masih di atas 10 persen.

"Pasien Covid-19 baru masih terus muncul. Walaupun sudah berkurang, tapi belum aman. Nanti kalau sudah 5 persen aman, kurang dari 10 persen agak aman, namun berbahaya tapi bisa untuk uji coba. Kalau di atas 10 persen seperti sekarang, ya mboten. Nanti dululah," ungkap Prof. Zubairi saat dihubungi Suara.com.

Dokter yang akrab disapa Prof. Beri itu berharap pemerintah segera mencabut uji coba sekolah tatap muka, dan tidak menunggu sampai semua sekolah di Indonesia jadi tempat penularan Covid-19, karena keadaannya masih berbahaya.

Seharusnya kata dia, beberapa kasus penularan Covid-19 setelah pembukaan sekolah di daerah bisa jadi cerminan.

"Nggak usah menunggu seluruh sekolah tertular dulu baru dibatalin. Udah banyak banget kasusnya dari Sumatera Barat, Kendal, Pulau Batam, sampai 3 sekolah di tutup," kata Prof. Beri.

Vaksin Bukan Solusi

Adanya vaksin Covid-19 menjadi salah satu alasan pemerintah membolehkan adanya sekolah tatap muka. Namun menurut sejumlah pakar, vaksin bukanlah solusi.

INFOGRAFIS: 3 Gejala Klasik Covid-19 Pada Anak
INFOGRAFIS: 3 Gejala Klasik Covid-19 Pada Anak

Pakar epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dr. Pandu Riono, MPH, Ph.D, mengatakan bahwa vaksinasi bagi tenaga pendidik tidak bisa menjadi modal untuk membuka sekolah.

Sebab jika hanya guru yang divaksinasi, fungsi perlindungan belum menyeluruh.

"Karena kan kalau melindungi masyarakat sekolah yang berinteraksi setiap hari mesti dilindungi semua. Penularannya bisa dari guru, orang tua, dan juga siswa kan? Kan tiap hari orang berinteraksi dan juga kumpul, pagi anaknya ketemu guru, sorenya ketemu orang tua," tuturnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh dr. Lucia Nauli Simbolon, Sp.A, anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). dr Lucia mengingatkan bahwa potensi penularan Covid-19 masih tinggi di sekolah meskipun guru sudah divaksinasi.

Apalagi, belum seluruh kelompok masyarakat mendapatkan vaksinasi Covid-19. Satu-satunya cara mencegah penularan adalah dengan memastikan protokol kesehatan tetap dijalankan.

"Prokes tetap harus dijaga. Kemudian pelacakan kalau ada kasus positif bagaimana. Siap enggak nantinya kalau ada (kasus) positif, (sekolah) akan buka tutup seperti halnya yang terjadi di luar negeri," katanya.

Pentingnya protokol kesehatan bukan hanya diterapkan untuk siswa dan peserta didik. Pandu Riono menyebut, guru pun wajib taat melakukan protokol kesehatan.

Jangan sampai gara-gara sudah divaksinasi, maka sekolah mengabaikan protokol kesehatan.

"Jangan tergantung sama vaksin, jadi tergantung konsep pencegahan di luar vaksin. Seperti cuci tangan, memakai masker selama pelajaran, ruangannya harus diatur, dan jangan masuk sekolah tiap hari. Disiplin itu yang mesti ditetapkan, jangan sampai gurunya sudah divaksinasi nggak mau pakai masker," tambahnya.

Orangtua Boleh Memilih

Keputusan membuka sekolah sudah diwajibkan. Namun Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menegaskan bahwa orangtua punya hak untuk tidak mengizinkan anak mengikuti sekolah tatap muka.

"Itu sudah jelas tidak boleh dipaksakan, orang tua punya hak terakhir untuk mengirim anaknya untuk tatap muka atau lanjut PJJ. Jadi tidak boleh sekolah atau siapapun memaksa anak untuk pergi ke sekolah," kata Nadiem dalam diskusi KPCPEN, Kamis (1/4) lalu.

Dia juga menyebut dalam SKB tersebut mewajibkan sekolah tetap memberikan dua opsi yakni pembelajaran tatap muka (offline) atau jarak jauh (online) sesuai dengan izin orang tua atau wali murid.

Namun, Nadiem juga mengingatkan bahwa pembukaan sekolah bisa dilakukan dengan rotasi, misal hanya 3 hari seminggu ke sekolah untuk mengurangi potensi penularan akibat pembelajaran tatap muka.

"Karena sekarang rotasi sistemnya, mau tidak mau harus ada dua sistem, apa yang mereka kerjakan di rumah dan apa yang mereka kerjakan di kelas ya mereka ke kelas, mau tidak mau karena dibatasi maksimal dengan rotasi ya memang harus ada dua kanal pembelajaran tersebut dalam masa transisi ini," tutupnya.

Sementara itu, dr Lucia menilai bahwa pembelajaran jarak jauh alias sekolah daring masih menjadi opsi paling tepat dalam penyelenggaraan pendidikan di tengah pandemi.

"IDAI memang menyarankan PJJ dalam rangka pencegahan penularan covid. Kalau yang concern-nya pencegahan penularan covid jelas lebih aman. Tapi kalau concern-nya lebih ke pendidikan dan lain-lain, mungkin berbeda lagi," kata anggota IDAI dr. Lucia Nauli Simbolon, Sp.A., saat dihubungi suara.com, Kamis (8/4/2021).

Dokter Lucia menyarankan, orangtua sebaiknya menimbang positif dan negatif dari kedua metode belajar tersebut. Tetapi, jika orangtua mengizinkan sekolah tatap muka, terpenting adalah memastikan anak disiplin menerapkan protokol kesehatan.

"Kemudian ditinjau lagi apakah orangtua atau anak tersebut serumah dengan kakek atau nenek yang mungkin ada penyakit penyerta yang lebih berat. Terus dilihat juga apakah orang serumahnya mobilitasnya cukup tinggi atau tidak, kan jadi resikonya bisa kemana-mana. Diyakinkan anak bisa menjalankan protokol kesehatan dengan baik," paparnya.

Orangtua juga perlu memastikan sekolah taat dengan imbauan pemerintah untuk tidak membuka kantin juga mengaktifkan kegiatan ekstrakulikuler. Dokter Lucia mengungkapkan bahwa kasus Covid-19 pada anak di Indonesia masih cukup tinggi. Sehingga pencegahan penularan virus corona harus selalu digalakan.

Keputusan mengenai sekolah tatap muka atau pun secara dring memang selalu menimbulkan pro kontra, tambah dokter Lucia. Sehingga menurutnya, orangtua perlu mempertimbangkan manfaat juga resiko dari berbagai aktor untuk menentukan keputusan proses belajar mengajar tersebut.

"Sampai Maret kemarin, konfirmasi positif di Indonesia untuk angka anak-anak kurang dari 6 tahun maupun 6 sampai 18 tahun masih 0,6 persen. Itu kan masih cukup tinggi," ucapnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dari Sekolah hingga UMKM, Internet Mengubah Kehidupan Warga di Daerah 3T

Dari Sekolah hingga UMKM, Internet Mengubah Kehidupan Warga di Daerah 3T

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 23:50 WIB

Dibuka Kesempatan Buat Mahasiswa Belajar Fashion Langsung di Kota Mode Dunia

Dibuka Kesempatan Buat Mahasiswa Belajar Fashion Langsung di Kota Mode Dunia

Lifestyle | Rabu, 12 Agustus 2026 | 17:25 WIB

Panduan Lengkap Susunan Upacara Hari Pramuka di Sekolah, Tertib dan Khidmat!

Panduan Lengkap Susunan Upacara Hari Pramuka di Sekolah, Tertib dan Khidmat!

Lifestyle | Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:44 WIB

Jangan Cuma Bangun Gedung! Sekolah Rakyat Harus Fokus pada Kualitas dan Akses

Jangan Cuma Bangun Gedung! Sekolah Rakyat Harus Fokus pada Kualitas dan Akses

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 13:40 WIB

Jangan Tunggu Nanti, Ini Trik Jitu Mengatur Waktu Belajar US, TKA, dan UTBK Sejak Dini

Jangan Tunggu Nanti, Ini Trik Jitu Mengatur Waktu Belajar US, TKA, dan UTBK Sejak Dini

Your Say | Rabu, 12 Agustus 2026 | 13:25 WIB

Kepala BGN Minta Guru Santap MBG: Perlukah Sekolah Mengisi Celah Sistem?

Kepala BGN Minta Guru Santap MBG: Perlukah Sekolah Mengisi Celah Sistem?

Your Say | Rabu, 12 Agustus 2026 | 19:00 WIB

Terungkap, Ratusan Senjata Angin di Sekolah Jaksel Berawal dari Olahraga Air Rifle

Terungkap, Ratusan Senjata Angin di Sekolah Jaksel Berawal dari Olahraga Air Rifle

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 14:58 WIB

Ratusan Senjata di Sekolah Islam Harapan Ibu Terkait Rencana Kerja Sama Olahraga Menembak

Ratusan Senjata di Sekolah Islam Harapan Ibu Terkait Rencana Kerja Sama Olahraga Menembak

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 14:29 WIB

Temuan Senjata di Sekolah, PJJ Jadi Langkah Tepat Jaga Keamanan Siswa

Temuan Senjata di Sekolah, PJJ Jadi Langkah Tepat Jaga Keamanan Siswa

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 13:33 WIB

BGN Larang Siswa Bawa Pulang MBG: Makanan Tak Terpantau Bisa Berujung Keracunan

BGN Larang Siswa Bawa Pulang MBG: Makanan Tak Terpantau Bisa Berujung Keracunan

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:20 WIB

Terkini

Menolak Bungkam! Rakyat Kecil di Kota Bogor Tuntut Keadilan Hak Tanah yang Diduga Diserobot

Menolak Bungkam! Rakyat Kecil di Kota Bogor Tuntut Keadilan Hak Tanah yang Diduga Diserobot

Bogor | Kamis, 13 Agustus 2026 | 23:39 WIB

Tukang Cukur dan Camat Sudah Minta Maaf, Netizen Masih Buru Pelaku Perekam Video Viral

Tukang Cukur dan Camat Sudah Minta Maaf, Netizen Masih Buru Pelaku Perekam Video Viral

Bogor | Kamis, 13 Agustus 2026 | 23:31 WIB

Tanggapi Insiden Tukang Cukur di Rancabungur, Bupati Bogor: Mari Bersama Maknai Kemerdekaan

Tanggapi Insiden Tukang Cukur di Rancabungur, Bupati Bogor: Mari Bersama Maknai Kemerdekaan

Bogor | Kamis, 13 Agustus 2026 | 23:14 WIB

Cara Seru Jakarta Ajak Ratusan Pelajar Kenali Pariwisata Berkelanjutan

Cara Seru Jakarta Ajak Ratusan Pelajar Kenali Pariwisata Berkelanjutan

Lifestyle | Kamis, 13 Agustus 2026 | 23:11 WIB

Nekat Panjat Atap Hingga Bakar Dua Motor, Evakuasi Pria ODGJ di Cibadak Sukabumi Menegangkan

Nekat Panjat Atap Hingga Bakar Dua Motor, Evakuasi Pria ODGJ di Cibadak Sukabumi Menegangkan

Jabar | Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:52 WIB

BRI Perluas Akses Pembiayaan KUR Petani di Bengkayang Guna Swasembada Pangan

BRI Perluas Akses Pembiayaan KUR Petani di Bengkayang Guna Swasembada Pangan

Bri | Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:43 WIB

Retribusi Melempem, Benyamin Davnie Bentuk Perseroda 'Citra Anggrek Mandiri' Kelola Pasar Tangsel

Retribusi Melempem, Benyamin Davnie Bentuk Perseroda 'Citra Anggrek Mandiri' Kelola Pasar Tangsel

Banten | Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:35 WIB

Geledah Jateng-Jatim, KPK Cari Bukti untuk Tetapkan Tersangka Baru dalam Kasus Suap Pajak

Geledah Jateng-Jatim, KPK Cari Bukti untuk Tetapkan Tersangka Baru dalam Kasus Suap Pajak

News | Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:29 WIB

Bupati Brebes Temui Siswa Sespimmen Polri, Bahas Persoalan Pupuk Subsidi

Bupati Brebes Temui Siswa Sespimmen Polri, Bahas Persoalan Pupuk Subsidi

Jawa Tengah | Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:28 WIB

Kembalikan Hak Pejalan Kaki, Pemkot Bandung Tertibkan Bangunan Liar di Jalan Rajawali

Kembalikan Hak Pejalan Kaki, Pemkot Bandung Tertibkan Bangunan Liar di Jalan Rajawali

Jabar | Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:26 WIB

×